BOGOR – Rencana penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG) 3 kilogram dinilai memiliki peluang untuk mendukung ketahanan energi Indonesia.
Dosen Teknik Mesin dan Biosistem IPB University, Dr Leopold Oscar Nelwan, mengatakan pemanfaatan CNG secara teknis memungkinkan karena Indonesia memiliki sumber daya gas alam yang cukup besar.
Menurut Leopold, penggunaan gas domestik dapat menjadi salah satu upaya mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG sekaligus berpotensi menekan beban subsidi energi.
Namun, penerapan CNG untuk kebutuhan rumah tangga tidak dapat dilakukan dengan mengganti jenis bahan bakar semata.
Pemerintah perlu memastikan kesiapan teknologi, sistem distribusi, fasilitas penyimpanan, peralatan memasak, hingga rantai pasok.
“Pemanfaatan CNG sebagai pengganti LPG secara teknis memungkinkan karena Indonesia memiliki sumber daya gas alam yang melimpah,” ujar Leopold.
Leopold menjelaskan, CNG memiliki karakteristik berbeda dengan LPG. Gas alam yang didominasi metana harus dikompresi pada tekanan tinggi agar dapat disimpan dalam tabung dengan volume yang mencukupi.
Tekanan penyimpanan CNG dapat mencapai sekitar 200–250 bar. Kondisi tersebut membuat penggunaan CNG membutuhkan tabung khusus, regulator, fasilitas kompresi, serta kemungkinan penyesuaian pada peralatan memasak.
Karena itu, investasi dan pembangunan infrastruktur menjadi salah satu faktor penting yang harus diperhitungkan sebelum program diterapkan secara luas.
“Tantangan utama bukan pada jenis gasnya, tetapi pada teknologi penyimpanan, infrastruktur, dan sistem pendukungnya,” jelasnya.
Tekanan penyimpanan yang tinggi juga membuat aspek keselamatan menjadi perhatian utama.
Menurut Leopold, keamanan CNG tidak hanya bergantung pada kekuatan tabung, tetapi juga kualitas material, proses produksi, katup, sambungan, regulator, serta perangkat pengaman lainnya.
Pengujian, sertifikasi, dan inspeksi secara berkala diperlukan untuk memastikan seluruh komponen tetap memenuhi standar keselamatan selama digunakan.
“Potensi kebocoran juga harus diperhitungkan,” ujarnya.
Metana memiliki densitas lebih rendah dibandingkan udara sehingga di ruang terbuka cenderung bergerak ke atas.
Namun, pada ruangan tertutup dengan ventilasi buruk, gas tetap dapat terakumulasi dan menimbulkan risiko kebakaran.
Karena itu, sistem ventilasi, detektor kebocoran, dan perangkat pengamanan harus menjadi bagian dari sistem penggunaan CNG rumah tangga.
Dari sisi lingkungan, gas alam memiliki emisi karbon yang lebih rendah dibandingkan batu bara dan umumnya sedikit lebih rendah dibandingkan LPG untuk energi yang setara.
Meski demikian, Leopold mengingatkan bahwa gas alam tetap termasuk bahan bakar fosil. Oleh sebab itu, CNG tidak dapat dianggap sebagai energi terbarukan.
Ia menilai CNG dapat menjadi bagian dari transisi energi apabila manfaat ekonomi atau penghematan subsidi yang diperoleh pemerintah diarahkan untuk mempercepat pengembangan energi terbarukan.
“CNG sebaiknya dipandang sebagai salah satu opsi, bukan satu-satunya solusi,” kata Leopold.
Ia menilai keputusan penggantian LPG 3 kg harus didasarkan pada kajian menyeluruh yang membandingkan aspek keselamatan, biaya investasi, distribusi, harga energi, ketersediaan pasokan, dampak lingkungan, serta manfaatnya terhadap ketahanan energi nasional. (yd/fs)







Komentar