ASAHAN – Di bawah gulita langit Perairan Tanjung Api, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, sebuah perjuangan hidup dan mati bertaruh dengan waktu. Kapal motor ikan KM. Mitra Jaya, yang sehari-harinya membelah ombak demi mencari nafkah, mendadak lumpuh lalu karam setelah dihantam kebocoran hebat pada bagian buritan, Selasa (2/6) malam sekitar pukul 19.00 WIB.
Semua bermula saat kapal pukat teri yang dinakhodai Kahwi (60) itu bertolak dari Tangkahan Tanjung Leidong pada Selasa dini hari. Tak ada yang menduga, petaka datang menjelang malam. Air laut tiba-tiba merangsek masuk dari buritan kapal yang bocor.
”Kami sudah berupaya maksimal, menghidupkan pompa Alkon untuk menguras air,” kenang Mul, salah satu Anak Buah Kapal (ABK) dengan tatapan masih menyisakan trauma. Namun, kekuatan manusia kalah cepat dari takdir. Hanya dalam waktu 15 menit, kapal tangguh itu menyerah dan tenggelam ke dasar laut.
Dari 23 jiwa yang terapung di kegelapan, mukjizat membawa 21 ABK berhasil diselamatkan dan kini telah kembali ke pelukan keluarga mereka. Namun, kisah ini belum sepenuhnya usai. Di balik rasa syukur, ada duka dan kecemasan yang mendalam. Dua putra bangsa, sang nakhoda tua Kahwi (60) dan seorang ABK bernama Jamil (47), hingga kini masih dinyatakan hilang ditelan ombak. Keduanya merupakan warga Tanjung Leidong, Labuhanbatu Utara.
Mendengar jeritan warganya di laut, TNI Angkatan Laut bergerak cepat. Memegang teguh semboyan Jalesveva Jayamahe—Di Laut Kita Jaya—prajurit dari Pos Binpotmar Kualuh Leidong dan Posal Berombang Lanal Tanjung Balai Asahan (TBA) langsung berpacu dengan waktu membelah ombak pada Rabu (3/6).
”Kami berkomitmen penuh dan mengerahkan seluruh kemampuan yang ada. Ini bukan hanya soal tugas, tapi soal menyelamatkan nyawa saudara sebangsa kami,” tegas pihak Lanal TBA.
Bahu-membahu dalam semangat gotong royong yang membumi, personel Lanal TBA bersinergi dengan Polairud Leidong, KPLP, Pos SAR Tanjungbalai Asahan, serta para nelayan setempat. Mereka menyisir setiap jengkal Perairan Tanjung Api, menantang arus demi membawa pulang Kahwi dan Jamil.
Hingga saat ini, operasi kemanusiaan terus dipacu. Di darat, doa-doa dari keluarga korban mengangkasa, berharap ada keajaiban bagi sang ayah dan suami yang belum kembali dari tugasnya menghidupi keluarga. TNI AL bersama seluruh unsur terkait menegaskan tidak akan mundur sebelum misi kemanusiaan ini tuntas. Bagi mereka, setiap nyawa masyarakat pesisir adalah kedaulatan yang harus dijaga dengan segenap jiwa dan raga. Misi pencarian masih berlanjut, membawa sejuta harapan di atas ombak Tanjung Api. (*/aga)







Komentar