oleh

RW 12 Kelurahan Cipinang Melayu Juara Lomba Urban Farming Jakarta Timur

JAKARTA – PKK RW 12 Kelurahan Cipinang Melayu, Makasar, meraih juara lomba urban farming tingkat Jakarta Timur. Kemenangan itu didapat setelah mereka berhasil mengubah lahan tidur seluas 500 meter persegi dan ditanami berbagai macam jenis tanaman hingga buah-buahan.

Ketua RW 12, Heru Dono Prabowo mengatakan, kemenangan yang didapat dari lomba urban farming merupakan hasil kerja keras dari warganya. Pasalnya, urban farming yang dilakukan mulai dari nol dan kemudian secara gotong royong melakukan penanaman berbagai macam jenis di lahan kosong seluas 500 meter.

“Lahan tak terpakai itu sekarang jadi tempat kelompok tani (potan) di RW 12. Saya sangat senang sekali atas dukungan seluruh warga yang telah kegiatan potan,” kata Heru di RPRTA Citra Permata, Rawa Bunga, Jakarta Timur, Jumat (12/9).

Dikatakan Heru, selama proses penanaman, pihaknya sering mendapatkan bantuan dari Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Perikanan (KPKP) Jakarta Timur dan Cap Panah Merah. Dan saat ini lahan tersebut tidak hanya ditanam buah melon saja, tapi ada kangkung, cabai, pokcoy, tomat, terong dan lainnya.

“Rencananya kami akan memperluas 200 meter lagi di samping lahan yang sudah ada, jadi totalnya nanti ada 700 meter. Kita akan tanami berbagai macam sayuran hingga buah-buahan dan nantinya bisa dimanfaatkan warga,” ujar Heru.

Sementara itu, Kasudin KPKP Jakarta Timur Taufik Yulianto menjelaskan, dalam lomba urban farming ini diikuti oleh anggota PKK di 10 Kecamatan Jakarta Timur dengan tema Uti Tamela (Untuk Timur Tanam Melon New Madesta). “Para peserta memanfaatkan lahan tidur atau tak terpakai untuk dijadikan tempat menanam berbagai jenis termasuk buah melon,” terangnya.

Ditambahkan Taufik, kegiatan lomba ini sangat baik karena mengedepankan kolaborasi antara pemerintah dengan masyarakat serta pelaku usaha. Kegiatan ini juga untuk memotivasi masyarakat lain agar mau melakukan urban farming demi ketahanan pangan di wilayah tempat tinggalnya.

“Kami berharap ini bisa jadi inspirasi bagi masyarakat yang belum berkegiatan dalam urban farming di Jakarta Timur. Ini juga jadi bukti menanam itu bisa dilakukan dalam lahan terbatas,” ungkap Taufik. (Ifand/fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *