TANGERANG – Menjelang sore, setelah kamera dimatikan dan tugas peliputan selesai, Remon Harry tidak langsung pulang. Ia berganti mengenakan jaket kuning ojek online, menyalakan aplikasi di telepon genggamnya, lalu kembali menyusuri jalanan Tangerang. Dari balik kemudi sepeda motornya, kontributor TVRI itu melanjutkan perjuangan sebagai kepala keluarga.
Pilihan tersebut bukan karena ingin mencari pekerjaan baru, melainkan sebagai cara bertahan di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya membaik. Penghasilan sebagai kontributor, menurutnya, tidak selalu mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang terus meningkat.
“Saya tidak pernah malu memakai jaket ojol. Yang penting saya pulang membawa rezeki yang halal untuk istri dan anak saya,” ujar Remon saat berbincang dengan Poskota Online, Sabtu (1/8/2026).
Ayah dari Adam itu mengatakan, menjadi pengemudi ojek online merupakan keputusan yang diambil tanpa harus mengorbankan prinsip-prinsip jurnalistik yang selama ini ia pegang.
Baginya, profesi wartawan adalah amanah yang dibangun di atas kepercayaan publik. Karena itu, tekanan ekonomi tidak boleh menjadi alasan untuk mencari keuntungan dengan cara yang melanggar etika.
“Lebih baik saya berkeringat di jalan menjadi ojek online daripada menodai profesi jurnalis dengan memeras atau meminta uang kepada narasumber,” tegasnya.
Remon mengakui kehidupan kontributor media tidak selalu mudah. Pendapatan yang diterima tidak menentu, sementara biaya pendidikan anak, kebutuhan rumah tangga, hingga pengeluaran sehari-hari terus berjalan.
“Realitasnya, kebutuhan keluarga tidak bisa menunggu. Mau tidak mau saya harus mencari tambahan penghasilan, tetapi dengan cara yang tetap menjaga harga diri dan kode etik profesi,” katanya.
Setelah menyelesaikan tugas peliputan, ia hampir setiap hari mengaktifkan aplikasi ojek online dan mulai menerima pesanan hingga larut malam.
“Kalau selesai liputan masih ada tenaga, saya narik. Lumayan buat menambah uang belanja, bayar sekolah anak, dan kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.
Bagi Remon, tidak ada pekerjaan yang rendah selama dilakukan secara jujur dan tidak merugikan orang lain.
“Saya lebih bangga mencari nafkah dengan keringat sendiri daripada mendapatkan uang dengan cara yang mencederai kepercayaan masyarakat kepada wartawan,” ungkapnya.
Menariknya, profesi sebagai pengemudi ojol justru memberi manfaat lain bagi pekerjaannya sebagai jurnalis. Berada di jalan hampir setiap hari membuatnya bertemu banyak orang dari berbagai latar belakang. Dari obrolan dengan penumpang, pedagang, hingga sesama pengemudi ojol, ia sering memperoleh informasi awal mengenai berbagai peristiwa.
“Jadi ojol membuat saya punya banyak teman di jalan. Kadang ada informasi soal kecelakaan, kebakaran, atau kejadian lain yang belum saya tahu. Dari situ saya bisa cek dan kembangkan menjadi bahan liputan,” katanya.
Menurut Remon, jalanan menjadi ruang belajar yang mempertemukannya dengan beragam cerita masyarakat. Pengalaman itu membuatnya lebih memahami persoalan yang dihadapi warga sekaligus memperluas jejaring informasi.
Meski demikian, ia menegaskan setiap informasi yang diterima tidak serta-merta dipublikasikan. Sebagai wartawan, ia tetap menjunjung tinggi prinsip verifikasi sebelum menyampaikan informasi kepada publik.
“Informasi dari siapa pun tetap harus dicek kebenarannya. Itu prinsip yang tidak boleh ditinggalkan seorang wartawan,” ujarnya.
Remon berharap kisahnya dapat menjadi pengingat bagi rekan-rekan seprofesi bahwa integritas adalah modal paling berharga dalam dunia jurnalistik. Menurutnya, kepercayaan publik tidak dapat dibeli dan tidak boleh dipertaruhkan hanya demi keuntungan sesaat.
“Profesi wartawan itu soal kepercayaan. Sekali kepercayaan publik hilang, sangat sulit untuk mengembalikannya. Karena itu, jangan pernah gadaikan idealisme hanya demi uang sesaat,” tuturnya.
Di balik dua profesi yang dijalani, Remon hanya memiliki satu tujuan, yakni memastikan keluarganya tetap hidup layak tanpa harus mengorbankan kehormatan profesinya. Ia ingin anaknya kelak tumbuh dengan melihat bahwa kerja keras dan kejujuran selalu berjalan beriringan.
“Saya ingin anak saya melihat ayahnya bekerja keras dengan cara yang benar. Rezeki mungkin tidak melimpah, tapi saya ingin ia bangga karena ayahnya tidak pernah menjual kehormatan profesinya,” pungkas Remon. (Imam/fs)







Komentar