ALLAH Subhanahu Wata’ala telah berfirman, “Janganlah kamu bunuh anak-anakmu, karena takut miskin. Kamilah yang menanggung rezeki mereka dan rezekimu. Pembunuhan terhadap anak-anak ini adalah suatu kesalahan besar.” (QS. Isra’, 31).
Anak adalah pemuda dan orang dewasa di masa akan datang. Mereka adalah penentu masa depan. Jika mereka baik, akan baik pula masa depan umat. Jika mereka rusak, akan rusak pula masa depan umat. Oleh karena itu, kita harus memberikan kedudukan khusus kepada anak. Kita harus menaruh perhatian besar kepada sisi kemasyarakatan dan pendidikan mereka.
Anak merupakan anugerah dan amanah yang besar dan berat yang dipikulkan di pundak para orang tua. Allah telah menanamkan di dalam hati masing-masing mereka rasa kasih sayang dan cinta yang tanpa batas terhadap anaknya. Perasaan inilah yang secara sadar atau tidak menggiring para orang tua untuk memberi perhatian penuh terhadap kebutuhan, pemeliharaan, serta pendidikan anak. Dengan demikian, tidak mengherankan jika Al-Qur’an, dalam banyak ayat, melukiskan dengan sangat menarik dan tepat perasaan suci yang dimiliki para orang tua ini.
Anak-anak terkadang digambarkan Al-Qur’an sebagai perhiasan hidup, seperti dalam firman-Nya, “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia.” (QS. Al-Kahfi: 46). Sementara pada saat yang lain dilukiskan sebagai nikmat terbesar sehingga menuntut adanya rasa syukur terhadap Sang Pemberi Nikmat, seperti dalam firman-Nya, “Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar.” (QS. Al-Israa’:6). Bahkan, pada kesempatan lain, anak-anak juga dianggap dapat menjadi cahaya mata dan penyejuk jiwa para orang tua yang berkeinginan menempuh jalan taqwa, seperti dalam firman-Nya, “Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS.al-Furqan:74).
Juga dalam hadis disebutkan bahwa anak adalah buah hati, “Anak adalah buah hati, dan berasal dari pelayan surga.” (HR. Tirmidzi). Anak adalah buah hati dan kesayangan kedua orang tuanya. Pada asalnya anak itu berasal dari pelayan surga. Oleh karena itu, apabila anak meninggal dunia dalam usia yang belum mencapai usia baligh, ia akan kembali ke asalnya, yaitu menjadi pelayan surga. Pengertian _Raihan_ dalam hadis ini sama dengan pengertian Wildan dalam firman-Nya, “ Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas (piala), cerek, dan minuman yang diambil dari air yang mengalir.” (QS. Al-Waqi’ah: 17-18).
Sebagai perwujudan kasih sayang orang tua terhadap anaknya, dapat dikatagorikan kepada dua kelompok besar, yaitu: pertama , mereka yang sukses dan berhasil menemukan cara dan bentuk pengungkapan rasa kasih sayang secara baik dan bijak terhadap anak. Artinya, orang tua yang termasuk kelompok ini berhasil menerjemahkan perasaan mulia mereka tersebut ke dalam tataran praktis kehidupan sehingga kita dapat melihat mereka bersikap lembut, adil serta senantiasa memberikan motivasi maupun nasihat yang baik terhadap anak-anaknya. Orang tua yang seperti inilah yang akan mendapat cinta dan ridha Allah Swt.
Anas bin Malik r.a. meriwayatkan bahwa suatu hari seorang wanita mendatangi Ummul Mu’minin Aisyah sambil menggendong dua orang anak. Aisyah lalu memberinya tiga butir kurma. Wanita itu kemudian memberikan kepada masing-masing anaknya satu butir sementara yang satu lagi dipegangnya untuk dirinya sendiri. Kedua anak kecil itu lalu memakan kurma yang ada di tangan mereka. Ketika telah habis, keduanya lalu menatap ibunya. Wanita itu lalu membelah kurma yang seyogianya menjadi bagiannya itu menjadi dua bagian dan selanjutnya memberikan masing-masingnya kepada setiap anak. Ketika Rasulullah saw. datang, Aisyah lalu menceritakan peristiwa itu kepada beliau. Rasulullah Saw. lalu bersabda, “Tidak ada yang perlu engkau herankan karena sesungguhnya rahmat Allah Swt, kepadanyalah yang telah menjadikannya penyayang kepada anaknya.” (HR. Bukhari).
Kelompok _kedua_ , mereka yang tidak mampu mengekspresikan rasa cinta yang sebenarnya memenuhi rongga hatinya tersebut dengan baik dan bijak. Artinya, mereka tidak berhasil membuat putra-putrinya merasakan perasaan mulia tersebut sebagaimana seharusnya. Sebaliknya, yang mereka lihat dan terima dari orang tuanya justru sikap-sikap atau ekspresi yang terkesan menafikan adanya perasaan kasih sayang orang tua mereka, seperti roman muka yang tidak lembut, tutur kata yang kasar, sikap keras yang tidak pada tempatnya, dan lain sebagainya. Orang tua yang termasuk kelompok kedua ini adalah mereka yang sangat membutuhkan persemaian benih-benih cinta dan tiupan hawa kasih Ilahi ke dalam hati dan rumahnya. Jika tidak maka mereka tidak akan dapat menunai kasih sayang dan keridhaan Allah Swt.
Anas bin Malik r.a, menceritakan bahwa suatu hari Rasulullah Saw. terlihat berjalan bersama beberapa orang sahabat. Dari kejauhan kemudian terlihat seorang anak kecil yang sedang bermain di tengah jalan. Ketika ibu anak itu melihat rombongan Rasulullah Saw., dia langsung merasa khawatir jika anaknya sampai terinjak. Oleh sebab itu, dia dengan cepat berlari menuju si anak seraya berteriak, “Anakku … ! Anakku ..! Beberapa detik kemudian sang anak telah berada dalam pelukannya. Melihat kejadian tersebut, para sahabat lalu bertanya, “Wahai Rasulullah Saw., apa yang mendorong wanita tersebut untuk menyelamatkan anaknya dari bahaya?” Rasulullah Saw., kemudian menjawab dengan suara pelan, “Rasa cinta Allah azza wa jalla yang membuat-Nya tidak melemparkan hamba-hamba yang dikasihi-Nya ke dalam neraka.” (HR. Ahmad).
Usamah bin Zaid meriwayatkan bahwa suatu hari Rasulullah Saw. menggendong dirinya dan Hasan, putra Fatimah r.a., seraya bersabda, “Ya Allah Swt., sayangilah keduanya karena sesungguhnya saya sangat menyayangi mereka berdua.’ (HR. Bukhari). Khaulah binti Hakim r.a. juga berkata, “Suatu hari, Rasulullah Saw. terlihat menggendong salah seorang cucunya, Hasan, atau Husein, seraya bersabda, “Sesungguhnya kalian (anak-anak) benar-benar bisa membuat (para orang tua) menjadi kikir, penakut, dan bodoh. (Akan tetapi) sesungguhnya kalian juga adalah wewangian semerbak dari Allah.” (HR. Tirmidzi).
Dalam hal ini Rasulullah Saw., bersabda, “Sesungguhnya di dalam surga itu terdapat suatu gedung yang dinamakan _Darul_ _Farah_ (Gedung Kegembiraan), gedung tersebut hanya dimasuki oleh orang-orang yang senang membuat anak-anak gembira.” (HR. Ibnu Abdi melalui Siti Aisyah r.a.). _Daarul_ _Farah_ , artinya rumah atau gedung yang penuh dengan kegembiraan. Kelak di dalam surga terdapat sebuah gedung yang diberi nama Gedung Kegembiraan, tiada yang memasukinya kecuali hanya orang-orang yang suka membuat gembira anak-anak.
Dalam hadis yang lain Rasulullah saw. bersabda, “Cintailah anak-anak dan kasih sayangilah mereka. Bila menjanjikan sesuatu kepada mereka tepatilah. Sesungguhnya yang mereka ketahui hanya kamulah yang memberi mereka rezeki.” (HR. Aththahawi).
Bersikap lembut terhadap anak merupakan awal dari proses pendidikan yang baik dan benar. Dalam hal ini Rasulullah Saw., bersabda, “Tidaklah termasuk golongan kami orang yang tidak penyayang kepada yang lebih muda serta tidak menghormati yang lebih tua.” (HR. Tirmidzi).
Anas bin Malik r.a. meriwayatkan bahwa pada suatu hari Bilal terlambat mengumandangkan azan subuh sehingga Rasulullah Saw, bertanya, “Wahai Bilal, hal apa yang telah merintangimu?” Sahabat Rasulullah Saw. itu kemudian menjawab, “Tadi (ketika menuju masjid) saya melihat Fatimah sedang menggiling gandum sementara anaknya terdengar sedang menangis. Saya lalu berkata kepadanya, “Jika engkau bersedia, saya akan membantu menenangkan anakmu sementara engkau meneruskan pekerjaan, atau kalau tidak engkau yang mendiamkannya sementara aku yang menggiling. Fatimah lalu menjawab, “Saya lebih lembut terhadap anak saya ketimbang engkau.” Wahai Rasulullah Saw., itulah yang menyebabkan saya terlambat azan.” Mendengar penuturan Bilal itu, beliau lalu menjawab, “Engkau telah membantunya semoga Allah Swt. merahmatinya.” (HR. Ahmad).
Seorang sahabat bernama Qabus meriwayatkan bahwa Ummul Fadhl r.a. berkata, “Wahai Rasulullah Saw., saya bermimpi seakan-akan di rumah saya terdapat salah satu anggota tubuh engkau.” Rasulullah Saw. menjawab, “Apa yang engkau lihat itu merupakan pertanda baik. Tawilnya, Fatimah akan melahirkan seorang anak dan engkaulah yang akan menyusuinya.”
Diriwayatkan bahwa tidak lama kemudian Hasan atau Husain lahir. Selanjutnya disusui oleh Ummul Fadhl dengan air susunya sendiri (sebagaimana ia menyusui anaknya, Qutsam), Perempuan itu berkata, “Suatu hari, saya membawanya ke kediaman Rasulullah Saw. lalu meletakkannya di pangkuan beliau. Tiba-tiba ia pipis (di pangkuan beliau) sehingga saya memukul bahunya (dengan lembut). Melihat tindakan saya, ternyata Rasulullah Saw. berkata, “Engaku telah menyakiti anakku. Semoga Allah Swt. merahmatimu.” (HR. Ibnu Maajah).
Pendidikan anak merupakan upaya yang harus berlangsung secara simultan. Oleh karena itu dalam mendidik anak harus dengan kasih sayang dan lemah lembut, karena anak, dari sisi kemampuan bersosialisasi: ada anak yang dengan cepat dapat menyesuaikan diri dengan orang asing mana pun; ada anak yang memerlukan waktu sedikit untuk bisa menyesuaikan diri; dan ada anak yang membutuhkan waktu lama untuk bisa menyesuaikan diri.
Ali bin Abi Thalib berkata dalam mendidik anak dengan syair baitnya: “Doronglah anakmu kepada adab/akhlak yang baik di masa kecil agar kelak kedua matamu senang melihatnya ketika besar. Sesungguhnya menanam adab/akhlak yang baik di masa kecil tidak ubahnya dengan memahat di atas batu. Dia adalah harta simpanan yang senantiasa berkembang yang tidak akan dihancurkan oleh peristiwa apa pun.” Wallahu A’lam bish shawab.
Drs.H.Karsidi Diningrat, M.Ag
* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung
* Wakil Ketua Majelis Pendidikan PB Al Washliyah







Komentar