JAKARTA – Pemprov DKI Jakarta saat ini tengah mengkaji untuk memanfaatkan olahan ikan sapu-sapu yang kononbagus untuk pakan ternak maupun pupuk. Untuk itu pemerintah sangat terbuka terhadap berbagai masukan dari masyarakat.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta Hasudungan Sidabalok pihaknya bersama instansi terkait terus mengkaji tentang pemanfaatan bangkai ikan sapu-sapu. Artinya, jangan bangkai ikan tersebut cuma menjadi sampah yang mengganggu lingkungan, melainkan dapat dimanfaatkan menjadi barang produktif apapun kegunaannya.
“Untuk saat ini ada masukan dari masyarakat bahwa ikan sapu-sapu dapat dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman maupun pakan ternak. Tapi tidak tertutup kemungkinan bisa diolah untuk manfaat lainnya, bahkan mungkin juga bisa untuk obat-obatan herbal. Kami sangat terbuka terhadap berbagai masukan dari masyarakat,” tandas Hasudungan di Jakarta, Kamis (23/4).
Sebagaimana diketahui sejak awal April lalu Pemprov DKI Jakarta membuka perang terhadap ikan sapu-sapu yang keberadaannya dinilai sudah berubah menjadi wabah karena saking banyak populasinya yang mendominasi di seluruh sungai dan saluran penghubung di Ibukota. Ikan sapu-sapu menjadi predator bagi biota perairan sehingga perkembang-biakan berbagai jenis ikan lainnya sangat terganggu. Selain memangsa makhluk hidup di perairan secara rakus, kawanan ikan bersisik tebal ini dianggap telah merusak ekosistem perairan.
Secara terpisah, Walikota Jakarta Selatan Muhammad Anwar mengungkapkan bahwa penanganan ikan sapu-sapu di wilayahnya tidak hanya sebatas pembersihan, tetapi juga tengah dikaji untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak, salah satunya dilakukan di perairan Setu Babakan.
Anwar menegaskan komitmennya dalam penanganan ikan sapu-sapu di sejumlah wilayah perairan, termasuk Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan. “Kalau hulunya kami benahi, hilirnya akan lebih ringan. Pada hari pertama kami sudah mendapatkan 5,3 ton ikan sapu-sapu,” ujar Anwar.
Upaya tersebut dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan berbagai pihak terkait. Mulai unsur Pemkot Jakarta Selatan, Dinas KPKP DKI Jakarta, kecamatan, kelurahan, hingga petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU). “Perburuan ikan sapu-sapu dijadwalkan rutin setiap Selasa dan Jumat,” tandas Anwar.
Sementara itu, langkah pengawasan terhadap peredaran siomay yang diduga menggunakan bahan ikan sapu-sapu oleh pedagang guna memastikan keamanan pangan bagi masyarakat turut melibatkan Dinas KPKP dan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
“Kami harus bawa timnya dari KPKP yang betul-betul mengerti kandungan makanan ini, BPOM juga, bener enggak pedagang menggunakan ikan sapu-sapu,” tutur dia.
Lebih lanjut, Pemerintah Kota Jakarta Selatan menegaskan pendekatan yang dilakukan tak bersifat mendadak atau represif dengan pemeriksaan secara terukur agar tidak merugikan para pedagang kecil. “Jangan sampai kami entar main sergap aja akhirnya kasihan pedagangnya,” kata Anwar.
Terkait metode pemusnahan, Anwar mengatakan pihaknya memperhatikan masukan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). “Tentu saja sebelum ikan dikubur, terlebih dulu dimatikan. Dipukul pakai golek dan lainnya pada bagian tubuh yang mematikan, baru dikubur. Tidak mungkin kita main kubur hidup-hidup,” pungkas Anwar. (jo)







Komentar