oleh

Puasa Dapat Membunuh Hasrat Diri dan Nafsu Keserakahan

PUASA [shaum] adalah sarana untuk menahan diri dari nafsu-nafsu jasmaniah dan memutuskan hasrat-hasrat duniawi yang muncul dari gagasan-gagasan setan serta kawan-kawannya.

Juga memposisikan diri pada kedudukan seseorang yang sedang sakit, yang tidak menginginkan makanan maupun minuman; mengharapkan kesembuhan dari penyakit perbuatan-perbuatan salah.

Selain itu, dengan berpuasa seseorang dapat membunuh hasrat diri dan nafsu keserakahan, dan dari situ akan timbul kesucian hati, kebersihan anggota badan, pengolahan jiwa dan raga, rasa syukur atas segala rahmat yang diberikan Allah.

Demikian pula sedekah untuk kaum miskin, meningkatnya permohonan yang terungkap dari kerendahan hati, kesederhanaan, penyesalan dan hampir semua cara untuk mencari perlindungan kepada Allah SWT.

Hal itu merupakan suatu cara untuk meringankan hal-hal yang buruk serta melipatgandakan perbuatan-perbuatan baik.

Di situ terkandung manfaat-manfaat yang tak terbilang banyaknya. Dan, pada bulan suci ini kita dituntut selalu bersabar.

Karena kesabaran itu menunjukkan cahaya dan kesucian yang ada di dalam bathin hamba-hamba Allah, sedangkan kecemasan menunjukkan kegelapan dan kesesatan dalam batin manusia.

Setiap orang menyatakan dirinya sabar, tetapi hanya orang yang rendah hati sajalah yang teguh didalamnya.

Setiap orang menyangkal kecemasannya, meskipun hal itu sangat jelas dalam diri seseorang munafik.

Sebab, serangan dari berbagai cobaan dan kesengsaraan akan memberitahukan siapa yang berkata benar dan siapa yang berdusta.

Kesabaran adalah suatu perasaan yang terus menerus mengendap dalam kesadaran seseorang, tapi apa yang terjadi dalam sebuah gangguan mendadak tidak dapat dinamakan kesabaran.

Kecemasan adalah yang mengusik hati dan mendatangkan kesedihan pada seseorang, sehingga mengubah wajah dan dirinya.

Setiap pekerjaan yang dimulai tanpa disertai kerendahan hati, penyesalan, dan permohonan tulus kepada Allah pasti datangnya dari orang yang cemas, dan bukan dari orang yang sabar.

Permulaan kesabaran itu pahit, tapi pada akhirnya akan terasa sangat manis. Syaikh Fadhlallah Haeri mengatakan, “Bersikap sabar itu bagaikan waktu yang membeku. Kesabaran merupakan suatu tanda penyerahan diri; jika kamu berserah diri sepenuhnya, kamu menuju akhir perkara itu.

Dengan bersabar, kamu mengurangi waktu menunggu, sebagaimana adanya, menuju saat nol. Sepanjang menyangkut masalah itu, ketika kesabaran dibutuhkan dengan individu.”

Karena itu, dalam bulan Ramadhan, selain ada juklak kehidupan yang madani sekaligus juga diberi sarana untuk mengamalkannya.

Wallahu A’lam Bish Shawab.

Aswan.Nasution
Penulis tinggal di Lombok, NTB.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *