Oleh: Karsidi Diningrat
KETIKA kaum musyrikin melihat soliditas kaum muslimin, keunggulan mereka lantaran agama yang mereka peluk, ketinggian jiwa mereka di atas segala yang batil, dan juga ketika benang-benang keputusasaan merebak ke dalam jiwa mereka bahwa kaum muslimin mustahil akan kembali dari agama mereka, maka kaum musyrikin itu pun membuat lelucon baru di antara lelucon-lelucon mereka yang menunjukkan angan-angan dan ketololan mereka.
Mereka mengajak Rasulullah untuk menyembah berhala-berhala mereka selama satu tahun, dan mereka juga akan turut pula menyembah sembahan Rasulullah selama satu tahun pula. Sebagaimana sabda Rasulullah, diriwayatkan Ath-Thabrani dan Ibnu Abi Hatim, dari Ibnu Abbas, bahwa orang-orang Quraisy menawari Rasulullah Saw., harta yang banyak sehingga ia akan menjadi orang yang paling kaya di Mekah dan akan dinikahkan dengan perempuan yang dikehendakinya. Mereka mengatakan, “ini untukmu, wahai Muhammad! Namun, berhentilah mencaci tuhan-tuhan kami dan menyebutnya secara jelek.”
Dalam uraian Imam Ahmad Mushthafa al-Maraghi (tafsir Al-Maraghi) disebutkan bahwa ada beberapa orang Quraisy mendatangi Nabi Saw. dan mengatakan, “Wahai Muhammad, marilah engkau mengikuti agama kami, dan kami akan mengikuti agamamu. Kami juga akan senantiasa mengajakmu dalam segala kegiatan kami. Kamu menyembah Tuhan kami selama setahun, dan kami menyembah Tuhanmu selama setahun juga. Jika ternyata yang engkau bawa itu adalah lebih baik, maka kami akan mengikutimu dan melibatkan diri di dalamnya. Dan jika ternyata yang ada pada kami itu lebih baik, maka engkau mengikuti kami, dan engkau pun melibatkan diri di dalam agama kami”. Nabi Saw. menjawab, “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menyekutukan-Nya dengan selain-Nya.”
Akhirnya Allah pun menurunkan surat al-Kafirun. “Katakanlah, ‘Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah tuhan yang kamu sembah. Dan kamu pun bukan penyermbah Tuhan yang aku sembah. Aku pun tidak pernah menjadi penyembah tuhan yang kamu sembah, dan kamu pun tidak pernah pula menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” (QS. Al-Kafirun [109]: 1-6).
Dalam suatu riwayat bahwa selain surat Al-Kafirun, Allah pun menurunkan ayat ini, “Katakanlah (Muhammad), “Apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, wahai orang-orang yang bodoh.” (QS. Az-Zumar [39]: 64).
Terdapat pula ayat-ayat lain yang serupa dengan surat ini yang berisi pengumuman sikap bara’ (penolakan) dari kekufuran dan orang-orang kafir. Sebagaimana Allah berfirman, “Dan jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah, ‘Bagiku amalanku dan bagimu amalanmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan, dan aku pun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Yunus [10]; 41).
Dalam ayat yang lainnya Allah berfirman, “Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku dilarang menyembah tuhan-tuhan yang kamu sembah selain Allah.’ Katakanlah, ‘Aku tidak akan mengikuti hawa nafsumu. Sungguh tersesatlah aku jika berbuat demikian, dan tidaklah pula aku termasuk orang-orang mendapat petunjuk.’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku berada di atas hujah yang nyata dari Tuhanku, sedang kamu mendustakannya. Bukanlah wewenangku untuk menurunkan azab yang kamu tuntut untuk disegerakan kedatangannya. Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia adalah pemberi keputusan yang terbaik.” (QS. Al-An’am [6]: 56-57).
Juga dalam firman-Nya yang lain dinyatakan, “Katakanlah, ‘Hai manusia, jika kamu masih dalam keragu-raguan tentang agamaku, maka ketauhilah bahwa aku tidak akan menyembah tuhan yang kamu sembah selain Allah. Akan tetapi aku menyembah Allah yang telah mematikan kamu. Dan aku diperintah supaya menjadi bagian dari orang-orang yang beriman.’ Aku juga diperintah, ‘Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas, dan janganlah kamu termasuk orang-orang musyrik.” (QS. Yunus [10]: 104-105).
Para Rasul Berdakwah untuk Mengenal Allah
Wajib disampaikan kepada mereka yang telah menyekutukan Allah bahwa para nabi telah mengajak kaumnya untuk menyembah kepada Allah, dan tidak kepada yang lain-Nya. Tidak ada satu umat pun di dunia ini yang tidak mendapat rasul yang mengajak mereka untuk menyembah Allah Yang Esa, dan tidak ada sekutu bagi-Nya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu.’ Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS. An-Nahl [16]: 36).
Allah Swt. berfirman, “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami mewahyukan kepadanya, ‘Bahwasanya tidak ada ilah melainkan Aku, maka sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya [21]: 25). Juga firman-Nya, “Dan tanyakanlah kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu. ‘Adakah Kami menentukan ilah-ilah untuk disembah selain Allah Yang Maha Pemurah.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 45).
Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman, “Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnnya, lalu ia berkata, ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tak ada ilah bagimu selain-Nya.” (QS. Al-A’raf [7]: 59). “Dan Kami telah mengutus kepada kaum ‘Ad saudara mereka Hud. Ia berkata, ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada ilah bagimu selain-Nya.” (QS. Al-A’raf [7]: 65). “Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka. Shaleh, ‘Ia berkata, ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada ilah bagimu selain-Nya.” (QS. Al-A’raf [7]: 73). “Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka. Syu’aib, Ia berkata, ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada ilah bagimu selain-Nya.” (QS. Al-A’raf [7]: 85).
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “… padahal Al-Masih (Nabi Isa as [Yesus Kristus]) berkata, ‘Hai Bani Israil, sembahlah Allah Rabb-ku dan Rabb-mu.’ Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 72).
Tarif Khalidi dalam The Muslim Yesus: Sayings and Stories in Islamic Literature, disebutkan, “Kritus berkata, “Sering-seringlah menyebut Allah yang Maha Agung, juga puji dan pujalah Dia, dan taatlah kepada-Nya. Cukuplah bagi salah seorang di antara kamu yang melakukan shalat (berdoa)—semoga Tuhan benar-benar meridainya—untuk mengucapkan: “Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, perbaikilah jalan hidupku dan selamatkanlah aku dari segala mara bahaya.”
Islam adalah Agama Universal
Islam adalah agama yang diwahyukan oleh Allah Swt. kepada Nabi dan Rasul-Nya, Muhammad bin ‘Abdullah melalui Al-Qur’an dimana diakui pula kebenaran Kitab Taurat dan Injil. Sebagai penutup semua agama. Islam adalah agama Allah yang isinya meliputi seluruh urusan kehidupan manusia yang inti ajarannya adalah untuk menciptakan kesejahteraan dan kebahagiaan seluruh umat manusia bukan hanya di dunia tetapi juga di akhirat kelak. Allah Swt. mengutus Muhammad Saw. untuk seluruh umat manusia, tidak semata-mata untuk bangsanya, bangsa Arab. Sebagaimana Allah Swt. telah berfirman:
“Kami tidak mengutus kamu, melainkan sebagai (Rasul) bagi seluruh umat manusia, supaya kamu dapat memberi mereka kabar gembira (bagi yang berbuat baik) dan peringatan bagi yang durhaka. Sayang, kebanyakan manusia tidak memahaminya.” (QS. Saba’ [34]: 28). “Hai Nabi! Sesungguhnya kami mengutusmu itu untuk menjadi saksi, dan pembawa kabar gembira, serta pemberi peringatan.” (QS. Al-Ahazab [33]: 45). “Katakanlah, “Wahai manusia, sesungguhnya aku ini diutus kepada kalian semuanya sebagai Rasul Allah.” (QS. Al-A’raf [7]: 158).
Ketika menegaskan tentang pentingnya persatuan umat manusia, ajaran Islam menekankan prinsip persamaan bagi seluruh ras, bangsa dan suku. Allah Swt. berfirman, “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian itu dari sepasang pria dan wanita, dan dari situ Kami jadikan kalian beragam bangsa dan suku, supaya saling mengenal satu sama lain. Sesungguhnya manusia yang paling mulia di antara kalian menurut pandangan Allah hanyalah orang yang paling baik perbuatannya.” (QS. Al-Hujurat [49]: 13).
Ajaran yang sama disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw. ketika menunaikan Haji Perpisahan (haji wada’), yang di saat itu beliau membacakan ayat tersebut lalu mengatakan, “Bangsa Arab tidaklah lebih baik daripada bangsa non-Arab. Tidak pula bangsa non-Arab lebih baik daripada bangsa Arab. Bangsa yang berkulit hitam pun tidaklah lebih baik daripada bangsa yang berkulit merah. Bangsa yang berkulit merah pun tidaklah lebih baik daripada bangsa yang berkulit hitam—kecuali dengan taqwa.” (HR. Thabrani).
Dengan demikian, persatuan umat manusia mengharuskan adanya persahabatan melalui saling pengertian, bukan permusuhan akibat dari perbedaan.
-Dosen Akidah dan Pemikiran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
-Dewan Penasihat Pengurus Wilayah Al-Washliyah Jawa Barat.






Komentar