JAKARTA–Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyelenggarakan “Lokakarya Peninjauan Pelaksanaan Program PASTI (Partnership to Accelerate Stunting Reduction in Indonesia) Semester 1 Tahun 2024 dan Focus Group Discussion Pelaksanaan Program PASTI di Semester 2 Tahun 2024” (31/7).
Program PASTI adalah program kemitraan antara BKKBN dengan United States Agency for International Development (USAID), Tanoto Foundation, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), PT Bank Central Asia Tbk, dan Yayasan Bakti Barito yang diimplementasikan oleh Wahana Visi Indonesia sebagai mitra pelaksana utama.
Program PASTI mendukung BKKBN dalam percepatan penurunan stunting di empat provinsi di Indonesia hingga 2027 melalui berbagai pendekatan di berbagai tingkat mulai dari remaja, calon pengantin, keluarga, hingga pemangku kepentingan terkait.
Pada lokakarya tersebut hadir Pimpinan Tinggi Madya BKKBN, Pejabat Tinggi Pratama BKKBN, serta mitra pendanaan dan pelaksana program PASTI. Turut hadir pula Kepala Perwakilan BKKBN provinsi dampingan PASTI dan Kepala Organisasi Perangkat Daerah Kependudukan dan Keluarga Berencana (OPDKB) dari 16 kabupaten dampingan PASTI.
Sejak diluncurkan pada tahun 2023, PASTI melakukan tiga pendekatan program untuk mendukung percepatan penurunan stunting. Pertama, intervensi gizi terpadu berbasis konteks lokal dan komunikasi perubahan perilaku yang menyasar keluarga berisiko stunting. Kedua, peningkatan kesadaran terkait stunting bagi remaja dan calon pengantin. Ketiga, penguatan kelembagaan antar pemangku kepentingan.
PASTI Lakukan Implementasi di 4 Propinsi
Hingga Juni 2024, PASTI telah melakukan implementasi di 4 provinsi, 14 kabupaten, 44 kecamatan, dan 547 desa. PASTI telah melakukan kampanye perubahan perilaku (KPP) bagi 2.354 orang tua/pengasuh anak usia di bawah dua tahun (baduta), melaksanakan program Pos Gizi DASHAT bagi 2.476 baduta berisiko stunting, peningkatan kesadaran tentang stunting melalui forum Generasi Berencana (GenRe) bagi 4.183 remaja usia 15-19 tahun, pendampingan bagi 720 calon pengantin untuk melakukan pemeriksaan kesehatan, dan peningkatan kapasitas bagi 1.939 anggota Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS).
Untuk mewujudkan lingkungan masyarakat yang suportif bagi keluarga 1.000 HPK dan remaja, PASTI juga telah memberikan peningkatan kapasitas kepada 672 agen perubahan di area implementasi yang meliputi tenaga kesehatan, pegawai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang relevan, Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB), Bintara Pembina Desa (Babinsa), fasilitator dan relawan program Pos Gizi DASHAT, hingga fasilitator pelatihan TPPS.
PASTI juga telah meningkatkan kapasitas 74 fasilitator Tim Pendamping Keluarga (TPK) di tingkat kabupaten agar dapat melatih TPK yang berada di desa dalam melaksanakan kampanye perubahan perilaku, pendampingan bagi calon pengantin, dan melakukan mekanisme rujukan.
Mewakili Kepala BKKBN dr Hasto, Plt Deputi bidang Pelatihan, Penelitian dan Pengembangan BKKBN dr. Irma Ardiana, MAPS mengapresiasi dan pembelajaran dari implementasi dan capaian program PASTI hingga semester pertama 2024. “Kita sangat berterimakasih terkait program PASTI yang ini selaras dengan Rencana Aksi Nasional Percepatan Penurunan Angka Stunting di Indonesia, jadi klop sekali,” kata dr. Irma.
Lokakarya ini diselenggarakan untuk membagikan capaian, praktik baik, dan tantangan dalam pelaksanaan program PASTI hingga semester pertama tahun ini.
Kegiatan ini diharapkan dapat melahirkan ide maupun strategi baru untuk mengoptimalkan pelaksanaan program PASTI di semester kedua tahun 2024. Sehingga program kemitraan ini dapat berkontribusi mempercepat penurunan stunting seperti yang dicanangkan Pemerintah Republik Indonesia.
Dokter Irma menambahkan, “strategi dan tindak lanjut akan dilakukan untuk mengoptimalisasi PASTI dalam mencapai target penurunan prevalensi stunting yang dimandatkan kepada BKKBN,” tukasnya. (*/fs)







Komentar