BOGOR – Kesehatan satwa yang berada di kawasan Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua, Kabupaten Bogor, dipastikan tetap terjaga, meski jumlah wisatawan mengalami peningkatan, terutama pada akhir pekan.
Pemantauan kesehatan satwa dilakukan secara berkala oleh tim dokter hewan TSI. Pemeriksaan disesuaikan dengan jenis dan kondisi masing-masing satwa, termasuk pemantauan terhadap potensi penyakit maupun parasit.
Guru Besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, Prof. Dr. drh. Huda Shalahudin Darusman, M.Si., mengatakan, tingginya jumlah pengunjung tidak secara langsung memengaruhi kondisi kesehatan satwa di TSI.
Menurutnya, aktivitas wisatawan tidak mengubah aspek utama dalam pemeliharaan satwa, seperti pola makan, perawatan, maupun ketersediaan tenaga yang menangani hewan.
“Pengunjung tidak berpengaruh terhadap kesehatan satwa karena tidak mempengaruhi aspek makan, perawatan, staf dan lainnya,” ujar Prof Huda, Sabtu (8/8/2026).
Kepala Program Studi Primatologi IPB University tersebut menjelaskan, frekuensi pemeriksaan kesehatan di TSI bergantung pada jenis satwa yang ditangani.
Namun, pemeriksaan umum oleh dokter hewan dilakukan secara rutin, termasuk minimal satu kali dalam sebulan untuk pengawasan parasit.
Ia menekankan, pentingnya pemeriksaan secara berkala sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan dan keberlangsungan satwa di kawasan konservasi sekaligus wisata tersebut.
“Dibutuhkan pengecekan berkala atas kesehatan hewan di TSI,” katanya.
Prof Huda juga menanggapi pembangunan rumah sakit hewan di kawasan TSI. Menurutnya, keberadaan fasilitas tersebut bukan sekadar untuk meningkatkan layanan pengobatan satwa, tetapi merupakan pengembangan fungsi rumah sakit hewan ke arah yang lebih luas.
Liaison Officer kerja sama IPB-TSI itu menyebut, rumah sakit hewan yang tengah dibangun, akan menjadi bentuk transformasi dari fasilitas, yang sebelumnya lebih berorientasi, pada pelayanan operasional, dan pengobatan satwa.
“Menjadi rumah sakit berbasis riset dan akademik,” tegasnya.
Dengan konsep tersebut, fasilitas kesehatan hewan diharapkan, tidak hanya mendukung penanganan medis, tetapi juga dapat menjadi bagian, dari kegiatan penelitian dan akademik yang berkaitan dengan satwa.
Selain kesehatan, keberlangsungan populasi satwa di TSI juga berkaitan dengan pengelolaan genetik.
Prof Huda menegaskan, bahwa perkawinan silang antar populasi atau jenis satwa yang tidak semestinya bukan menjadi solusi untuk menjaga keberlangsungan satwa.
Menurutnya, prinsip utama dalam pengelolaan satwa adalah mempertahankan kemurnian genetik.
“Secara prinsip, tidak dibenarkan untuk perkawinan silang. Sebisa mungkin harus menjaga kemurnian genetik,” ujarnya.
Pernyataan tersebut juga disampaikan dokter hewan TSI, Drh Bongot H Mulia, M.Si.
Ia menilai, aktivitas wisatawan, tidak memberikan dampak langsung terhadap kesehatan satwa selama aspek pemeliharaan, pemberian pakan, dan perawatan tetap berjalan sesuai standar.
Drh. Bongot juga menegaskan pentingnya menjaga kemurnian genetik dalam pengelolaan satwa.
“Secara prinsip, tidak dibenarkan untuk perkawinan silang karena akan menghilangkan kemurnian genetik,” katanya.
Ia menambahkan, pengelolaan reproduksi satwa perlu dilakukan dengan mempertimbangkan aspek biologis dan genetik, sehingga keberadaan populasi tetap terjaga dalam jangka panjang.
“Kemurnian genetik hewan harus dijaga. Kemurnian genetik akan hilang jika dilakukan perkawinan silang.”
Dengan pemeriksaan kesehatan rutin, dukungan fasilitas medis, serta pengelolaan reproduksi yang memperhatikan aspek genetik, kesehatan dan keberlangsungan satwa di TSI diharapkan tetap terjaga di tengah tingginya aktivitas wisatawan. (yopy/in)







Komentar