oleh

Inovasi Hijaukan Lahan Bekas Tambang oleh Dosen IPB University Terpilih sebagai Salah Satu yang Paling Prospektif

BOGOR – Inovasi dosen IPB University terpilih sebagai salah satu inovasi paling prospektif dalam ajang 117 Inovasi Indonesia 2025 yang digelar Business Innovation Center (BIC).

Riset yang dikembangkan Dr Nisa Rachmania bersama tim ini berjudul Kolaborasi Jasad Renik Hijaukan Lahan Tambang Kapur.

Inovasi tersebut memanfaatkan mikroorganisme lokal untuk mendukung proses pengomposan dan revegetasi lahan bekas tambang batuan kapur.

Formulasi produk terdiri atas isolat bakteri Bacillus paramycoides A.1.4 dan kapang Penicillium singorense 1.1.a yang diisolasi dari tanah area revegetasi bekas tambang batuan kapur milik PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Citeureup.

Kedua mikroorganisme tersebut merupakan penghasil enzim pengurai selulosa dan lignin, lalu dikombinasikan menjadi konsorsium bioaktivator untuk mempercepat pengomposan sisa tanaman di area revegetasi.

“Hasil pengujian menunjukkan performa formulasi ini lebih unggul dibandingkan produk komersial,” kata Dr Nisa melalui rilisnya Jumat (27/2/2026).

Dalam uji tambahan, bioaktivator mampu menurunkan 86 persen bobot limbah tanaman, jauh di atas produk lain yang hanya mencapai 15 persen.

Pada uji lapangan terbatas seluas 50 meter persegi, pertumbuhan tinggi tanaman kaliandra mencapai 9,8 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan produk komersial sebesar 9,1 persen.

Dr Nisa menegaskan kedua isolat tidak bersifat patogen bagi manusia dan hewan. Bahkan, Penicillium singorense juga tidak tergolong patogen tanaman berdasarkan kajian literatur.

Ia menambahkan, inovasi ini masih memerlukan uji skala lebih luas serta dukungan hilirisasi dari institusi dan pemerintah.

Penyimpanan isolat di pusat koleksi kultur seperti IPB Culture Collection dinilai penting untuk menjaga ketersediaan mikroorganisme sebagai pupuk hayati asli Indonesia.

Kedepan, pupuk hayati ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia sintetis serta meningkatkan kesuburan tanah secara berkelanjutan, khususnya di lahan bekas tambang batuan kapur dan lahan dengan karakteristik serupa. (yopy/fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *