oleh

Asia Grassroots Forum 2026: Membangun Pertumbuhan Inklusif di Tengah Disrupsi Global dan Era AI

JAKARTA – Dunia tengah menghadapi babak baru perubahan yang berlangsung cepat dan kompleks. Ketidakpastian ekonomi global, meningkatnya kesenjangan sosial, dinamika geopolitik, serta pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) mengubah cara masyarakat hidup, bekerja, dan menjalankan usaha.

Di tengah situasi tersebut, muncul satu pertanyaan penting: bagaimana memastikan pertumbuhan ekonomi tetap menciptakan peluang bagi seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya mereka yang memiliki akses terhadap modal, teknologi, dan sumber daya?

Pertanyaan tersebut menjadi fokus utama dalam The 2026 Asia Grassroots Forum yang diselenggarakan oleh Amartha Financial bersama International Finance Corporation (IFC), Accion, dan Women’s World Banking (WWB) pada 3-4 Juni 2026 di Jakarta.

Mengusung tema “Enabling Growth, Elevating Financial Health”, forum ini mempertemukan lebih dari 500 delegasi dari berbagai negara, mulai dari investor global, pembuat kebijakan, pemimpin bisnis, akademisi, organisasi pembangunan, hingga pelaku ekonomi akar rumput untuk membahas masa depan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Selama beberapa dekade terakhir, jutaan masyarakat di Asia berhasil memperoleh akses terhadap layanan keuangan. Namun tantangan berikutnya jauh lebih besar, yakni bagaimana memastikan akses tersebut mampu mendorong produktivitas, memperkuat ketahanan ekonomi keluarga, melindungi masyarakat dari risiko keuangan, serta membantu mereka mencapai tujuan finansial jangka panjang.

Hal ini menjadi semakin penting mengingat UMKM masih menjadi tulang punggung perekonomian Asia dengan kontribusi lebih dari 90 persen terhadap jumlah unit usaha dan penciptaan lapangan kerja, meski masih menghadapi kendala akses pasar, pembiayaan, serta kesenjangan kemampuan digital.

Dalam pidato pembukaan forum, Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi harus mampu menghadirkan kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat. Menurutnya, negara-negara Asia perlu terus mendorong produktivitas, kewirausahaan, dan inovasi agar manfaat pembangunan dapat dirasakan lebih merata. “Kemajuan yang sesungguhnya adalah ketika pertumbuhan mampu menjangkau lebih banyak orang,” ujar SBY.

Sejalan dengan pandangan tersebut, Founder dan CEO Amartha Financial, Andi Taufan Garuda Putra, menekankan bahwa masa depan pertumbuhan inklusif tidak hanya ditentukan oleh perluasan akses keuangan, tetapi juga oleh kemampuan ekosistem dalam membantu masyarakat akar rumput menjadi lebih produktif, adaptif, dan tangguh secara finansial.

Menurutnya, kewirausahaan, inovasi, dan kolaborasi harus menjadi fondasi utama dalam menghadapi berbagai perubahan yang terjadi saat ini. “Masa depan dipersiapkan oleh mereka yang mampu memanfaatkan teknologi untuk memperluas kesempatan dan menciptakan dampak yang lebih besar bagi masyarakat,” katanya.

Untuk mewujudkan visi tersebut, forum ini mengusung tiga pilar utama, yakni Capital, Technology, dan Community. Ketiganya menjadi kerangka kolaborasi lintas sektor guna memperkuat kesehatan finansial masyarakat akar rumput. IFC menyoroti pentingnya akses terhadap pembiayaan produktif bagi UMKM sebagai penggerak utama penciptaan lapangan kerja dan ketahanan ekonomi komunitas.

Sementara itu, Accion menekankan bahwa AI dan teknologi digital memiliki potensi besar untuk meningkatkan produktivitas usaha kecil, memperluas akses layanan keuangan, serta menghadirkan solusi yang lebih relevan bagi kelompok yang selama ini belum terlayani secara optimal.

Tidak kalah penting, forum ini juga menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi yang inklusif memerlukan fondasi komunitas yang kuat. Bagi kelompok akar rumput, khususnya perempuan, kesehatan finansial tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga terhadap keluarga, usaha, dan lingkungan sosial di sekitarnya.

Sebagai bentuk komitmen nyata, Amartha bersama sejumlah mitra meluncurkan Indonesian Coalition for Financial Health (ICFH), sebuah inisiatif lintas sektor yang bertujuan mempercepat riset, inovasi, dan kolaborasi guna meningkatkan kesehatan finansial masyarakat Indonesia, terutama perempuan, pelaku UMKM, petani kecil, dan komunitas akar rumput.

Selama dua hari penyelenggaraan, para peserta membahas berbagai isu strategis yang diperkirakan akan menentukan arah pembangunan ekonomi Asia dalam satu dekade ke depan. Mulai dari masa depan kewirausahaan di era AI, strategi mobilisasi modal untuk pertumbuhan inklusif, hingga pengembangan ekosistem yang mampu mendukung lahirnya inovasi dan memperluas dampaknya bagi masyarakat.

Menutup forum, Andi Taufan menegaskan bahwa Asia Grassroots Forum dan Indonesian Coalition for Financial Health diharapkan menjadi wadah kolaborasi yang mampu menghasilkan solusi nyata bagi ekonomi akar rumput. Dengan menghadirkan akses modal yang lebih inklusif, teknologi yang lebih relevan, serta komunitas yang semakin kuat, jutaan keluarga dan pelaku UMKM diharapkan dapat meningkatkan daya saing, memperkuat ketahanan ekonomi, dan menciptakan masa depan yang lebih sejahtera. (din)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *