oleh

Bareskrim Polri Ungkap Produksi serta Peredaran Obat dan Jamu Ilegal

POSKOTA.CO – Penyidik Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Bareskrim Polri mengungkap produksi dan peredaran obat dan jamu palsu. Obat itu diproduksi di sebuah rumah di wilayah Klaten, Jawa Tengah.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Polri Brigadir Jenderal Awi Setiyono mengatakan, home industri tersebut membuat obat dan jamu tradisional ilegal tanpa izin.

“Pelaku meracik jamu dan obat tradisional tanpa melalui cara pembuatan obat yang baik dan tanpa izin edar,” kata Brigjen Awi, Senin (16/11/2020).

Pada 20 Oktober 2020, polisi mengamankan seorang tersangka inisial YS yang diketahui pernah sekolah asisten apoteker sehingga berani meracik obat dan jamu ilegal. Hasil pemeriksaan diketahui, YS sudah menjalankan bisnis tersebut sejak 2018.

Hasil penjualan obat palsu itu, tersangka YS mendapat keuntungan ratusan juta rupiah. “Setelah diinterogasi sejak tahun 2018 dengan omzet Rp100-150 juta,” ujarnya.

Kasubdit I Dittipiter Bareskrim Polri Kombes Pipit Rismanto menjelaskan, tersangka dalam membuat obat palsu dengan mencampur beberapa bahan salah satunya tepung.

“Ada jamu yang harusnya diproduksi tradisional malah diberikan obat kimia. Inilah modus mereka memproduksi dua bahan kimia obat dan bahan nonobat,” ungkap Kombes Pipit.

Tersangka YS menjualkan hasil racikan obat dan jamu ilegal di wilayah Klaten, Jawa Tengah dan ada juga yang disebar ke beberapa wilayah lain.

Polisi mengamankan sejumlah barang bukti yang ada di lokasi seperti, tepung, peralatan meracik obat, hingga obat sudah siap edar dan ribuan saset jamu yang sudah siap edar.

Tersangka dijerat Pasal 197 UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, dengan ancaman penjara maksimal 15 tahun. Tersangka juga disalahkan memperdagangkan barang yang tidak memenuhi atau tidak sesuai standar yang dipersyaratkan di perundang-undangan sebagai mana pada Pasal 8 ayat 1 huruf a jo Pasal 62 ayat 1 UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dengan ancaman pidana penjara 5 tahun. (omi)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *