oleh

Konsep Tuhan Menurut Islam

Oleh : Karsidi Diningrat

NAMA  “Allah” hanya milik Tuhan Mahakuasa, Sang Kebenaran. Sesuatu yang mengikuti nama ini dianggap sebagai kata sifat yang menggambarkan nama ini, sedangkan nama ini tetap nama yang menunjukkan Tuhan Mahabenar. Nama ini mengandung semua Sifat-Nya, dan eksistensi nama ini tak perlu lahir dari yang lain, sedangkan Sifat-sifat lain dapat dimengerti bila menjadi tambahan bagi nama ini. “Allah” hanya untuk Dia saja, tidak dapat digunakan untuk selain Dia. “Allah” adalah Wujud yang abadi. Yang menciptakan eksistensi, Yang memelihara dan menjaga eksistensi, Yang menciptakan segala yang ada. Apa pun yang diciptakan-Nya pasti akan binasa.

Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman, “Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlas [112]: 1-4).

Ada perbedaan antara Waahid dengan Ahad. Allah swt. berfirman, “Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa (Waahid).” (QS. Al-Baqarah [2]: 163). Dikatakan, (Manusia adalah individu yang satu, dan jenis yang satu). Maksud dari “satu” pada kalimat- kata tersebut adalah menunjukkan kuantitas, yaitu satu dan bukan yang lain. Misalnya, Alfun Waahid, adalah seribu saja, yang tidak kurang dan tidak lebih. Kata-kata Waahid (satu) pada beberapa contoh kalimat tersebut, baik secara rasa maupun rasional adalah punya pengertian, “mencegah terjadinya kesamaan banyak (Syirkah)”. Sedangkan makna Ahad (“tunggal”) adalah sesuatu yang tidak terdiri dari susunan maupun bagian dari sisi mana pun. Waahid berarti menghilangkan kesamaan dan campur tangan dari luar, sedangkan Ahad menghilangkan kuantitas pada Dzat Allah.

Allah Dzat yang Maha Tunggal

Sementara arti Ash-Shamad (QS. Al-Ikhlas: 2) adalah tidak butuh kepada yang lain, sementara itu selain Dia akan butuh kepada-Nya. Ini adalah bukti bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat dan Yang Maha Tunggal, karena andaikata ada dzat lain yang sepadan dengan-Nya dalam kekuasaan-Nya tentu Allah tidak Maha Kaya – dimana selain Dia akan butuh kepada-Nya – bahkan Dia sendiri akan butuh kepada teman, kepada orang lain dalam kebersamaan dengan kelompok dzat-dzat yang lain atau hanya berdua dengan dzat yang lain.

Dan andaikan Dia tersusun dari bagian-bagian yang menjadi satu, tentu Dia tidak akan Maha Kaya – dimana yang lain akan butuh kepada-Nya dan dijadikan pelarian dan dijadikan tumpahan oleh yang lain – akan tetapi malahan Dia sendiri dalam Wujud-Nya dan keberadaan-Nya akan butuh kepada bagian-bagian yang ada pada susunan-Nya yang menjadi satu. Oleh karena itu, sifat Ash-Shamad (Maha Kaya) adalah menjadi bukti atas sifat Waahid (Maha Esa) dan Ahad (Maha Tunggal).

Sedangkan firman Allah Swt, “Dia tidak melahirkan dan tidak (pula) dilahirkan.” (QS. Al-Ikhlas:3). Adalah bukti bahwa Wujud Allah yang abadi itu tidak sama dengan wujud manusia, dimana cara manusia dalam melestarikan jenisnya adalah dengan cara melahirkan keturunan (tawaalud), akan tetapi Wujud-Nya adalah bersifat langgeng, Abadi dan Azali yang tidak kenal batas waktu. Sedangkan “tidak (pula) dilahirkan,” berarti Wujud-Nya yang Abadi itu tidak sama dengan wujud manusia, dimana wujud dari yang semula tidak ada kemudian menjadi ada, yang akhirnya ia akan tetap ada, baik ia berada di surga yang tinggi yang tidak akan sirna, atau ia akan tinggal di jurang neraka yang tidak akan terputus siksaannya.

Sedangkan firman Allah Swt, “Dan tidak seorang pun yang setara dengan-Nya.” (QS. Al-Ikhlas: 4). Adalah sebagai bukti bahwa Wujud yang hakiki bagi Allah swt. adalah wujud yang memberikan arti wujudnya yang lain, dan Wujud yang bukan karena wujudnya yang lain hanyalah milik Allah swt.

Dengan demikian firman Allah dalam Surat Al-Ikhlas adalah sebagai bukti yang memperkukuh Dzat Allah yang bersih dari susunan dan bagian-bagian. Sedangkan sifat Ash-Shamad adalah berarti menafikan (meniadakan) kebutuhan Allah kepada yang lain, sementara itu yang lain butuh kepada-Nya. Sifat-sifat Allah yang ada pada Surat ini adalah menghilangkan sifat-sifat yang dimiliki oleh selain Allah dari Dzat Allah. Dengan demikian, tidak ada cara terbaik dan paling mudah dalam mengenai Dzat Allah dibanding menghilangkan sifat-sifat yang dimiliki oleh makhluk dari Dzat Allah swt.

Allah Itu Esa

Para Mutakalimin mengatakan bahwa, “Allah itu Esa. Tiada satupun yang mirip dengan-Nya. Bukan tubuh dan bukan bayangan. Bukan materi dan bukan bentuk. Bukan daging dan bukan darah. Bukan diri dan bukan unsur. Tidak punya warna, bau, panas, dingin, kering, basah, panjang, lebar, tinggi. Bukan paduan dan bukan pisahan. Bukan bergerak dan bukan diam. Bukan terbagi, hingga tidak punya paroh maupun bagian, tidak punya bagian tubuh maupun anggota tubuh. Bukan punya jurusan, hingga bukan kanan, kiri, depan, belakang, atas, bawah. Tidak dilingkung tempat dan tidak dibatasi tempo. Tidak berlaku bagi-Nya rabaan, pemencilan, penjelmaan pada tempat apapun. Tidak disifati dengan sifat-sifat setiap kejadian yang menunjukkan kebaharuan. Tidak disifati dengan terbatas, luasan, pergi ke suatu arah. Bukan dihinggakan batas, bukan bapak, bukan anak, bukan dilingkung ukuran. Tidak kelindungan oleh tutup. Tidak tertangkap oleh indra manusia. Tidak dapat dibandingkan dengan manusia. Tidak mirip dengan sesuatu kejadian agak sedikitpun. Tidak dihinggapi binasa maupun renta. Adapun yang tergetar di dalam hati maupun terlukiskan di dalam hayal tidaklah mirip dengan-Nya. Ia azali dan terdahulu dari segala kebaharuan. Ada sebelum seluruh kejadian. Ia senantiasa tahu dan kuasa dan hidup dan tetap senantiasa begitu. Ia tak dapat disaksikan biji mata dan tak dapat ditangkap oleh pandangan. Ia tak dapat dibayangkan oleh hayal. Ia tak dapat didengar dengan alat pendengar.”

Imam Al-Ghazali mengatakan, “Allah swt bukanlah jisim (korporeal) yang berbentuk, bukan jauhar (elemen) yang bisa dibatasi dan diukur. Dia tidak seperti jisim, yang bisa diukur dan bisa dibagi. Dia bukan jauhar dan juga bukan yang ditempati oleh jauhar, bukan ‘aradh (sifat yang ada pada elemen) dan juga bukan yang ditempati oleh ‘aradh. Dia tidak seperti segala sesuatu yang diwujudkan-Nya, bahkan segala sesuatu yang diwujudkan-Nya juga tidak seperti Dia. Tidak ada sesuatu pun yang menyamai-Nya, dan Dia tidak sama dengan apa pun. Dia tidak bisa diukur oleh apa pun dan tidak terjangkau oleh penjuru, Dia tidak diliputi oleh arah dan tidak termuat oleh bumi dan langit.”

Allah “Bersemayam” di Arasy

“Dia “bersemayam” (istiwa’) di arasy sesuai dengan maksud dan aspek yang difirmankan-Nya, sesuai dengan makna yang dikehendaki-Nya, dengan istiwa’ yang tersucikan dari bersentuhan, menetap, bertempat, menempati dan berpindah-pindah. Dia tidak dibawa oleh arasy, namun justru arasy dan para malaikat penjaga arasy dibawa oleh kelembutan Kekuasaan-Nya dan dipaksa berada dalam “Genggaman-Nya”. Dia berada “di atas” arasy, langit dan “di atas” segala sesuatu sampai pada batas bintang yang tertinggi sekalipun, dengan ketinggian yang tidak bisa menambah dekat dengan arasy dan langit, sebagaimana tidak bisa semakin jauh dari bumi dan dataran yang paling rendah sekalipun, bahkan Dia-lah Yang Mahatinggi derajat-Nya daripada bumi dan dataran paling rendah. Meskipun begitu Dia lebih dekat dengan segala sesuatu yang ada. Dia lebih dekat kepada hamba-Nya daripada urat lehernya. Dia menyaksikan segala sesuatu, dekatnya tidak sama seperti dekatnya jisim (benda), demikian pula Dzat-Nya. Dia tidak menempati benda dan tidak ditempati oleh benda. Tidak membutuhkan ruang dan waktu, bahkan Dia wujud sebelum diciptakannya ruang dan waktu, sementara Dia sekarang masih tetap seperti semula.

“Dia sama sekali berbeda dengan makhluk-Nya dalam segi Sifat-sifat-Nya. Di dalam Dzat-Nya tidak ada unsur lain, sementara pada yang lain juga tidak ada Dzat-Nya. Dia suci dari segala perubahan dan pergantian, tidak ditempati oleh segala yang bersifat baru (hawaadits) dan tidak dihinggapi oleh sifat-sifat baru yang non-esensial, akan tetapi Dia senantiasa dalam Sifat-sifat keagungan-Nya yang tersucikan dari sifat aus dan sirna, dalam Sifat-sifat kesempurnaan-Nya itu tidak memerlukan penyempurnaan tambahan. Wujud Dzat-Nya dapat diketahui secara rasional, dan dapat dilihat melalui mata hati, sebagai nikmat dan kelembutan-Nya terhadap orang-orang yang baik di surga yang abadi, untuk menyempurnakan terhadap nikmat-nikmat-Nya adalah dengan bisa menyaksikan “Wajah-Nya” Yang Mulia.”

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Batin, dan Dia maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Hadid [57]: 3). “Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Dia.” (QS. Al-Qashash [28]: 88).

Allah Tidak Didahului Siapapun

Kalau ada orang yang bertanya kapan Dia mulai ada, itu berarti orang tersebut berpandangan bahwa Dia pernah tidak ada, yaitu ada kehampaan yang mendahului eksistensi-Nya. Dia tidak “didahului” oleh siapa atau apa pun. Dia juga tidak “digantikan” oleh siapa atau apa pun. Kontinuasi atau keabadian-Nya tak terikat waktu. Eksistensi-Nya terlalu suci untuk terikat atau bergantung waktu. “Didahului”, “digantikan” dan “terikat atau bergantung waktu” adalah khas makhluk yang pasti bakal binasa, khas apa saja yang akan eksis kelak. Namun itu semua tidak berlaku bagi-Nya. Dalam firman-Nya yang lain melukiskan keabadian dan kontinuasi-Nya, “Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman [55]: 26-27), “Maha suci Allah yang ditangan-Nyalah segala kerajaan.” (QS. Al-Mulk [67]: 1). Allah menyebut Diri-Nya: Raja, Yang Mahasuci”. (QS. Al-Hasyr [59]: 23).

Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman, “Tidak ada seorang pun di langit dan bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.” (QS. Maryam [19]: 93). “Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hijr [15: 49).

Ar-Rahman ar-Rahim adalah dua Sifat Allah yang mengingatkan manusia akan rahmat-Nya, akan fakta bahwa kebaikan-Nya untuk siapa pun yang dikehendaki-Nya, sehingga kebaikan dan rahmat-Nya mencegah keburukan menimpanya. Ar-Rahman dan ar-Rahim merupakan dua Sifat Allah yang pada saat yang sama eksis, Sifat yang satu lebih membawa makna rahmat dibanding Sifat yang lain. Ar-Rahman merupakan Sifat yang khusus relevan dengan Allah. Selain Dia tak ada yang dapat disebut dengan kata ini. Sedangkan ar-Rahim bisa untuk manusia. Manusia bisa saja disebut rahim (baik hati atau murah hati), namun tak bisa disebut rahman.

Ar-Rahman merupakan Sifat yang menunjukkan bahwa yang dapat memberikan rahmat hanyalah Dia semata. Artinya adalah “Dia yang menurunkan rahmat. Tak ada rahmat lain selain rahmat-Nya, dan apa yang menyamai atau menyerupai rahmat-Nya sama sekali tidak ada”. Meskipun berasal dari rahmat, namun ar-Rahman adalah nama dan sekaligus sifat. Keduanya tidak saling bertentangan.

Ar-Rahim berasal dari rahmah (rahmat atau penyayang). Rahmat mengandung arti bahwa orang yang menerima rahmat selamat dari mudarat dan kerugian, mendapat petunjuk, mendapat ampunana dan keyakinannya jadi kuat. Ar-Rahim, yaitu Yang memberikan rahmat, menunjukkan kualitas yang tingkatannya paling tinggi. Kata ini merupakan bentuk turunan tertinggi dari rahmah.

Sesungguhnya rahmat-Nya tak terhingga, juga tak ada habis-habisnya. Rasulullah bersabda, “Orang yang tidak memiliki rasa sayang kepada orang lain, maka dia tidak akan memiliki Kasih Sayang Allah.” Beliau saw. juga bersabda, “Orang yang tidak menghormati orang lebih tua, juga tidak memperlihatkan kasih sayang kepada orang yang lebih muda, juga tidak menjaga hak orang berilmu, maka dia sesungguhnya tidak termasuk golongan kami. Rasa kasih sayang yang dimiliki hamba Allah merupakan jalan yang pasti untuk mendapatkan rahmat Allah.” Rasulullah saw. bersabda, “Bersikaplah welas asih kepada penghuni bumi, sehingga penghuni lelangit menunjukkan welas asih mereka kepadamu.” Wallahu ‘alam bish-shawwab.

-Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

-Penasehat Pengurus Wilayah Al-Washliyah Jawa Barat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *