oleh

Hamil di Usia Rawan? Dokter RS Sari Asih Ingatkan Bahaya Hamil Anggur dan Faktor Risikonya

TANGERANG – Kehamilan pada usia tertentu membutuhkan pengawasan dan kewaspadaan ekstra. Pasalnya, faktor usia ternyata sangat memengaruhi risiko terjadinya kelainan genetik pada masa awal pembuahan, salah satunya adalah ancaman hamil anggur (mola hidatidosa).
Hamil anggur merupakan kondisi di mana jaringan plasenta tumbuh secara abnormal menjadi gelembung-gelembung berisi cairan, alih-alih berkembang menjadi janin yang sehat. Meski alat tes kehamilan (test pack) menunjukkan hasil positif, janin sebenarnya tidak berkembang sama sekali atau berkembang secara tidak sempurna.
Dokter Spesialis Kandungan RS Sari Asih Karawaci, dr. Agus Hermawan, Sp.OG, menjelaskan bahwa kelainan ini bermula dari proses genetik yang gagal, seperti kelebihan kromosom dari sperma atau kegagalan sel telur dalam memberikan materi genetik yang cukup.
Berdasarkan penjelasan dr. Agus, terdapat beberapa kelompok perempuan yang dinilai memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap kasus hamil anggur. Berikut adalah faktor risiko utama yang wajib diwaspadai:
Faktor Usia: Ibu yang hamil di usia terlalu muda (di bawah 20 tahun) atau di usia matang (40 tahun ke atas) memiliki risiko yang jauh lebih besar.
Defisiensi Nutrisi: Kekurangan asupan gizi penting, khususnya asam folat dan karoten pada masa persiapan hingga awal kehamilan.
Riwayat Medis: Pernah mengalami kasus hamil anggur pada kehamilan sebelumnya.
Faktor Keturunan: Pernikahan sedarah (inbreeding) yang secara medis dapat meningkatkan risiko terjadinya kelainan genetik bawaan.
Jangan Terkecoh, Kenali Gejalanya Sejak Dini
Kelompok perempuan yang masuk dalam kategori rentan di atas sangat disarankan untuk lebih peka terhadap perubahan tubuhnya. Menurut dr. Agus, gejala awal hamil anggur sangat mirip dengan kehamilan normal, namun akan memunculkan tanda-tanda yang lebih ekstrem seiring waktu.
Beberapa tanda yang patut diwaspadai meliputi mual dan muntah yang jauh lebih parah, ukuran perut membesar lebih cepat dari usia kehamilan, keluarnya kista cair melalui vagina, hingga perdarahan tidak normal berwarna cokelat atau merah terang.
Jika dibiarkan, jaringan abnormal ini berisiko berubah menjadi koriokarsinoma, yakni sejenis kanker ganas yang bersarang di jaringan plasenta.
“Meskipun hamil anggur tidak selalu dapat dicegah, risikonya dapat dikurangi dengan konsumsi makanan bergizi yang kaya asam folat serta rutin melakukan pemeriksaan USG sejak dini,” tegas dokter kandungan RS Sari Asih tersebut, Jumat (14/08/2026).
Lewat pemeriksaan USG di trimester pertama, dokter dapat memastikan apakah janin berkembang normal atau tidak (tidak ada detak jantung).
“Jangan ragu berkonsultasi dengan dokter kandungan jika mengalami gejala mencurigakan. Dengan deteksi dini dan penanganan yang cepat seperti kuretase, hamil anggur dapat ditangani tanpa menimbulkan komplikasi serius di masa depan,” saran dr. Agus. (Imam/fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *