ALLAH Subhanahu Wata’ala telah berfirman, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiyaa’: 107). Dan dalam firman-Nya yang lain, “dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur.” (QS. Al-Qalam, 68:4). Anas bin Malik berkata, “Rasulullah Saw, merupakan manusia yang paling baik akhlaknya.” (HR. Muslim). Beliau juga bersabda, “Sebaik-baik kalian dalam hal keislaman adalah yang paling baik akhlaknya, dengan syarat juga memiliki pengetahuan yang baik (tentang ajaran-ajaran agama).” (HR. Ahmad).
Kata al-khuluq merupakan suatu sifat yang terpatri dalam jiwa, yang darinya terlahir perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa memikirkan dan merenung terlebih dahulu. Al-khuluq adalah sifat jiwa dan gambaran batinnya. Jika sifat yang tertanam itu darinya terlahir perbuatan-perbuatan baik dan terpuji—menurut rasio dan syariat—maka sifat tersebut dinamakan akhlak yang baik. Sedangkan jika yang terlahir adalah perbuatan-perbuatan buruk, maka sifat tersebut dinamakan dengan akhlak yang buruk.
Kata ar-rifq secara etimologi adalah ramah dan selalu lemah lembut, lawannya adalah kekerasan. Sedangkan kalimat al-layyin adalah lawan kata dari kasat atau kasar. Allah berfirman, “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali-Imran, 3:159).
Arti dari “kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka” adalah tunjukkan akhlak yang baik kepada mereka, berhati-hatilah dan jangan pernah menunjukkan kemarahan.
Berdasarkan dari pengertian istilah-istilah secara bahasa tersebut di atas, maka dapat dinyatakan bahwa ramah tamah dan lemah lembut mencakup beberapa hal, yaitu berlemah lembut dalam perkataan dan perbuatan, berbuat yang lebih mudah, berakhlak mulia, berhati-hati dalam perbuatan, dan tidak cepat marah serta tidak bersikap kasar.
Islam yang suci memerintahkan manusia untuk berakhlak lembut, ramah, penuh kasih sayang, dan tawaduk kepada keluarga, saudara, teman, sahabat, dan seluruh kaum muslimin. Sebagian manusia menyangka bahwa Islam tidak mengenal kekerasan, konfrontasi, dan perjuangan. Mereka mengira bahwa Islam adalah melulu kelembutan, perdamaian dan keramahan. Namun, Islam memerintahkan manusia untuk berakhlak keras, tegas, dan kuat ketika berhubungan dengan musuh-musuh agamanya, seperti orang-orang kafir, munafik, lalim, dan golongan yang congkak, sombong.
Kepada siapa bersikap lembut? Kepada siapa pula bersikap keras? Lembut artinya adalah keramahan, kesantunan, dan kasih sayang. Keras artinya adalah kekuatan, ketegasan, dan kekasaran.
Benar, Islam adalah agama kelembutan, keramahan, dan kasih sayang, bahkan kepada musuh-musuhnya sekalipun. Namun, jika dasar-dasar ajarannya dilecehkan, diolok-olok, dihina dan diselewengkan, apakah Islam akan tetap memberikan bunga mawar kepada orang yang melecehkan dan menyelewengkan ajarannya itu? Tidak! Di sini, kekerasan, ketegasan, dan kekuatan—tanpa berlebihan dalam penggunaannya—merupakan yang tepat. Ali bin Abi Thalib berkata, “Salah satu ujung tombak kemarahan Allah adalah kekuatan membunuh kebatilan dengan tegas.”
Al-Qur’an Al-Karim dan Hadits telah menjelaskan konsep Islam tentang pergaulan antara orang mukmin dengan sesama mukmin dan antara orang mukmin dengan orang-orang kafir, munafik, lalim, dan penindas.
Rasulullah Saw. telah bersabda, “Allah menyayangi orang yang bersikap lapang dada (toleran), baik ketika menjual, membeli, atau ketika menagih sesuatu (kepada orang lain).” (HR. Bukhari). Dalam hadits yang lain Beliau Saw. bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada; dan ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baik itu akan menghapusnya, dan berakhlak terhadap manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Thabrani melalui Abu Dzarr r.a.).
Allah Swt. telah berfirman, “Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhoan-Nya. Pada wajah mereka nampak tanda-tanda bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Taurat dan sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Injil, yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu semakin kuat, lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan di antara mereka, ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Fath, 48: 29).
Selanjutnya Allah Subhanahu wa ta’ala telah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.” (QS. Al-Maidah, 5: 54).
Jika kita memperhatikan ayat yang pertama di atas, kita akan melihat bahwa sikap keras kepada orang-orang kafir disebutkan lebih dahulu dari sikap lembut kepada orang-orang mukmin. Hal ini menunjukkan pentingnya sisi kekerasan dan kekuatan dalam kemenangan Islam atas kukufuran dan dalam mengembalikan akhlak dan nilai-nilai luhur ke medan kehidupan. Bersamaan dengan itu, sikap lembut, ramah, penuh kasih sayang, dan toleransi di antara sesama mukmin adalah aturan pokok yang harus dikedepankan, sebelum yang lainnya. Karena, tidak ada artinya pertahanan dan perlawanan terhadap musuh yang tidak dibangun di atas dasar kasih sayang, keramahan, dan kelembutan di antara sesama mukmin.
Orang-orang mukmin, di antara sesama mereka wajib bersikap lembut, namun di hadapan orang-orang kafir, pembesar, dan taghut wajib bersikap keras. Kekuatan dan kekerasan melawan orang-orang kafir dan para penguasa lalim merupakan—dari satu sisi—pertahanan bagi dasar-dasar ajaran Islam dan—dari sisi lain—cara yang tepat untuk menjaga eksistensi Islam dari serangan musuh.
Nabi Saw. memuji sikap lemah lembut dalam segala hal, dan beliau menjelaskan dengan perbuatannya dan perkataannya sebagai penjelasan yang sangat jelas dan pantas agar umatnya bisa mengamalkan dan melaksanakannya sikap lemah lembut dalam segala hal, lebih-lebih bagi para da’i. Sebab mereka merupakan orang yang pertama dituntut untuk mengamalkan sikap lemah lembut dalam dakwah, perbuatan, dan perilaku mereka.
Sikap lemah lembut yang dipraktekkan Rasulullah Saw. dalam berdakwah di antaranya ialah ketika menerima seorang pemuda yang meminta izin untuk melakukan perzinaan.
Dari Abu Umamah r.a. dia berkata, “Seorang pemuda datang kepada Nabi Saw, seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, izinkanlah aku melakukan zina,’ maka para sahabat datang kepadanya dan menghardiknya. Para sahabat tersebut berkata kepada pemuda tersebut, ‘Diam, diam’! maka Rasulullah saw. bersabda kepada pemuda itu, ‘Mendekatlah kepadaku,’ maka pemuda itu mendekat ke arah Rasulullah. Setelah dekat, Rasulullah berkata, ‘Apakah engkau suka (ingin) berzina dengan ibumu?’ Pemuda itu menjawab, ‘Demi Allah yang telah menciptakanku, aku tidak ingin (mungkin) melakukannya.’ Selanjutnya ia berkata, ‘Seluruh umat manusia tidak mungkin ingin melakukan perzinaan dengan ibu mereka.’ Rasul bersabda, ‘Apakah engkau mau berzina dengan putrimu?’ Pemuda itu berkata, ‘Demi Allah yang telah menciptakan aku, aku tidak menyukainya.’ Pemuda itu berkata, ‘Seluruh umat manusia tidak menyukai untuk berzina dengan anak perempuan mereka.’
Rasulullah bersabda, ‘Apakah engkau mau berzina dengan saudara perempuanmu?’ Pemuda itu berkata, ‘Demi Allah yang telah menciptakan aku, aku tidak menyukainya.’ Pemuda itu berkata, ‘Seluruh umat manusia tidak mencintai untuk berzina dengan saudara perempuan mereka.’ Rasulullah bersabda, ‘Apakah engkau mau berzina dengan bibi dari bapakmu?’ Pemuda itu berkata, ‘Demi Allah yang telah menciptakan aku, aku tidak menyukainya.’ Pemuda itu berkata, ‘Seluruh umat manusia tidak akan menyukai untuk berzina dengan bibi dari bapak mereka.’ Rasulullah bersabda, ‘Apakah engkau mau berzina dengan bibi dari ibumu?’ Pemuda itu berkata, ‘Demi Allah yang telah menciptakan aku, aku tidak menyukainya.’ Pemuda tersebut berkata, ‘Seluruh umat manusia tidak akan menyukai berzina dengan bibi dari ibu mereka’.” Abu Umamah selanjutnya berkata, “Maka Rasulullah Saw. lalu meletakkan tangannya ke pundak pemuda itu sambil bersabda, “Ya Allah, ampunilah dosanya, bersihkanlah hatinya, dan peliharalah kemaluannya.’ Akhirnya pemuda tersebut tidak macam-macam lagi dan menjadi pemuda yang baik.’ (HR. Muslim).
Begitu pula sikap lemah lembut Rasulullah dalam menghadapi “Sekelompok Orang Yahudi Bertamu kepada Rasulullah Saw dan berkata, ‘As-saam’alaikum’ (artinya: semoga kehancuran menimpa kalian).”… di jawab oleh Rasulullah wa’alaikum’. Artinya, dan juga kepada kalian”. “Begitu juga ketika menghadapi Bersama Orang yang Kencing di dalam Masjid”. “Ketika Bersama Mu’awiyah ibn al-Hakam”. “Ketika Bersama Orang yang Liar Tangannya.” “Ketika Kepada Orang yang Melakukan Hubungan dengan Isterinya Sebelum Membayar Kafarat.” “Ketika Bersama Seorang Perempuan yang Menangis di Atas Kuburan.” “Ketika Keramahtamahan Shilah ibn Usyaim.”
Sikap Rasulullah ini memberikan contoh kepada para dai agar mereka memperhatikan sifat lemah lembut dan berbuat kebaikan terhadap umat manusia. Apalagi terhadap orang yang ingin ditarik hati mereka agar mau masuk agama Islam, atau terhadap orang yang keimanan mereka diharapkan bertambah dan selalu tetap berpegang teguh kepada agama Islam.
Kekuatan mempunyai peranan besar dalam membela Islam dan dakwahnya. Terlebih-lebih pada zaman sekarang di mana para penguasa lalim berkuasa, yang tidak menjadikan kebenaran sebagai petunjuk, bahkan memeranginya dengan atas namanya. Mereka itu orang-orang Islam, namun hanya namanya saja. Sementara, politik dan program yang mereka jalankan di dalam kekuasaannya benar-benar menentang dan menyakiti Islam.
Sementara sikap tegas dan keras Rasulullah juga ditujukan kepada musuh-musuh agama, seperti orang-orang kafir, munafik, lalim, dan golongan yang sombong. Dalam pandangan Umar bin Khathab yang dikutif oleh Syaikh Islam Ibnu Taimiyah mencakup, “Orang yang terang-terangan menghujat agama kami menjadi halal darah dan hartanya … Ibnu Taimiyah selanjutkan mengatakan, “Orang yang terang-terangan menghujat agama … oleh karena itu, hukuman bagi penghujat agama lebih dikeraskan daripada hukuman bagi para pembatal perjanjian lain… Adapun penghujat agama wajib diperangi. Inilah sunnah Rasulullah saw. Beliau menumpahkan darah orang yang menyakiti Allah sekaligus Rasul-Nya dan menghujat Islam, walaupun beliau tidak melakukan hal yang sama kepada selainnya.”
Allah Swt. berfirman, “Dan jika mereka melanggar sumpah setelah ada perjanjian, dan menghujat agamamu maka perangilah pemimpin-pemimpin kafir itu …” (QS. At-Taubah, 9:12). Dalam firman-Nya yang lainnya, “Wahai orang-orang yang beriman,’ Perangilah orang-orang kafir yang disekitar kamu itu, dan hendaknya mereka merasakan sikap tegas darimu. Dan ketahuilah bahwa Allah bersama orang-orang yang bertaqwa.” (QS. At-Taubah, 9:123). Rasulullah Saw. bersabda, “Berjihadlah melawan kaum musyrikin dengan harta, jiwa dan lidahmu.” (HR.Annasai). Dalam hadits yang lain di sebutkan, “Suatu kaum yang meninggalkan perjuangan akan Allah timpakan kepada mereka azab.” (HR. Athabrani).
Dalam hadits yang lain disebutkan, “Manusia yang paling dekat derajatnya kepada derajat kenabian ialah para mujahidin dan ilmuwan (cendekiawan) karena kaum mujahidin melaksanakan ajaran para rasul dan ilmuwan membimbing manusia untuk melaksanakan ajaran nabi-nabi.” (HR. Adailami). Wallahu A’lam bish-Shawwab.
Drs.H.Karsidi Diningrat, M.Ag
* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung
* Wakil Ketua Majelis Pendidikan PB Al Washliyah
* Mantan Ketua PW Al Washliyah Jawa Barat.







Komentar