JAKARTA — Rumah Sakit Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita terus memperkuat kapasitas pelayanan kesehatan ibu dan anak, terutama untuk menangani kasus-kasus kompleks yang membutuhkan teknologi medis, tenaga subspesialistik, serta kolaborasi multidisiplin.
“Sebagai rumah sakit pusat rujukan nasional bidang kesehatan ibu dan anak, RSAB Harapan Kita tidak hanya dituntut menyediakan pelayanan dasar, tetapi juga harus mampu menangani penyakit dan kondisi medis yang kompleks.” kata Direktur Medik dan Keperawatan RSAB Harapan Kita, dr. Endah Citraresmi, Sp.A(K), MARS, dalam Forum Komunikasi Publik dan Pengenalan Layanan Unggulan RSAB Harapan Kita yang mengangkat tema Bone Marrow Transplantation dan Fetal Surgery yang digelar di Jakarta, Rabu (30/9/2026).
Menurut dr. Endah, penguatan layanan dilakukan mulai dari pelayanan preventif, diagnostik, rawat jalan, rawat inap, layanan gawat darurat, perawatan intensif, hingga layanan subspesialistik dan tindakan berteknologi tinggi.
Kasus kompleks ini butuh, nomor satu tentu deteksi. Diagnosisnya harus akurat, perlu direncanakan terapinya. Intervensi harus multidisiplin, tim dokternya harus dibuat sehingga sinkron, tidak berjalan sendiri-sendiri,” ujar Endah.
RSAB Harapan Kita berupaya membangun ekosistem pelayanan kesehatan yang terintegrasi sepanjang siklus kehidupan, khususnya bagi ibu dan anak. Pelayanan bahkan dimulai sejak bayi masih berada dalam kandungan. Rumah sakit memiliki dokter fetomaternal, dokter subspesialis, dokter ahli genetik, serta berbagai fasilitas diagnostik untuk mendeteksi kondisi janin dan ibu selama kehamilan.
Ketika persalinan berlangsung, rumah sakit menyiapkan layanan bagi ibu maupun bayi. Jika ibu membutuhkan perawatan intensif, tersedia fasilitas perawatan intensif maternal. Sementara bayi yang mengalami masalah setelah lahir dapat langsung mendapatkan perawatan di neonatal intensive care unit (NICU).
Rawat Gabung Bersama Ibu
Sebaliknya, apabila bayi lahir sehat, perawatan dapat dilakukan dengan konsep rawat gabung bersama ibu sehingga proses menyusui dapat segera dilakukan. Setelah anak tumbuh, layanan kesehatan tetap tersedia melalui berbagai klinik, mulai dari pelayanan anak sehat, imunisasi, evaluasi tumbuh kembang, edukasi makanan, klinik tumbuh kembang, psikologi anak, hingga berbagai layanan spesialis anak.
Untuk anak yang memasuki usia remaja, RSAB Harapan Kita juga menyediakan klinik remaja dan layanan psikologi remaja. Pelayanan kemudian berlanjut pada fase dewasa, termasuk layanan kesehatan reproduksi, kehamilan, penyakit dalam, kulit, gizi, jantung, saraf, hingga layanan yang berkaitan dengan menopause dan lansia. “Dari awal kehidupan sampai akhir kehidupan, RSAB Harapan Kita punya layanannya semua. Jadi bisa dimanfaatkan oleh bapak dan ibu semua,” kata Endah.
Sebagai rumah sakit yang banyak menangani kasus rujukan dengan tingkat kompleksitas tinggi, kebutuhan terhadap perawatan intensif menjadi salah satu perhatian utama RSAB Harapan Kita. Karena itu, kapasitas Pediatric Intensive Care Unit (PICU) dan Neonatal Intensive Care Unit (NICU) terus ditingkatkan dari waktu ke waktu. “Awalnya 15, naik 18, naik 22. Setiap tahun PICU kami naik, NICU kami naik,” ujarnya.
Peningkatan kapasitas tersebut dilakukan karena kasus-kasus yang ditangani RSAB Harapan Kita banyak membutuhkan perawatan intensif. Namun, Endah mengakui peningkatan kapasitas tersebut masih menghadapi tantangan karena kebutuhan layanan dan antrean pasien juga tinggi.
Karena itu, rumah sakit tidak hanya berupaya menambah kapasitas internal, tetapi juga mendorong penguatan jejaring pelayanan kesehatan di sekitar dan daerah rujukan.
Selain layanan intensif, RSAB Harapan Kita memiliki berbagai layanan bedah, termasuk bedah ibu dan bedah anak. Rumah sakit juga menyediakan pusat diagnostik dengan layanan seperti endoskopi, kolonoskopi, kateterisasi, radiologi, CT scan, dan MRI.
Fasilitas diagnostik tersebut juga disesuaikan dengan karakteristik pasien anak. Pendekatan tersebut diperlukan agar pemeriksaan menggunakan peralatan seperti MRI dan CT scan dapat dilakukan dengan mempertimbangkan kenyamanan anak. Rumah sakit juga menyediakan layanan rehabilitasi, termasuk terapi okupasi, serta layanan terpadu yang melibatkan berbagai disiplin kedokteran.
Layanan terpadu merupakan salah satu upaya RSAB Harapan Kita untuk menangani pasien dengan kondisi yang melibatkan lebih dari satu bidang keilmuan. Dalam layanan tersebut, seorang pasien tidak harus menjalani pemeriksaan secara terpisah tanpa koordinasi. Tim dokter dari berbagai bidang dapat berdiskusi dan memberikan penanganan secara terintegrasi.
“Layanan terpadu artinya dilakukan multidisiplin. Selain diperiksa oleh dokter A, dia juga akan mendapatkan penanganan oleh dokter B dan C,” jelasnya.
Konsep tersebut diharapkan dapat mempercepat pelayanan sekaligus memberikan pendekatan one stop service bagi pasien dengan kebutuhan medis yang kompleks.
Operasi pada Janin Sbelum Lahir
Salah satu layanan unggulan yang diperkenalkan RSAB Harapan Kita adalah fetal surgery atau bedah janin. Endah menjelaskan, fetal surgery merupakan tindakan pembedahan yang dilakukan terhadap janin ketika masih berada di dalam kandungan. Tindakan tersebut dilakukan pada kondisi tertentu ketika intervensi sebelum kelahiran dinilai dapat mencegah terjadinya kerusakan yang lebih berat setelah bayi lahir.
“Bayangkan, bayinya belum lahir, sudah dilakukan operasi. Fetal surgery ini penting karena ada kondisi-kondisi yang harus diperbaiki pada saat bayinya belum lahir,” katanya.
Namun, tindakan tersebut tidak dilakukan secara sembarangan. Setiap kasus harus melalui penilaian menyeluruh yang mempertimbangkan kondisi ibu, kondisi janin, usia kehamilan, diagnosis, manfaat tindakan, serta risiko yang mungkin muncul.
Salah satu risiko yang harus diperhitungkan adalah terjadinya komplikasi yang menyebabkan bayi harus dilahirkan lebih awal. Karena itu, kesiapan fasilitas neonatal menjadi bagian penting dari program fetal surgery.
“Apabila bayi harus lahir prematur setelah tindakan, tim neonatologi dan NICU harus siap memberikan perawatan,” jelasnya.
Endah menegaskan, prinsip utama fetal surgery adalah keselamatan ibu sekaligus adanya manfaat yang jelas bagi janin. Tindakan harus berbasis bukti ilmiah dan dilakukan oleh tim multidisiplin. (fs)







Komentar