oleh

Mengukir Prestasi di Bulan Yang Suci

SAUDARA-saudaraku yang sedang melaksanakan ibadah puasa Ramadhan, sungguh menjadi keharusan bagi seorang muslim untuk memperbanyak ibadah kepada Rabb-Nya, berupa puasa dan shalat, shadaqah dan i’tikaf, tilawah dan doa, karena semua amalan (bagaimana pun banyaknya) tetaplah sedikit dibandingkan nikmat-nikmat Allah kepadanya.

Dan termasuk kerugian apabila hari-hari dan malam-malam bulan yang berkah ini berlalu, sementara ada kaum muslimin yang tidak memberi perhatian.

Untuk memanfaatkan waktu-waktunya, mereka malah menghabiskan siang dengan tidur dan bermalas-malasan, tidaklah mereka sadar jika bulan ini akan segera berlalu?

Saudara-saudaraku, ketahuilah, diantara karunia Allah yang paling besar kepada hamba- hamba-Nya adalah apa yang Dia syari’atkan kepada mereka berupa ibadah-ibadah yang agung.

Demikian juga momen-momen mulia yang dengannya jiwa menjadi suci, dipenuhi kebaikan dan kemaslahatan, keberkahan dan pertumbuhan, memancarkan cahaya dan sinar terang benderang.

Sungguh kehidupan yang sedang dilalui kaum muslimin saat ini adalah merupakan dibawah naungan bulan mulia dan momen yang agung.

Betapa tidak, hari-hari penuh berkah dan malam-malam yang utama, adalah sebesar-besar kesempatan imaniyah yang tidak bisa digantikan, serta tidak bisa dinilai dengan uang.

Bagaimana tidak, sementara kaum muslimin hidup bersama Al Qur’an, mereka mencari rahmat, pengampunan dan keridhaan di dalamnya, juga keberuntungan mendapatkan Surga, dan pembebasan dari neraka.

Sungguh Bulan Ramadhan benar-benar cahaya kaum mukminin, keberuntungan orang-orang shalih, kesempatan orang-orang berdosa dan berbuat maksiat.

Maka hal itu mendorong semangat tekad, menjernihkan jiwa dan perasaan, sehingga setiap muslim mengambil sikap serius seraya untuk segera mengintrospeksi dirinya.

Apakah di bulan Ramadhan mulia ini ia telah tersadar dari kelalaiannya, terbangun dari tidurnya, atau keadaannya di bulan ini seperti keadaannya di bulan-bulan lain, hidup dalam tahanan kemaksiatan, diperdaya oleh hawa nafsu dan angan-angan yang panjang?.

Apabila orang-orang yang disibukan dengan urusan dunia sehingga melalaikan urusan akhirat, tidak menggunakan Ramadhan ini sebagai momen untuk kembali kepada Allah SWT.

Maka kapankah dia akan kembali? Jika para pemuda muslim tidak mengambil manfaat dari musim yang agung ini untuk kebaikan dan perbaikan, maka kapankah mereka akan mengambil manfaat?

Jika kaum wanita-wanita kaum muslimin tidak kembali kepada nuansa keimanan dan kehormatan, tidak menjaga diri dan tidak berhijab, lalu kapan mereka kembali?

Jika para hartawan tidak berinfak dan tidak bermurah hati dengan mengeluarkan hartanya di jalan Allah, maka kapan mereka bermurah hati?

Tidakkah mereka sadar jika bulan ini akan segera berlalu? Mengapa mereka tidak memperbaiki adab dan akhlak terhadap bulan Allah yang mulia?

Di manakah introspeksi diri wahai hamba-hamba Allah? Sepuluh hari pertama bulan ini berlalu bagaikan kedipan mata, bahkan seperduanya pun berakhir tanpa terasa.

Saudara-saudaraku, sementara kebanyakan dari kaum muslimin masih saja dalam kelalaian dan berpaling darinya dan tenggelam dalam keterpedayaan.

Tidakkah kita mengambil pelajaran dari orang-orang yang melaksanakan puasa bersama kita di bulan Ramadhan dahulu, akan tetapi kematian telah menghalangi mereka untuk mendapati Ramadhan tahun ini.

Kemudian kita tidak pernah tahu, apakah kita mampu menyempurnakan bulan ini, atau kita terhalang pula untuk menyelesaikannya oleh penghancur kelezatan yaitu kematian?

Hanya kepada Allah kita meminta pertolongan, untuk menempuh jalan kebaikan dan istiqamah, bertaubat dan kembali kepada-Nya dalam setiap urusan.

Saudara-saudaraku, mudah-mudahan kita meraih rahmat dan ampunan serta pembebasan dari neraka di bulan yang mulia ini. Aamiin.

Aswan Nasution

Wallahu a’lam bish shawab.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *