JAKARTA – Direktur Politeknik Negeri Media Kreatif (Polimedia), Dwi Riyono, ST, M.Ak, Ph.D menegaskan komitmennya untuk membawa institusinya dalam mengembangkan pendidikan vokasi berbasis industri melalui penguatan riset kreatif dan pembelajaran yang adaptif terhadap kebutuhan dunia kerja. Hal tersebut disampaikan kepada media sebagai tindak lanjut arahan Menteri Pendidikan Tinggi, Sanis dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto untuk mendorong pengembangan riset yang tidak hanya inovatif, tetapi juga berdampak nyata bagi masyarakat.
Menurut Dwi Riyono, salah satu pesan utama dari Menteri adalah pentingnya mengembangkan riset kreatif yang mampu menghasilkan paten serta mendorong hilirisasi produk.
“Riset-riset kreatif harus mampu melahirkan paten dan menghasilkan produk yang bisa dihilirisasi, sehingga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat dan industri,” ujar Dwi didampingi Wadir Perencanaan, Keuangan & Umum Cholid Mawardi, dan Wadir Kemahasiswaan & Alumni Dayu Sri Herti, Rabu (1/4/2026).
Ia menambahkan, arah pengembangan ini menjadi bagian penting dalam memperkuat peran perguruan tinggi vokasi sebagai penghasil solusi, bukan sekadar lulusan.
Ke depan, Polimedia akan mengembangkan sistem pembelajaran yang berorientasi pada kebutuhan industri melalui penguatan proses belajar mengajar (PBM) berbasis teaching learning center. “Kita merencanakan pembelajaran sebagai teaching learning sebetulnya. Jadi pembelajaran memang sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh industri. Lalu kemudian juga target-target kompetensinya juga, target-target kompetensi yang memang dibutuhkan masyarakat dan dunia kerja seperti itu,” tutur Dwi Riyono.
Model ini dirancang agar kurikulum disusun bersama industry, kompetensi lulusan sesuai kebutuhan pasar kerja dan pembelajaran mampu menjawab tantangan nyata di masyarakat
“Kami ingin pembelajaran benar-benar relevan dengan kebutuhan industri dan masyarakat, sehingga lulusan siap kerja dan mampu berkontribusi,” jelasnya.
Fokus pada Penyelesaian Masalah Nasional
Selain merencanakan model pembelajaran yang lebih adaptif pada industry dan dunia kerja kreatif, Polimedia juga mulai mengarahkan proses pembelajaran untuk berkontribusi dalam menyelesaikan berbagai persoalan bangsa. Salah satu contohnya adalah dukungan terhadap program pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sebagai kampus yang memiliki program studi seni kuliner, Polimedia melihat peluang besar untuk terlibat dalam program tersebut. “Kita memang ada seni kuliner gitu ya dan memang itu sangat relevan sekali untuk kita. Jadi kita harus kita bantu berkontribusi terkait dengan MBG itu,” terangnya.
Dwi Riyono menjelaskan bahwa pihaknya telah mulai mengarahkan riset dosen untuk mendukung implementasi program MBG, khususnya dalam aspek teknis dan keberlanjutan. Salah satu fokus riset adalah pengelolaan limbah dari program tersebut.
“Pengelolaan sampah dari MBG menjadi perhatian, karena volumenya cukup besar. Saat ini dosen kami sudah mulai melakukan riset terkait hal tersebut,” ungkapnya.
Selain itu, kontribusi juga dilakukan dalam aspek penyajian makanan. Polimedia melalui program studi seni kuliner berupaya meningkatkan kualitas presentasi makanan agar lebih menarik bagi penerima manfaat, khususnya anak-anak sekolah.
“Penyajian makanan juga penting agar menarik dan meningkatkan minat konsumsi, tidak hanya memenuhi standar gizi,” tambahnya.
Dukung Ketahanan Ekonomi Kreatif
Langkah ini juga sejalan dengan visi besar pemerintah dalam memperkuat ketahanan ekonomi kreatif sebagai bagian dari agenda pembangunan nasional.Polimedia berupaya memastikan bahwa kompetensi mahasiswa mampu menjawab tantangan tersebut, baik melalui inovasi produk kreatif maupun kontribusi di berbagai sektor strategis.
Selain pengembangan kurikulum dan riset, Polimedia juga berencana meningkatkan fasilitas pembelajaran dan lingkungan kampus guna mendukung kreativitas mahasiswa.
Beberapa langkah yang akan dilakukan antara lain penguatan laboratorium dan fasilitas produksi, peningkatan kualitas lingkungan belajar dan penciptaan atmosfer kampus yang mendorong kreativitas
“Kami ingin membangun lingkungan yang mampu menstimulus dan memicu kreativitas mahasiswa dalam setiap aspek pembelajaran,” jelas Dwi.
Dengan berbagai langkah tersebut, Polimedia berharap dapat menjadi pusat pendidikan vokasi unggulan yang tidak hanya menghasilkan lulusan kompeten, tetapi juga inovator yang mampu memberikan solusi bagi berbagai tantangan bangsa.
Transformasi ini diharapkan memperkuat peran perguruan tinggi vokasi dalam mendukung pembangunan nasional, khususnya di sektor industri kreatif dan ekonomi berbasis inovasi. (in)







Komentar