oleh

Keutamaan Berjamaah Salat Isya dan Subuh

RASULULLAH shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Perumpamaan shalat lima waktu seperti sebuah sungai yang airnya mengalir dan melimpah dekat pintu rumah seseorang yang tiap hari mandi di sungai itu lima kali.” (HR. Bukhari dan Muslim.).

Di antara memelihara shalat dan mendirikannya lagi ialah, membiasakan diri untuk shalat berjama’ah. Sebab shalat berjama’ah itu melebihi shalat seorang diri dengan dua puluh tujuh derajat. “Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian sebanyak dua puluh tujuh derajat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Tiada suatu shalat pun yang lebih utama daripada shalat fajar (shalat subuh) pada hari Jum’at yang dilakukan dengan berjama’ah; aku menduga bahwa tiada seorang pun dari kalian yang mengerjakannya melainkan ia diampuni (dosanya)”. (HR. Hakim dan Abu Ubaidah).

Di antara keistimewaan hari Jum’at ialah bahwa orang-orang yang mengerjakan shalat Subuh secara berjamaah dosa-dosanya diampuni oleh Allah Swt.

Nabi Saw telah bersabda, “Barangsiapa shalat Isya secara berjamaah, maka seakan-akan ia mengerjakan shalat separoh malam hari; dan barangsiapa mengerjakan shalat Subuh secara berjamaah, maka seakan-akan ia mengerjakan shalat semalam penuh.” (HR. Muslim).

Pahala shalat Isya berjamaah sama dengan melakukan shalat setengah malam, dan shalat Subuh berjamaah pahalanya sama dengan melakukan shalat semalam suntuk. Dikatakan demikian karena shalat Subuh berjamaah lebih berat daripada shalat Isya berjamaah.

Dalam hadits yang lain Nabi Saw. telah bersabda, “Sembahlah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya; dan anggaplah dirimu akan mati (besok). Hendaknya engkau merasa takut akan doanya orang yang teraniaya, sebab doanya pasti dikabulkan. Periharalah shalat Subuh dan shalat Isya, datanglah untuk berjamaah pada kedua shalat tersebut karena jika kalian mengetahui pahala yang terdapat pada kedua shalat itu niscaya kalian akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak.” (HR. Thabrani melalui Darda).

Hadits ini mengandung perintah tentang empat perkara terpenting dalam agama, yaitu: a. Sembahlah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Atau dengan kata lain, khusyulah dalam menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. b. Anggaplah diri kita akan mati besok. Atau dengan kata lain, persiapkanlah diri kita untuk bekal di hari kemudian dengan mengerjakan amal-amal saleh, seakan-akan kita akan mati besok sehingga dalam mengerjakannya kita lebih mendahulukannya daripada hal-hal yang lain. c. Hati-hatilah kita terhadap doa orang yang teraniaya. Maknanya yang dimaksud ialah janganlah kita berbuat aniaya terhadap orang lain karena doa orang yang teraniaya itu dikabulkan oleh Allah. d. Kerjakan shalat Subuh dan shalat Isya secara berjamaah di masjid karena sesungguhnya pahala kedua shalat tersebut, yang dilakukan secara berjamaah sangat besar, sehingga diungkapkan “sekalipun kamu harus merangkak untuk mendatanginya, mengingat pahalanya yang besar itu.” Dalam keterangan lain disebutkan seandainya kamu harus melakukan undian untuk menghadiri nya, niscaya kamu akan melakukan undian untuknya.

Allah Subhanahu Wata’ala telah berfirman, “Laksanakanlah shalat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula shalat) Subuh. Sungguh, shalat Subuh itu disaksikan (oleh Malaikat).” (QS. Al-Isrâ’, 17:78).

*Walaupun* begitu besar pahala shalat Subuh dengan berjamaah, namun apabila kita berangkat untuk mendatanginya, diharuskan melangkah dengan langkah-langkah yang tenang dan tidak tergesa-gesa, sekali pun kita datang agak terlambat, sebab tenang itu berasal dari Allah, sedangkan tergesa-gesa itu berasal dari setan.

Berjalan ke mesjid disunahkan dengan perlahan-lahan dan tenang dan dimakruhkan tergesa-gesa, sebab seseorang yang pergi ke mesjid itu dianggap dalam keadaan bersembahyang, mulai semenjak keluarnya dari rumah.

Apabila kita datang terlambat karena langkah-langkah kita yang kurang cepat, maka kita tidak usah khawatir karena pahala yang diperoleh sama dengan pahala yang diterima oleh orang-orang yang datang di awal waktu shalat dan ber- _takbiratul_ _ihram_ bersama-sama dengan imam. Sebagaimana yang dinyatakan dalam hadits, “Apabila kalian mendatangi shalat (jamaah) berjalanlah dengan tenang. Rakaat yang kalian jumpai lakukanlah hal itu, dan rakaat yang kalian lewati sempurnakanlah.” (HR. Syaikhan).

Dari Abu Qatadah, Rasulullsh Saw. bersabda, “Pada suatu ketika kami bersembahyang bersama Nabi Saw., tiba-tiba terdengarlah suara ribut orang-orang di belakang. Setelah shalat selesai, beliaupun bertanya: “Ada apa tadi itu?” Jawab mereka: “Kami bergegas-gegas agar dapat mengikuti jama’ah.” Beliau lalu bersabda: “Janganlah berlaku demikian! Jika kamu mendatangi shalat, baiklah dengan tenang. Mana yang didapatkan dengan jama’ah, lakukanlah, dan mana yang tertinggal, sempurnakanlah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dan dalam hadis yang lain dinyatakan, “Jika kamu mendengar suara qamat, maka pergilah sembahyang dan jagalah agar perlahan-lahan dan selalu tenang! Janganlah tergesa-gesa, mana yang dapat secara jama’ah, lakukanlah, dan mana yang ketinggalan susulkanlah.” (HR. Jama’ah selain Turmudzi).

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Shalat berjamaah pahalanya sama dengan dua puluh lima kali shalat sendirian. Apabila shalat berjamaah itu dilakukan di tanah lapang, lalu ruku dan sujudnya dikerjakan secara sempurna, maka pahalanya sama dengan lima puluh kali shalat sendirian.” (HR. Hakim melalui Abu Sa’id).

Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian dengan perbedaan dua puluh lima pahala. Apabila shalat didirikan di tanah lapang yang memuat jamaah yang jauh lebih banyak, lalu shalat dikerjakan dengan sempurna, maka pahalanya menjadi lima puluh kali lipat dari pahala shalat sendirian.

Rasulullah Saw. bersabda, “Barang siapa berjamaah dalam shalat subuh dan Isya maka baginya dua kebebasan, yaitu kebebasan dari kemunafikan dan kebebasan dari kemusyrikan.” (HR. Abu Hanifah).

Semoga kita beristikomah untuk melakukan berjama’ah pada shalat subuh dan Isya, agar kita dapat pahala besar dari shalat jama’ah tersebut. Wallahu A’lam bish-Shawabi.

Drs.H.Karsidi Diningrat MA

* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandug
* Mantan Ketua PW Al Washliyah Jawa Barat

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *