KUTAI KARTANEGARA – Rombongan Media Gathering Mangrove for Coastal Resilience (M4CR) mengunjungi Desa Sepatin, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Warganya yang sebagian besar adalah nelayan telah menyadari bahwa hutan mangrove sangat bermanfaat bagi kehidupan perairan seperti laut maupun Sungai Mahakam.
Hal itu diungkapkan sejumlah Kelompok Tani Hutan (KTH) pada acara Mangrofest 2026 di desa yang telah berhasil merehabilitasi hutan bakau di bawah kordinasi M4CR maupun Kementerian Kehutanan RI. Penuturan disampaikan Ketua KTH Firman, dan kawan-kawan bahwa kini tambak udang lebih produktif.
“Perjalanan rehabilitasi mangrove mendapat dukungan lebih besar pada 2024, kami bergabung dalam program Mangrove for Coastal Resilience (M4CR). Berbeda dengan program lain, karena M4CR memberi ruang kepada masyarakat untuk menjadi pelaku utama rehabilitasi melalui pola swakelola,” tutur Firman di Desa Sepatin, Jumat (31/7).
“Tahun 2024 kami ada tawaran untuk melakukan rehabilitasi dari program M4CR. Kami ikut masuk karena memang cara pengelolaannya atau programnya M4CR ini swakelola, melibatkan masyarakat. Dari situ kami ikut membentuk kelompok. Tahun 2025 saya baru ada kelompok,” katanya.
Bersama kelompok yang dibentuknya, Firman tidak hanya menanam mangrove, tetapi juga mengajak petambak lain mengubah cara pandang terhadap hutan pesisir. Baginya, mangrove bukan musuh tambak, tetapi mendorong budidaya udang dan ikan lebih produktif. “Mangrove adalah mitra yang menjaga keseimbangan alam sekaligus meningkatkan produktivitas usaha. Mangrove untuk masa depan karena berfungsi menjaga abrasi,” jelasnya.
Provincial Project Implementation Unit (PPIU) Manager BRGM Kalimantan Timur, Asman Azis, mengatakan keberhasilan program rehabilitasi mangrove sangat bergantung pada komitmen masyarakat, khususnya Kelompok Tani Hutan (KTH), dalam menjaga keberlanjutan ekosistem mangrove. “Desa Sepatin merupakan salah satu desa prioritas untuk program rehabilitasi,” kata Asman didampingi Sekdes Sepatin, Suwardi.
Menurutnya M4CR berhasil merehabilitasi ekosistem mangrove seluas 6.120 hektare di Kalimantan Timur sepanjang 2024–2026. Program ini merupakan bagian dari upaya nasional pemulihan ekosistem pesisir yang menargetkan rehabilitasi 32.634 hektare mangrove hingga 2027 di empat provinsi prioritas, yakni Riau, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.
M4CR dikelola Kementerian Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH) bersama sejumlah kementerian, pemerintah daerah, Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH), serta didukung pendanaan dari World Bank.
Selain menyerap pengalaman dari sejumlah kelompok tani hutan, rombongan peserta Media Gathering juga menggunakan perahu motor menyusuri kawasan hutan bakau di sepanjang Sungai Mahakam dan melihat langsung lokasi penanaman mangrove di perbatasan laut yang telah dilakukan sebelumnya. Pepohonan yang punya akar kuat tersebut, tampak tumbuh subur. (jo)







Komentar