JAKARTA – Menopause alias berhentinya siklus menstruasi merupakan fenomena alami yang terjadi pada wanita setengah baya. Namun banyak di antara kaum hawa yang tidak memahami dengan baik, sehingga membuat mereka menjadi sesuatu yang menakutkan dan membuat stres.
Untuk itulah Dharma Wanita Persatuan (DWP) DKI Jakarta menggelar Penyuluhan dan Seminar Kesehatan bertema ‘Harmoni Hormon: Merangkul Menopause dengan Hati yang Tenang’. Penyuluhan yang diikuti para istri ASN Pemprov DKI berlangsung di Balaikota, kawasan Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (30/9).
“Pada kesempatan ini, DWP DKI Jakarta mengajak kaum perempuan menghadapi fase pre-menopause hingga menopause dengan tenang melalui pemahaman yang baik. Yuk, kita sambut menopause dengan tenang,” kata Ketua DWP DKI Jakarta Lisniawati Uus Kuswanto.
Menurutnya menopause merupakan fase alami dalam kehidupan perempuan yang menginjak usia antara 45 dan 55 tahun, tapi sebagian besar wanita mengalami menopause pada usia 51 tahun. “Menopause tidak perlu dihadapi dengan rasa takut. Untuk itu edukasi kesehatan penting dilakukan agar perempuan memahami berbagai perubahan fisik dan emosional yang terjadi,” tambah Lisniawati yang merupakan istri Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta Uus Kuswanto.
Ia juga mengingatkan pentingnya menerapkan pola hidup sehat melalui olahraga rutin, konsumsi makanan bergizi, tidur cukup, serta pengelolaan stres. “Dukungan emosional dari keluarga, khususnya pasangan juga diperlukan agar perempuan dapat menjalani fase menopause dengan lebih nyaman. Kalau kita sehat secara fisik dan bahagia secara emosional, energi positif ini akan memancar kepada suami, anak-anak kita, dan masyarakat sekitar,” jelasnya.
Sementara itu, Founder Gerakan Perempuan Sadar Vagina (PSV) Indonesia, Inge Satyo Ariyanto menjelaskan, perimenopause merupakan masa transisi menuju menopause yang dapat ditandai dengan perubahan siklus menstruasi dan berbagai perubahan hormonal.
“Penurunan hormon estrogen dapat menimbulkan sejumlah keluhan seperti kekeringan vagina, nyeri saat berhubungan intim, perubahan elastisitas jaringan, penurunan libido, gangguan tidur, hingga perubahan suasana hati,” ungkap Inge.
Ia pun menekankan perempuan perlu membekali diri dengan literasi kesehatan reproduksi dan berkonsultasi dengan tenaga medis jika mengalami keluhan yang mengganggu kualitas hidup. “Menopause bukan berarti hubungan suami istri harus berakhir atau menjadi tidak harmonis. Justru kita harus memahami perubahan yang terjadi agar bisa mencari solusi bersama,” tutur Inge.
Pemahaman bersama diharapkan dapat membantu pasangan menyikapi perubahan biologis tanpa berkembang menjadi persoalan dalam rumah tangga.
“Perubahan keharmonisan rumah tangga harus diinisiasi oleh istri terlebih dahulu melalui pemahaman literasi kesehatan reproduksi dan kesadaran diri, sehingga membawa efek domino positif bagi suami dan anak-anak,” pungkasnya. (jo)







Komentar