oleh

BKKBN Sinergikan Program Sekolah Siaga Kependudukan dan Gerakan Sekolah Sehat

JAKARTA – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menekankan pentingnya pengetahuan dan pemahaman bagi masyarakat mengenai isu kependudukan dan stunting agar tumbuh kesadaran, sikap, dan perilaku hidup bersih dan sehat serta berwawasan kependudukan. Sehingga tercipta generasi emas yaitu generasi berencana yang sehat, kuat, cerdas dan berkarakter. Strategi paling efektif adalah melalui pendidikan yang diberikan sejak dini.

Untuk itu, BKKBN membentuk Program Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) sebagai salah satu kebijakan dan strategi pada jalur pendidikan formal untuk meningkatkan pengetahuan kepada anak dan remaja tentang Program Pembangunan Keluarga, Kependududukan dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) serta percepatan penurunan stunting.

SSK adalah sekolah yang mengintegrasikan materi Program Bangga Kencana ke dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Tidak hanya itu, SSK diharapkan dilakukan melalui berbagai kegiatan kesiswaan baik melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler, bimbingan konseling dan penyediaan Pojok Kependudukan.

“Pada prinsipnya implementasi SSK merupakan investasi jangka panjang, yang mana hasilnya tidak secara langsung kita dapatkan, namun menjadi bekal para generasi muda dalam merencanakan kehidupannya di masa depan kelak,” ujar Direktur Kerjasama Pendidikan Kependudukan, Dr. Indra Murty Surbakti, MA mewakili Deputi bidang Pengendalian Penduduk.

Hal tersebut disampaikan dalam ‘Webinar Sinergitas Program Sekolah Siaga Kependudukan dan Gerakan Sekolah Sehat Untuk Mewujudkan Generasi Emas 2045’ yang diselenggarakan di Hotel Swiss-Belresidences, Jakarta serta ditayangkan secara live pada kanal Youtube BKKBN Official pada Selasa (27/08/2024).

Sinergitas Program

Sejalan dengan tujuan Program SSK, pada 2024, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) mengampanyekan Gerakan Sekolah Sehat (GSS).

Kurikulum Merdeka menetapkan 4 pendekatan pembelajaran yang salah satunya mengusung konsep integrasi. Ini menjadi peluang bagi SSK untuk diintegrasikan dalam mata Pelajaran.

Keselarasan antara Program SSK dan GSS sebagai program yang diimplementasikan di sekolah yang berorientasi pada pembangunan manusia. Juga tercermin dalam tujuan yang sama, yaitu membentuk generasi Emas 2045 sebagai salah satu syarat untuk mewujudkan Visi Indonesia 2045.

Fokus GSS adalah menciptakan anak Indonesia yang sehat, kuat, cerdas dan berkarakter dalam 5 Fokus Sehat. Hal tersebut sejalan dengan tujuan Program SSK yaitu membentuk generasi yang mampu menghadapi tantangan dan permasalahan kependudukan saat ini dan di masa depan. Seperti menghindari perilaku seks bebas, pernikahan dini, narkoba, stunting, peduli lingkungan dan permasalahan kependudukan lainnya.

Sudah sekian lama Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) diterapkan di  satuan pendidikan, namun hal itu belum menunjukkan hasil yang maksimal. Berdasarkan Survey stratifikasi UKS di SD (2020) dan di SMA (2021) menunjukkan bahwa 59,96% SD dan 84,9% SMA peserta survei belum mencapai strata minimal. Hal ini melatarbelakangi digaungkannya kampanye GSS oleh Kemendikbud yang mana mengimplementasikan Fokus 5 Sehat yaitu Sehat Bergizi, Sehat Fisik, Sehat Imunisasi, Sehat Jiwa, dan Sehat Lingkungan.

“Hal terpenting dari kampanye ini adalah pembiasaan yang dilakukan oleh peserta didik dan dilakukan di satuan pendidikan secara sederhana, terus-menerus, berkelanjutan dan tidak membutuhkan infrastruktur yang khusus,” ujar Dr. Nia Nurhasanah,S.Si, M.Pd dari Kemendikbudristekdikti.

Peran Remaja

Lebih jauh, pemateri selanjutnya yang mewakili Direktur Bina Ketahanan Remaja, Priyanti, SE., MPH membagikan materi mengenai program-program yang bertujuan untuk pembentukan karakter remaja. Program ini dinilai penting, karena proporsi remaja di Indonesia cukup besar, mencakup 25,87% dari total populasi atau sejumlah 69,9 juta jiwa (Sensus Penduduk 2020, BPS 2020).

“Remaja diharapkan menjadi agen pembangunan yang bisa produktif, menjadi SDM yang berkualitas dan tangguh. Diharapkan remaja dapat mengenyam pendidikan sehingga mendapatkan pekerjaan yang layak dan dapat menghidupi dirinya kelak. Pada ujungnya mampu merencanakan kehidupan berkeluarga,” ujar Priyanti.

Best Practice

SMAN 1 Dumai tampil berbagi ‘best practice’ sebagai sekolah yang berhasil mengintegrasikan Program Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) dan Gerakan Sekolah Sehat (GSS). Kepala Sekolah, Rafles, S.Pd, menyebutkan bahwa sekolahnya mengampanyekan kedua program tersebut kepada para siswa dengan membiasakan kegiatan baik yang masuk dalam 5 Fokus Sehat.

“Di samping kami sebagai sekolah penggerak, sebagai SSK, kami dituntut untuk memberikan pengimbasan dan kemitraan dengan beberapa sekolah yang ada di sekitar wilayah Kabupaten Bengkalis, yang mana materinya tentang Kurikulum Merdeka dan SSK, termasuk Program GSS. Semuanya sejalan,” ujar Rafles.

Lebih lanjut Kepala SMAN 1 Dumai ini menjabarkan inovasi-inovasi dan kreatifitas pengembangan pendidikan kependudukan, antara lain dalam pengembangan metode Teknik pembelajaran, pembuatan jingle dan yel-yel SSK, optimalisasi pojok kependudukan, kegiatan project penguatan profil Pelajar Pancasila (PS) yang memuat substansi Bangga Kencana, dan edukasi pencegahan stunting yang diciptakan sekolah.(*/fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *