JAKARTA — Industri perfilman kembali menyuguhkan film horor berjudul “Rambut Sewu: Satu Langkah Getih”. Film garapan sutradara Hanny R Saputra dan Produser M Zakir Rasyidin tersebut resmi merilis Official Poster, trailer, serta Original Soundtrack OST pada Selasa (6/10/2026). Film ini dijadwalkan tayang di bioskop mulai 5 November 2026.
Dalam keterangan persnya, Produser film M Zakir Rasyidin menjelaskan bahwa Rambut Sewu: Satu Langkah Getih diangkat dari kisah nyata yang berlatar belakang mitos Jawa. Cerita tersebut menarik untuk diadaptasi ke layar lebar karena tidak hanya mengusung horor supranatural, tetapi juga memadukan unsur thriller dan makna filosofis.
“Rambut Sewu Satu Langkah Getih n ikan sebenarnya, selain ini film horor yang supranatural dan juga ada balutan thriller, film ini juga banyak makna filosofisnya,” ujarnya di Jakarta, Selasa (6/10/2026).
Ia menjelaskan, istilah “Rambut Sewu” memiliki filosofi tersendiri. Jika satu helai rambut dianggap rapuh, kumpulan seribu rambut justru memiliki kekuatan untuk mengikat hingga menyeret seseorang. Filosofi tersebut kemudian berkaitan dengan kisah para tokoh yang mendalami ritual hingga terjebak dalam kutukan mematikan. Sementara itu, “Satu Langkah Getih” menggambarkan filosofi tentang sebuah pilihan atau keputusan yang keliru.
Menurut Zakir, satu langkah yang salah dapat membawa seseorang ke dalam situasi yang membahayakan dan sulit untuk dilepaskan. Karena itu, judul tersebut sekaligus menjadi pengingat agar seseorang berhati-hati dalam menentukan pilihan dan langkah dalam hidup.
Film horor Rambut Sewu tidak hanya mengandalkan adegan jump scare dan teror supranatural untuk menghadirkan ketegangan kepada penonton. Di balik kisah horornya, film ini membawa cerita mengenai luka masa lalu, dendam, pengorbanan, serta perjuangan seseorang dalam mempertahankan keluarganya.
Hal tersebut terungkap dari cerita para pemain ketika membagikan pengalaman mereka selama menjalani proses produksi Rambut Sewu. Sejumlah pemeran mengungkap bahwa tantangan terbesar dalam film ini bukan sekadar menghadirkan rasa takut, melainkan memahami latar belakang setiap karakter dan alasan di balik berbagai peristiwa supranatural yang terjadi.
Salah satu hal yang paling menarik bagi para pemain adalah bagaimana unsur horor dalam film tersebut dibangun berdampingan dengan cerita personal para karakternya.
Bukan Sekadar Menakut-nakuti
Taskya Namya, salah satu pemeran utama Rambut Sewu, mengatakan bahwa ketika pertama kali membaca skenario, dirinya tidak hanya tertarik pada aspek horor dan adegan jump scare. Ia justru lebih penasaran dengan latar belakang karakter Marni serta alasan yang membuat sosok tersebut menjadi bagian penting dalam cerita.
Menurut Taskya, karakter Marni memiliki kisah masa lalu yang cukup kompleks. Ada rasa dendam, luka, sekaligus pengorbanan yang membuat karakter tersebut tidak bisa dilihat hanya sebagai sosok menyeramkan. “Kalau di film Rambut Sewu, aku lebih melihat sisi background story-nya. Apa yang membuat Marni menjadi seperti itu. Itu yang menurut aku menarik untuk diulik,” ujar Taskya.
Ia pun banyak berdiskusi dengan sutradara Hanny serta lawan mainnya, Wavi Zihan, untuk memahami karakter Marni secara lebih mendalam.
Salah satu tantangan yang dirasakan Taskya adalah ketika karakter Marni berkaitan langsung dengan karakter lain melalui adegan kerasukan. Menurutnya, proses tersebut membutuhkan eksplorasi bersama agar hubungan antarkarakter tetap terasa meyakinkan. “Mostly aku sering ketemu sama Wavi. Ada beberapa scene karakter Marni merasuki Sundari. Jadi kami harus mengulik bersama bagaimana hubungan dan karakter itu,” katanya.
Bagi Taskya, hal yang membuatnya tertarik pada Marni adalah motivasi karakter tersebut dalam membela keluarga. Ia melihat Marni sebagai sosok yang rela melakukan apa pun demi keluarganya. Bahkan ketika keluarganya dihina atau berada dalam kondisi sulit, Marni tetap memilih berdiri di depan untuk melindungi mereka.
“Menurut aku, apa yang dilakukan Marni bisa dilakukan banyak orang, termasuk Taskiah. Ketika aku membela keluarga, apa pun yang terjadi, aku akan pasang badan untuk keluarga,” ungkapnya.
Dendam dan Pengorbanan Menjadi Benang Merah
Taskya menilai luka yang dimiliki Marni sebenarnya cukup dekat dengan kehidupan manusia. Rasa kehilangan dan kecintaan yang begitu besar terhadap keluarga dapat membuat seseorang mengambil keputusan ekstrem. Karena itu, ia berharap penonton tidak hanya melihat Marni sebagai sosok yang menakutkan, tetapi juga memahami alasan di balik tindakannya.
“Yang menarik adalah kenapa Marni melakukan semua itu. Perjuangan tentang keluarganya menurut aku lebih dikuatkan di film Rambut Sewu,” tutur Taskya.
Karakter tersebut juga memberikan tantangan tersendiri karena Taskya harus memerankan sosok seorang kakak yang memiliki beban besar terhadap keluarganya. Sebagai anak pertama, menurutnya, terdapat perasaan bahwa tanggung jawab keluarga berada di pundaknya. Hal tersebut kemudian menjadi salah satu aspek yang ia gunakan untuk memahami Marni.
“Seorang kakak pertama biasanya merasa semuanya adalah beban dia. Jadi yang tidak boleh dilupakan adalah bagaimana, walaupun Marni punya kekurangan secara fisik, dia tetap mau berjuang untuk keluarganya,” jelasnya.
Pengalaman berbeda dirasakan Wavi yang memerankan karakter dengan tantangan berupa adegan kerasukan tiga entitas. Wavi mengatakan bahwa sejak awal menerima proyek tersebut, ia sudah mengetahui bahwa perannya akan cukup berat. Namun, dukungan dari sutradara dan seluruh tim membuat proses syuting terasa lebih menyenangkan.
Menurutnya, salah satu hal yang paling banyak dibicarakan sejak proses reading adalah bagaimana menghadirkan tiga entitas dengan karakter dan tujuan berbeda. “Ada satu momen kesurupan tiga entitas. Dari proses reading itu sudah menjadi concern aku untuk dibahas bersama teman-teman dan Pak Hany,” kata Wavi.
Ia menjelaskan bahwa masing-masing entitas memiliki latar belakang dan tujuan yang berbeda. Salah satunya hadir untuk menyampaikan pesan yang belum terselesaikan ketika masih hidup. Sementara entitas lainnya berkaitan dengan kemarahan dan konflik yang menjadi bagian dari cerita.
“Ada yang ingin menyampaikan sebuah pesan yang belum terselesaikan selama dia hidup dan aku menjadi mediumnya. Yang satu lagi adalah kesurupan dalam bentuk kemarahan,” ujarnya.
Wavi mengakui bahwa memerankan adegan tersebut bukan pekerjaan mudah. Ia harus melakukan persiapan untuk menghadirkan bentuk kerasukan yang berbeda-beda. Namun, dukungan dari filmmaker dan kru membuat tantangan tersebut terasa lebih ringan. “Lumayan berat, tapi karena disupport filmmaker dan tim yang luar biasa, jadinya tidak terasa berat,” kata Wavi.
Pengalaman serupa juga dirasakan Yusuf Mahardika. Berbeda dengan beberapa pemain lain, film ini menjadi salah satu pengalaman penting baginya karena ia harus berhadapan langsung dengan karakter entitas dalam sebuah film horor.
Yusuf mengaku tidak terlalu banyak bermain dalam film horor sebelumnya. Karena itu, Rambut Sewu menjadi pengalaman baru baginya. “Ini mungkin horror pertama yang aku mainkan dan ketemu dengan entitas. Aku tidak terlalu banyak main film horor, kalau main pun cameo,” ujarnya.
Yusuf bahkan mengaku sebagai pribadi yang cukup penakut. Karena itu, beberapa adegan bersama karakter entitas menjadi pengalaman yang benar-benar menegangkan baginya.
Salah satu adegan yang paling membekas terjadi ketika dirinya harus berhadapan dengan Wavi dalam sebuah adegan di kawasan kebun teh. Menurut Yusuf, penampilan Wavi dalam adegan tersebut begitu meyakinkan sampai-sampai dirinya tidak lagi melihat Wavi sebagai lawan main, melainkan sebagai sosok lain.
“Wavi memang bermain dengan bagus pada saat itu. Aku tidak melihat dia sama sekali sebagai Wavi. Aku melihat dia sebagai makhluk lain,” ungkapnya.
Proses pengambilan gambar yang harus dilakukan berulang kali pun membuat situasi semakin menegangkan. Yusuf mengaku sempat benar-benar ketakutan ketika berada dekat dengan karakter yang dimainkan Wavi. “Jujur aku juga tidak melihat dia karena pakai software. Ternyata aku sudah dekat dan pas sudah dekat dia teriak. Aku juga teriak karena takut,” katanya sambil mengenang proses syuting tersebut.
Sementara itu, Ruth Marini menghadapi tantangan berbeda ketika memerankan seorang ibu bernama Rati. Menurut Ruth, tantangan terbesar bukan hanya berada pada adegan horor, tetapi bagaimana menampilkan kondisi seorang ibu yang secara fisik tidak sepenuhnya sehat namun tetap harus menghadapi anak yang mengalami fase kehilangan dirinya.
“Tantangannya untuk Rati ketika harus menjadi seorang ibu yang mungkin tidak benar-benar sehat kondisi fisiknya, tapi harus menghadapi anak yang mengalami beberapa fase kehilangan dirinya,” jelas Ruth.
Ia juga harus menjaga tensi emosional dalam cerita. Ketika situasi semakin menegangkan, karakter Rati tetap harus menunjukkan kesadaran sebagai seorang ibu.
Ruth mengaku tertarik bergabung dalam Rambut Sewu salah satunya karena kesempatan untuk kembali bekerja bersama sutradara Hanny. Ia mengatakan sudah mengikuti karya-karya Hany sejak lama dan menyambut kesempatan tersebut ketika ditawari terlibat dalam proyek ini.
Tantangan lain datang dari Dayinta Melira yang memerankan Nyai Wonggi, karakter dukun tua yang memiliki peran penting dalam cerita. Menariknya, Dayinta tidak hanya memainkan satu versi karakter tersebut. Ia harus memerankan Nyai Wonggi dalam dua fase berbeda, yakni ketika masih muda dan ketika sudah tua.
Menurut Dayinta, memerankan Nyai Wonggi tua menjadi tantangan tersendiri karena ia harus mengubah suara, gestur, hingga cara bergerak agar benar-benar terasa seperti sosok perempuan lanjut usia. “Aku memainkan dua karakter yang berbeda, yaitu Nyai Wonggi tua dan Nyai Wonggi muda,” ungkap Dayinta.
Untuk mendalami karakter tersebut, ia melakukan banyak diskusi dan bertukar pikiran dengan Hany sebagai sutradara. Menurutnya, proses tersebut membantu membentuk karakter Nyai Wonggi agar tidak sekadar terlihat tua, tetapi juga memiliki jiwa dan kepribadian yang kuat.
Selain jajaran pemain utama, Rambut Sewu juga menghadirkan kelompok karakter yang diperankan oleh Bonar Manalu, Yewern dan Sadana Agung. Ketiganya hadir sebagai trio yang memberikan warna berbeda di tengah cerita horor.
Kisah Bermula dari Upaya Mencari Rumah untuk Sang Ibu
Di balik seluruh elemen horor tersebut, cerita Rambut Sewu berangkat dari persoalan keluarga. Salah satu bagian cerita berkaitan dengan upaya mencari tempat tinggal yang lebih nyaman bagi seorang ibu yang sedang sakit. Namun, rumah yang kemudian ditempati ternyata memiliki masa lalu kelam.
Rumah tersebut sebelumnya pernah dihuni sebuah keluarga yang memiliki hubungan dengan praktik supranatural dan berbagai persoalan mistis. Persoalan dari masa lalu itu ternyata belum benar-benar selesai.
Ketika karakter-karakter dalam cerita mulai tinggal di tempat tersebut, masalah lama kembali muncul dan menyeret mereka ke dalam rangkaian kejadian supranatural.
Situasi tersebut kemudian berkembang menjadi konflik yang lebih besar dan berkaitan dengan masa lalu para entitas yang menghuni atau terkait dengan rumah tersebut.







Komentar