oleh

BKKBN Cegah Kelahiran Preamtur untuk Menekan Jumlah Anak Stunting

POSKOTA.CO-“Angka prevelensi stunting kita masih sangat tinggi yaitu 27% dan tentunya kita harus bahu membahu dalam menyelesaikan persoalan ini. Salah satunya tentunya kita ingin lebih memperdalam lagi hal-hal yang berkaitan dengan prematuritas.

“Seperti kita ketahui bahwa angka kelahiran masih sangat tinggi di Indonesia dan ini merupakan sumber dari lahirnya anak-anak stunting,” kata Plt. Deputi Bidang Pengendalian Penduduk BKKBN Dr. Ir. Dwi Listyawardani, M.Sc., Dip.Com pada Webinar Cegah Kelahiran Prematur Dalam Upaya Menurunkan Stunting, Sabtu/27/11/2021.

Menurut Dwi, faktor gizi memang menjadi persoalan, oleh karena itu tentunya ini harus segera dilakukan tindakan-tindakan pencegahan melalui intervensi gizi baik gizi mikro maupun gizi makro. Dengan demikian upaya untuk mencerdaskan masyarakat, menggerakkan masyarakat, memberdayakan masyarakat menjadi hal yang sangat _urgent_ untuk dilakukan.

Beberapa langkah strategis yang akan dilakukan oleh BKKBN terutama adalah bagaimana mencegah terjadinya prematuritas diantaranya adalah melalui pengawalan calon pengantin perempuan, seperti yang kita ketahui bahwa calon pengantin di Indonesia 40% diantaranya mengalami anemia dan ini menjadi salah satu penyebab terjadinya prematuritas karena ada kurang lebih 48% kalau tidak salah yang kita peroleh dari RISKESDAS bahwa kelahiran prematur 48% dikarenakan anemia”, imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) dr. Ari Kusuma Januarto, Sp.OG (K) menjelaskan, “Pertumbuhan janin terhambat, merupakan ketidakmampuan dari janin untuk mempertahankan pertumbuhan sesuai standar yang diharapkan berdasarkan kurva pertumbuhan terstandarisas, dengan atau tanpa KMK (kecil sesuai masa gestasi). Prevelensi PJT ini mencapai 3-10%, pada penelitian di 4 pusat Fetomaternal di Indonesia tahun 2004-2005: sebanyak 571 bayi KMK dari 14.702 persalinan (4,40%). Angka mortalitas tinggi PJT lebih tinggi 3-8x dibandingkan bayi lahir normal”, jelas dr. Ari. Bayi prematur memiliki lebih banyak masalah kesehatan dibandingkan bayi yang lahir dengan bulan yang cukup. Diantaranya masalah pada organ otak, paru-paru, jantung, dan mata. Beberapa bayi prematur harus dirawat di NICU agar mendapat perawatan khusus. Keluarga adalah peranan yang paling penting untuk mencegah bayi terlahir stunting, agar selalu memberikan nutrisi yang baik, perencanaan keluarga, akses, faskes dan melaksanakan kegiatan pola hidup sehat”, tambahnya.

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A (K)

Sementara itu, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A (K) juga menerangkan, “Resiko bayi prematur yang dikhawatirkan saat ini adalah mengalami stunting, pertumbuhan bayi terhambat dan gagal kejar tumbuh. Terdapat _syndrome_ stunting adalah sebuah penyakit yang bisa berulang, Ketika tidak mempunyai strategi siklus pemutus, biasanya dari ibunya kekurangan gizi dari protein hewani, bukan hanya nabati”, terang dr. Piprim.

“Penting untuk bayi selama 6 bulan pertama tercukupi pemasukan gizinya, salah satunya melalui asi eksklusif. Cara agar menjaga kualitas asi dengan banyak minum air putih serta makan protein hewani.  Yang dikhawatirkan jika ibu kekurangan nutrisi adalah selain stunting dapat terjadi _syndrome metabolic_ ”, tambah dr. Piprim. (*/fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *