oleh

Tuhan, Pemegang Kekuasaan Mutlak

-Rohani-47 views

POSKOTA.CO – Perjalanan bangsa Israel menuju padang gurun patut kita renungkan dengan keadaan yang sekarang kita hadapi.
Kitab Ulangan 3:8-11 bercerita ulang tentang apa yang dialami bangsa Isreal dalam kontek perjalanan menuju padang gurun.

Kisah Musa mengantar umat Israel sampai ke tapal batas menuju tanah perjanjian, tentunya memiliki pesan, bahwa penindasan atas umat pilihan Tuhan ini harus di akhiri.

Musa tidak menghendaki penindasan yang dialami umat pilihan Tuhan ini. Musa sangat berkepentingan untuk membawa keluar generasi Israel keluar dari Mesir, tanah perbudakan.

Namun niat Musa melepaskan bangsa Israel dari bencana hingga kelaparan yang diderita
orang tua serta generasi muda dari umat pilihanTuhan, tidaklah muda.

Lalu apakah Musa menyerah.. .???. Jawabannya tentu tidak.!!.

Musa dengan imannya yang sungguh-sungguh kepada Tuhan, sangat yakin akan rencana penyelamatannya itu.
Musa yakin, Allah akan bersamanya dalam membebaskan umatNya.
Musa di kisahkan dapat bergaul karib dengan Tuhan, bahkan sampai disebutkan berbicara berhadap-hadapan muka dengan Allah seperti sepasang sahabat.

Musa adalah seorang pemimpin dan nabi orang Israel yang menyampaikan Hukum Taurat dan menuliskannya dalam lima Kitab Taurat.

Nama musa disebutkan sebanyak 873 kali dalam 803 ayat dalam 31 buku di Alkitab terjemahan Baru. Bahkan dalam Al-Quran disebutkan 136 kali.
Ini menandakan, bahwa Musa yang melewati berbagai macam rintangan saat membebaskan umat Israel adalah nabi yang benar-benar menerima mandat sebagai orang yang diutus oleh Allah.

“Musa membebaskan bangsa Israel, bahkan ia hampir dibunuh ketika ia masih bayi, dikejar-kejar oleh Firaun, sampai harus menjalani hidup sebagai gembala di tanah Midian selama 40 tahun. Itu semua diijinkan Tuhan untuk membentuk karakternya, sampai akhirnya Malaikat Tuhan menampakkan diri kepadanya,”kata Pendeta Sherlie Petonengan S.Th, Pendeta GPIB Zebaoth Bogor.

Pada akhirnya, Musa tidak sampai memimpin bangsa Israel masuk ke tanah Kanaan, oleh karena kesalahan perkataan Musa di Mara yang disebabkan oleh betapa pahit hati Musa menghadapi orang Israel.

Musa yang lahir di Mesir, 1527 SM meninggal di Gunung Nebo, dataran Moab, tepi timur Sungai Yordan, tahun 1407 SM pada umur 120 tahun, akhirnya mengantarkan orang Israel sampai ke tepi timur sungai Yordan, sebelum menyeberang ke tanah Kanaan, tanah yang dijanjikan tersebut setelah
membelah Laut Merah sehingga rakyat Israel yang hampir terkejar dapat menyeberang dan selamat.

Musa akhirnya digantikan oleh abdinya yang setia yaitu Yosua. Yosua yang berhasil memimpin bangsa Israel masuk dan menduduki tanah Kanaan.

Penulis menguraikan pengalaman Musa. Musa yang dalam pekerjaan penyelamatan umat Tuhan mendapat sebuah kesamaan antar generasi Mesir dan generasi padang gurun.
Mereka sama-sama keras kepala, sama-sama gampang membelok dari hukum Allah dan sama-sama keras hati.

Musa menurut Pendeta Sherlie, merefleksikan pengalaman bersama. Pengalaman iman bersama merupakan kenyataan yang tidak bisa dibantah oleh siapapun. Pengalaman bersama ini merupakan titik temu bagi mereka sekalian.

Bagi penulis, sesungguhnya pengejaran terhadap bangsa Israel tidak perlu terjadi. Kenapa…..?. Karena sesungguhnya Israel hanya ingin menumpang lewat daerah Basan dalam rangka perjalanan mereka menuju tanah perjanjian.
Perjalanan menuju tanah perjanjian adalah dalam rangka merealisir janji Tuhan kepada Abraham.
Janji Tuhan kepada Abraham ini berhubungan dengan pemilihan Abraham agar kemudian Abraham dan keturunannya menjadi berkat bagi seluruh muka bumi.

“Musa yakin, bahwa setelah dia, akan muncul seorang pemimpin umat yang menyelamatkan bukan hanya Israel, tapi seluruh manusia di muka bumi. Perjalanan ini harus dilihat dari sejarah keselamatan yang berujung pada Yesus Kristus,”kata Pendeta Sherlie.

Penyeberangan Laut Teberau adalah bagian dari perjalanan bangsa Israel setelah keluar dari Mesir yang dipimpin oleh nabi Musa tercatat jelas dalam Kitab Keluaran 13:17-14:29.

Penyerangan raja Basan atas umat Israel yang melintas, membuat pertempuran tidak bisa dihindari.
Kenapa terjadi pertempuran… ???.
Karena Isarel harus mempertahankan diri.

Musa yang menyadari dia bukan panglima yang ahli dalam perang, mulai timbul keraguan dalam dirinya.
Musa sadar, tentara Basan lebih menguasai daerahnya ketimbang Israel yang sebenarnya hanya mau numpang lewat.

Dalam situasi yang demikian, Tuhan berfirman kepada Musa agar ” jangan takut “, sebab TUHAN akan menyerahkan raja Basan ke tangan bangsa Israel.

“Tuhan turun tangan dan mengambil alih situasi. Israel memenangkan pertempuran itu,”demikian Pendeta Sherlie menegaskan.

Belajar dari pengalaman Musa dan situasi pandemi Covid 19 yang kita hadapi saat ini, sangatlah jelas tergambar, jika sesungguhnya perjalanan hidup umat yang percaya dan beriman kepada Tuhab tidak akan pernah sepi dari tantangan dan hadangan.

Umat Tuhan saat ini mungkin tidak lagi berhadapan dengan musuh-musuh seperti yang dialami oleh Musa dan Israel. Namun tantangan selalu ada.

Wabah corona yang melanda dunia dan Indonesia saat ini, dimana gereja tidak lagi menjadi tempat berkumpulnya orang beriman untuk berbakti kepada Tuhan, membuat kita hanya bisa berdoa kepada Tuhan dari rumah masing-masing.

Namun penulis mengingatkan, janganlah imanmu lemah hanya karena tidak berkumpul bersama untuk beribadah.
Marilah belajar dari potret iman percaya seorang nabi kecil yang bernama Habakuk yang punya pergumulan yang mungkin hampir serupa dengan situasi saat ini.
Doa Habakuk penuh dengan iman percaya yang teguh.

Dalam doanya Hababuk berkata, sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorai didalam Tuhan, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.

“Allah itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku,”kata Pendeta Sherlie mengutip kitab Habakuk 3:17-19.

Hubungan keselamatan bukan hanya berlalunya penderitaan, melainkan penyertaan Tuhan selama kita melewati penderitaan.

“Keselamatan itu bukan terletak pada ada atau tidaknya bahaya, tetapi hadirnya Allah. Covid 19 masih ada dan bahkan mengancam nyawa manusia tetapi yakinlah Tuhan pasti memampukan kita melewatinya. Janji Tuhan itu pasti,”Pendeta Sherlie Petonengan S.Th menegaskan. (yopi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *