JAKARTA-RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) berhasil melaksanakan pemasangan implant Left Ventricular Assist Device ( LVAD) pertama di Asia Tenggara menggunakan alat LVAD Corheart6 pada pasien wanita berusia 45 tahun dengan Advanced Heart Failure.
RSCM mengembangkan ekosistem secara multidisiplin dalam melaksanakan prosedur ini, yang diawali dengan seleksi kasus yang sesuai yaitu memenuhi kriteria The Interagency Registry for Mechanically Assisted Circulatory Support (INTERMACS) 1-4, mengelola pasien pra implantasi hingga tatalaksana pasca implantasi.
Saat ini pasien hari ke 3 pasca pemasangan LVAD, dimana kondisi pasien lebih stabil, mesin ventilator sudah ekstubasi, beberapa obat-obatan sudah dikurangi, dan sudah dimulai tatalaksana rehabilitatif. Fase pasca operasi merupakan fase yang sangat penting, perlu diantisipasi, dan dimonitor serta dicegah risiko infeksi dan gagal jantung kanan.
RSCM mendapatkan alat LVAD Corheart 6 ini dari hasil donasi HeartSPAN.ai, divisi layanan ketahanan jantung (heart longevity) dari Borderless Healthcare Group (BHG), sebagai tonggak penting dalam pengembangan layanan gagal jantung stadium lanjut di Indonesia.
Dengan mengusung tema “Celebrating a Milestone in Advanced Heart Failure Care through Global Partnership and Medical Innovation”, prosedur implantasi LVAD ini merupakan buah dari kolaborasi strategis dalam pengembangan ekosistem pelayanan LVAD di Indonesia melalui pemanfaatan teknologi medis mutakhir, penguatan kapasitas sumber daya manusia, serta kolaborasi internasional.
Sebagai bagian dari kerja sama tersebut, dokter spesialis bedah jantung, dokter spesialis jantung, serta tenaga kesehatan multidisiplin RSCM telah mengikuti pelatihan di Fuwai Hospital, Beijing, salah satu pusat layanan jantung terbesar di dunia. Program ini bertujuan meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan Indonesia dalam seleksi pasien, prosedur implantasi, hingga tata laksana pasien pasca pemasangan LVAD sesuai standar internasional.
Kerja Sama Merupakan Langkah Penting
Direktur Utama RSCM, DR. dr. Supriyanto Dharmoredjo, Sp.B, FINACS, M.Kes, menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan langkah penting dalam menghadirkan layanan terapi gagal jantung yang lebih komprehensif bagi masyarakat Indonesia. Gagal jantung merupakan salah satu masalah kesehatan dengan angka kejadian yang terus meningkat. Berdasarkan data Global Burden of Disease (GBD) 2019, Indonesia memiliki prevalensi gagal jantung sekitar 900–1.000 kasus per 100.000 penduduk dan menjadi negara dengan angka mortalitas gagal jantung tertinggi di Asia, yaitu sekitar 34,1%.
“Keberhasilan pemasangan Left Ventricular Assist Device (LVAD) ini merupakan pencapaian penting, tidak hanya bagi RSCM tetapi juga bagi perkembangan layanan kesehatan di Indonesia. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa Indonesia mampu menghadirkan layanan penanganan penyakit jantung berteknologi tinggi yang setara dengan standar internasional melalui kolaborasi dengan berbagai mitra global, peningkatan kompetensi tenaga medis, serta pemanfaatan teknologi kesehatan terkini. Yang terpenting, pencapaian ini membawa harapan baru bagi pasien dengan gagal jantung stadium lanjut yang selama ini memiliki pilihan terapi yang sangat terbatas.” tutur Direktur Utama RSCM, DR. Dr. Supriyanto Dharmoredjo, Sp.B, FINACS, M.Kes.
Pendiri dan Chairman Borderless Healthcare Group sekaligus pendiri HeartSPAN.ai, Dr. Wei Siang Yu, menjelaskan bahwa kolaborasi ini merupakan perpaduan antara inovasi teknologi medis, pertukaran pengetahuan lintas negara, serta pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam tata laksana gagal jantung.
“Hari ini, kita tidak hanya membantu satu pasien, tetapi juga turut membangun kemampuan Indonesia dalam menangani gagal jantung stadium lanjut secara berkelanjutan. HeartSpan.ai didirikan untuk mempercepat hadirnya berbagai inovasi layanan jantung yang dapat menyelamatkan nyawa melalui pemanfaatan teknologi medis terkini, kolaborasi dan berbagi pengetahuan antar tenaga medis lintas negara, serta penggunaan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI). Keberhasilan pemasangan Left Ventricular Assist Device (LVAD) ini bukan sekadar pencapaian dalam dunia medis, tetapi juga menjadi tonggak penting yang menandai dimulainya era baru layanan penyakit jantung di Indonesia.”, tutur Dr. Wei Siang Yu.
Langkah Awal Membangun Ekosistem Layan7an LVAD
Kolaborasi antara RSCM dan HeartSPAN.ai juga menjadi langkah awal dalam membangun ekosistem layanan LVAD di Indonesia yang mengintegrasikan pengembangan teknologi medis, transfer pengetahuan internasional, serta dukungan digital dan kecerdasan buatan.
Kehadiran ekosistem ini diharapkan mampu memperluas akses masyarakat terhadap terapi penyelamat jiwa sekaligus meningkatkan kapasitas nasional dalam penanganan gagal jantung stadium lanjut.
Selain memberikan manfaat bagi pasien, pengembangan layanan LVAD di RSCM juga diharapkan memperkuat kemampuan bedah jantung dan pelayanan lanjutan di Indonesia.
Sejalan dengan upaya pemerintah meningkatkan kualitas layanan kesehatan dalam negeri, pengembangan teknologi dan kompetensi ini diharapkan dapat mengurangi kebutuhan masyarakat untuk mencari pengobatan ke luar negeri serta memperkuat kemandirian layanan kesehatan nasional.
Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan, Azhar Jaya, mengatakan teknologi LVAD menjadi lompatan besar dalam penanganan gagal jantung kronis. “Selama ini terapi utama gagal jantung stadium akhir adalah transplantasi jantung. Namun tantangannya sangat besar karena keterbatasan donor dan dokter dengan kompetensi khusus. Kehadiran teknologi LVAD memberi harapan baru untuk memperpanjang usia sekaligus meningkatkan kualitas hidup pasien,” ujar Azhar di RSCM.
Menurutnya, keberhasilan tim RSCM membuktikan bahwa Indonesia mampu menguasai teknologi medis berkelas dunia. Penguasaan teknologi tersebut tidak berhenti pada satu tim, tetapi menjadi awal transfer pengetahuan kepada lebih banyak tenaga kesehatan di Indonesia. “Ilmunya jangan berhenti di satu tim. Semakin banyak dokter yang menguasai teknologi ini, semakin banyak pula pasien yang bisa diselamatkan,” katanya.
Azhar menegaskan Kementerian Kesehatan ingin rumah sakit nasional tidak hanya menjadi pengguna teknologi kesehatan, tetapi juga menjadi pemain utama dalam pengembangannya. Karena itu, pemerintah terus mendorong kolaborasi internasional agar transfer teknologi, peningkatan kompetensi dokter, dan inovasi layanan dapat berlangsung lebih cepat.
“Kami tidak ingin rumah sakit nasional hanya menjadi penonton. Kami ingin menjadi pemain. Indonesia harus menjadi kebanggaan di bidang layanan kesehatan,” ujarnya.
Ia bahkan berharap pasien dari negara lain, termasuk Singapura dan Malaysia, kelak datang ke Indonesia untuk memperoleh layanan implantasi LVAD. “Kalau teknologinya sudah terbukti berhasil di Indonesia, mengapa pasien dari negara lain tidak datang ke sini? Ini menjadi peluang besar bagi layanan kesehatan nasional,” katanya. (fs)







Komentar