oleh

Cara Dakwah Rasulullah SAW

“Berita tentang keagungan seseorang, akan selalu lebih besar dari faktanya, terkecuali pada diri Rasulullah SAW, beliau jauh lebih agung dari yang Anda dengar.” (‘A’idh Al-Qarni).

 

TENTANG bagaimana ahklaq Rasulullah SAW di saat memerankan pergaulan sosial.

Ali bin Abi Thalib ra. menceritakan: “Rasulullah SAW. adalah orang yang bermuka manis, lembut budi pekertinya, tawadhu’, tidak bengis, tiada kasar, tiada bersuara keras, tiada berlaku dan berkata keji, tidak suka mencela, dan juga tidak kikir.

Beliau membiarkan (tidak mencela) apa yang tidak disenanginya. Beliau tidak menjadikan orang yang mengharapkan (pertolongannya) menjadi putus asa, tiada pula menolak untuk itu.

Beliau tinggalkan untuk dirinya dari tiga perkara, yaitu: dari perbantahan, menyombongkan diri, dan dari sesuatu yang tidak patut dan selayaknya dilakukan.

Beliau tinggalkan orang lain dari tiga perkara, yaitu: beliau tidak mencela seseorang, beliau tidak membikin malu orang, dan beliau tidak mencari-cari cela dan keaiban orang.

Beliau tidak berbicara melainkan pada sesuatu yang diharapkan ada baiknya. Bila beliau berbicara, semua orang di majelisnya tertunduk, seolah-olah kepala mereka dihinggapi burung.

Bila beliau diam (tidak berbicara), barulah mereka berbicara. Tidak ada yang berbantahan kata di sisinya.

Bila ada yang ingin berbicara dengannya, mereka terlebih dahulu diam memperhatikannya sampai beliau selesai berbicara.

Yang diperbincangkan oleh mereka adalah percakapan yang utama dan berguna. Beliau tertawa terhadap apa yang mereka tertawakan.

Beliau merasa takjub terhadap apa yang mereka herankan. Beliau sabar menghadapi orang asing dengan perkataan dan permintaannya kasar (tidak senonoh).

Sehingga para sahabatnya mengharap kedatangan orang asing seperti itu, karena darinya mendapatkan pelajaran dan manfaat.

Beliau bersabda: ‘bila kalian melihat orang yang mencari kebutuhan, maka bantulah dia.’

Beliau tidak mau menerima pujian orang kecuali menurut yang sepatutnya.

Beliau juga tidak mau memutuskan pembicaraan seseorang, kecuali orang itu melanggar batas.

Apabila sesorang berbuat itu, maka dipotongnya pembicaraan tersebut dengan melarangnya, atau dengan bediri (meninggalkan majelis).” (HR. Tirmidzi).

Dalam sebuah hadits shahih diriwayatkan bahwa seseorang bertanya kepada ‘Aisyah RA tentang akhlaq Nabi Muhammad SAW, ‘Aisyah balik menanyakan kepada orang itu apakah ia membaca Al Qur’an.

Orang itu mengiyakan. Maka ‘Aisyah pun berkata, “Sesungguhnya akhlaq Nabi Allah SAW adalah Al Qur’an.

Dari hadits inilah diungkapkan, “Muhammad SAW adalah Al-Qur’an berjalan.” Ungkapan yang sudah populer di dunia Islam dan kini dengan sangat tepat dijadikan pedoman, petunjuk, rujukan dalam kehidupan sebagai umat Islam untuk mencapai kejayaan.

Ini jua lah cara mudah penyampaian dakwah yang ditempuh oleh Rasulullah SAW dan cara seperti itulah yang seharusnya ditempuh oleh para pengemban dakwah sepeninggal beliau.

Karena Rasulullah SAW adalah figur seorang tokoh yang agung, guru bagi para tokoh besar dunia, juga reformer (mushlih) kaliber dunia.

Adapun berita tentang keagungan seseorang, akan selalu lebih besar dari faktanya, terkecuali pada diri Rasulullah SAW, beliau jauh lebih agung dari yang pernah Anda dengar.

Semoga Allah selalu memberikan taufiq-Nya kepada kita untuk dapat mencintai Rasullah SAW dan mengamalkan Sunnahnya. Aamiin ya rabbal a’lamiin.

(Sumber Bacaan Buku “The Great Stories of Muhammad, Dr. ‘Aidh Abdullah al-Qarni).

Wallahu a’lam bish shawab.
Semoga bermanfaat…
Wassalam.

Aswan Nasution

* Penulis adalah Alumni 79 Al Qismus ‘Aly Al-Washliyah, Isma’iliyah, Medan, Sumatera Utara.
* Berdomisili di Pulau Lombok, Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB).

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *