oleh

Di Balik Tembok Lapas Tangerang, Semangat Kemerdekaan Tetap Menyala

TANGERANG — Tawa dan sorak-sorai terdengar dari balik tembok Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II Tangerang, Jumat (14/8/2026). Menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, suasana di dalam lapas sejenak berubah.

Petugas dan warga binaan meninggalkan rutinitas pembinaan untuk mengikuti berbagai perlombaan khas perayaan 17 Agustus. Ada tenis meja, futsal, catur, bola voli, hingga sejumlah lomba tradisional seperti balap karung, makan kerupuk, memasukkan paku ke dalam botol, dan menghias tumpeng.

Sorak dukungan terdengar setiap kali peserta berusaha menjadi yang terbaik. Warga binaan yang tidak ikut berlomba pun turut menikmati suasana dengan memberikan semangat kepada peserta. Namun, di balik kemeriahan itu, perlombaan bukan sekadar tentang siapa yang menjadi juara.

Bagi petugas dan warga binaan, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk bercengkerama, tertawa bersama, sekaligus membangun kembali rasa kebersamaan di tengah lingkungan pembinaan.

“Antusiasnya alhamdulillah cukup meriah dan mereka juga senang,” ujar Ketua Panitia Lomba Kemerdekaan, Faiz Fakhri Isjawara kepada Poskota Online, Jumat (14/8/2026).

Menurut Faiz, kegiatan sengaja dikemas tidak hanya untuk memeriahkan HUT ke-81 RI, tetapi juga mempererat hubungan antara petugas dan warga binaan.

“Yang paling penting bukan menang atau kalah. Kita ingin mereka bisa menikmati suasana kemerdekaan bersama-sama dan membangun rasa solidaritas serta kekeluargaan,” katanya.

Interaksi yang terbangun melalui perlombaan, lanjut Faiz, membuat suasana di lingkungan lapas menjadi lebih cair.

“Jadi bisa saling mengenal satu sama lain. Harapannya hubungan yang sudah baik ini bisa terus terjaga dalam proses pembinaan,” ujarnya.

Kepala Lapas Kelas II Tangerang Mohammad Fadil mengatakan, semangat kemerdekaan tidak mengenal batas tempat. Termasuk bagi mereka yang saat ini tengah menjalani masa pembinaan di balik tembok lapas.

“Kemerdekaan ini milik kita bersama. Di dalam lapas pun semangat kemerdekaan harus tetap tumbuh, melalui kebersamaan, kekompakan dan kegiatan-kegiatan positif,” ujar Fadil.

Ia menilai kegiatan seperti perlombaan menjadi bagian dari proses menciptakan suasana pembinaan yang lebih positif dan humanis.

Menurut Fadil, pembinaan terhadap warga binaan tidak cukup hanya melalui aturan dan kedisiplinan. Ada sisi kemanusiaan yang juga perlu dibangun agar warga binaan memiliki ruang untuk berinteraksi, bersosialisasi, dan kembali menumbuhkan rasa percaya diri.

“Pembinaan itu bukan hanya soal aturan dan kedisiplinan. Ada sisi kemanusiaan yang juga harus kita bangun. Mereka perlu diberikan ruang untuk berekspresi, bersosialisasi dan merasakan kebersamaan,” katanya.

Fadil berharap nilai-nilai yang muncul selama kegiatan, seperti kekompakan, disiplin, solidaritas, dan semangat untuk berubah, dapat menjadi bagian dari proses pembinaan warga binaan.

“Kita ingin membangun suasana yang humanis, penuh kekeluargaan, tetapi tetap dalam koridor pembinaan. Mudah-mudahan semangat ini bisa menjadi motivasi bagi warga binaan untuk terus berubah menjadi lebih baik,” ujar Fadil.

Di tengah riuh perlombaan, makna kemerdekaan terasa dalam bentuk yang sederhana. Tertawa bersama. Berkumpul. Memberikan semangat kepada orang lain.

Hal-hal yang mungkin terlihat biasa di luar tembok lapas, tetapi menjadi berarti bagi mereka yang sedang menjalani masa pembinaan.

Fadil mengatakan, pengalaman tersebut diharapkan menjadi pengingat bahwa proses pembinaan bukan semata-mata tentang menjalani hukuman. Ada harapan yang lebih besar: mempersiapkan warga binaan agar suatu hari dapat kembali ke tengah masyarakat dengan membawa perubahan.

“Jangan sampai semangat kemerdekaan hanya dirasakan pada saat lomba. Kita ingin semangat kebersamaan, disiplin dan keinginan untuk berubah itu terus dibawa dalam kehidupan mereka,” katanya. (Imam/fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *