JAKARTA – Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) menggelontorkan bonus miliaran rupiah untuk mengapresiasi keberhasilan merebut dua medali emas, satu perak dan tiga perunggu di Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
Bonus miliaran rupiah diberikan PP PBSI kepada atlet, pelatih, dokter, psikolog hingga petugas cuci baju (loundry) sebagai apresiasi pada acara Syukuran Prestasi Bulutangkis Indonesia, Rabu (7/9/2026), di Pelatnas Cipayung, Jakarta Timur.
Ketua Umum PP PBSI M. Fadil Imran menegaskan bonus uang diberikan sebagai apresiasi atas perjuangan panjang hingga akhirnya mendapatkan dua medali emas, satu perak, dan tiga perunggu di Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Namun dia mengingatkan di depan tantangan berat sudah menanti yakni Olimpiade LA 2028.
Beregu Putra yang menyumbang medali emas mendapat porsi terbesar dalam pembagian bonus tersebut dengan angka 2 miliar rupiah, lalu Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin yang juga meraih medali emas diganjar bonus Rp 1 miliar. Peraih medali perak Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah mendapat 500 Juta Rupiah, sama dengan bonus untuk beregu putri yang sumbang perunggu. Sementara Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri dan Alwi Farhan yang menyumbang medali perunggu, mendapat masing-masing Rp 250 juta.
Selain atlet, pelatih, Kabid Pembinaan dan Prestasi, Manajer tim dan seluruh tim ofisial hingga tukang cuci baju yang juga mendapat apresiasi dengan nilai variatif antara Rp 10 hingga Rp 50 juta.
“Hari ini kita berkumpul dengan satu perasaan yang sama, bersyukur dari Nagoya anak-anak kita membawa pulang dua medali emas, satu perak dan tiga perunggu untuk Indonesia. Tetapi hari ini saya tidak ingin kita bicara tentang enam medali. Saya ingin kita berbicara tentang orang-orang di balik medali itu,” ungkap Fadil.
Pelatih teknik, pelatih fisik, tim performa diantaranya ahli gizi, medis, psikolog, masseur, fisioterapis hingga video analisis dan petugas loundry. Belum lagi seluruh staf dan karyawan pelatnas PBSI yang setiap hari bekerja di kantor, menyiapkan lapangan, menjaga kebersihan, menjaga keamanan, menjaga konsumsi, administrasi dan segala kebutuhan anak-anak kita.
Tanpa mereka, emas tidak mungkin datang. Mungkin wajah mereka tidak masuk televisi. Mungkin mereka tidak pernah naik ke podium tetapi medali yang anak-anak bawa pulang juga menyimpan keringat mereka. “Terima kasih kepada teman-teman yang selama ini begitu berdedikasi mengurus anak-anak kita semua. Terima kasih sudah bekerja dalam diam untuk Merah Putih,” lanjut Fadil.
Fadil mengatakan jalan transformasi adalah jalan yang ia dan jajaran pengurus pilih untuk menjadikan bulutangkis Indonesia sebagai sumber kebanggaan dan kegembiraan bangsa Indonesia.
“Sebagai Ketua Umum PBSI, saya mengatakan bahwa bulutangkis adalah aset bangsa karena bulutangkis telah berkali-kali menjadi sumber kebanggaan dan kegembiraan bangsa Indonesia. Visi yang kami bawa sederhana tapi besar tanggung jawabnya,” kata Fadil.
Untuk menuju ke sana, lanjut Fadil, sejak awal pihaknya telah memilih jalan transformasi. Transformasi pembinaan, transformasi pengelolaan organisasi dan inovasi dan transformasi bagaimana PBSI membangun kolaborasi dengan seluruh ekosistem bulutangkis Indonesia. “Hari ini saya bersyukur, kita mulai melihat tanda-tanda bahwa proses itu bergerak. Tetapi saya ingin garisbawahi, mulai terlihat bukan berarti selesai. Jangan karena hari ini kita diberikan kemenangan, kemudian kita merasa semua sudah baik. Justru kemenangan memberikan kita tanggung jawab yang lebih besar. Masih ada pekerjaan rumah mengenai konsistensi,” tegasnya.
Fadil sadar betul bahwa perjalanan masih panjang dan target terbesar adalah menatap Olimpiade Los Angeles 2028 dengan bidikan medali emas. “Organisasi yang sehat adalah organisasi yang berani melihat kekurangannya dan memperbaikinya. Dulu ketika saya maju sebagai Ketua Umum, saya pernah mengatakan, landscape olahraga dunia berubah. Kita pun harus berbenah, bukan untuk menguasai tetapi untuk memperbaiki. Hari ini prinsip itu tidak berubah,” tegas Fadil. (dk/jo)







Komentar