oleh

Populasi Sapi Perah di Indonesia Baru Penuhi 20 Persen Kebutuhan Susu Nasional

BOGOR – Susu merupakan pangan bergizi tinggi karena mengandung protein, laktosa, lemak, vitamin dan mineral yang sangat baik untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan.Susu merupakan komoditas penting pada perdagangan global dengan nilai perdagangan tahun 2022 mencapai US$ 893 triliun.

Meski sapi perah merupakan ternak utama penghasil susu, namun populasi sapi perah Indonesia saat ini hanya berkisar 0,5 juta ekor. Populasi sapi tersebut baru mampu menghasilkan susu untuk memenuhi 20 persen kebutuhan nasional.

Prof. Dr. Despal, S.Pt., M.Sc.Agr kepada wartawan Kamis 23 November 2023 mengatakan, terdapat lima faktor penghambat perkembangan sapi perah di Indonesia.  Pertama, wilayah pengembangannya terbatas, zona nyaman sapi perah adalah pada temperature humidity index (THI) kurang dari 72. Dengan kelembaban Indonesia mencapai 80 persen, THI <72 hanya dicapai pada daerah pegunungan dengan suhu < 21oC.

Kedua, sapi perah tidak bisa makan banyak, meski membutuhkan nutrien 2 – 3 kali lebih banyak dibandingkan sapi yang tidak menghasilkan susu. Panas metabolik yang dihasilkan sulit dikeluarkan ke lingkungan yang panas.

Ketiga, hijauan tropis berkualitas rendah, mengandung protein rendah dan serat tinggi. Keempat, peternak belum memiliki manajemen perencanan penyediaan hijauan berkualitas secara berkesinambungan, padahal hijauan merupakan pakan utama sapi perah.

Kelima, cara pemberian makan sapi perah belum tepat, belum berdasarkan kebutuhan individu ternak. Sebagai ahli nutrisi, saya mencoba mencarikan solusi untuk pemecahan permasalahan dari pendekatan ilmu nutrisi.

“Teknologi presisi merupakan sistem pertanian yang menggunakan berbagai teknologi dan teknik pengumpulan data untuk efisiensi, produktivitas dan keberlangsungan pertanian. Teknologi presisi melibatkan perangkat data, sensor, automatisasi dan teknologi digital sehingga memungkinkan pengumpulan data sebagai dasar pembuatan keputusan secara cepat dan tepat pada setiap aspek dari pertanian seperti perencanaan penanaman, pengelolaan ternak dan penggunaan sumberdaya. Teknologi presisi dalam usaha sapi perah sudah tersedia secara komersial dan diadopsi, namun banyak pula yang masih dalam pengembangan,” ujar Prof Despal.

Ia menegaskan, teknologi presisi meningkatkan efisiensi penggunaan nutrien melalui formulasi presisi dengan konstrain detail, pengontrolan kualitas pakan dengan cepat, penggunaan software dan perangkat formulasi, penggunaan real-time monitoring dan data analisis dan penurunan limbah pakan dan nutrien ke lingkungan.

“Teknologi presisi mampu menyediakan nutrien dengan tepat dan seimbang sehingga meningkatkan imunitas, mencegah defisiensi dan kelainan metabolik,” tegasnya. (yopi/ta)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *