JAKARTA – Dosen Tetap Universitas Bung Karno (UBK), Hasto Kristiyanto, mengupas sisi humanis dan visioner Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno (Bung Karno), dalam meletakkan fondasi kesehatan bagi generasi penerus bangsa. Hal itu disampaikan dalam kuliah umum bertajuk “Pemikiran Geopolitik Bung Karno” dalam rangka Dies Natalis ke-27 UBK di Aula Ir. Soekarno, Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Dalam pemaparannya, Hasto menjelaskan bahwa Bung Karno telah memikirkan masa depan Indonesia melalui perhatian terhadap kesehatan anak-anak. Menurutnya, pembangunan bangsa yang dicita-citakan Bung Karno selalu berangkat dari upaya menciptakan generasi yang sehat secara jasmani maupun rohani.
Sebagai wujud nyata kepedulian tersebut, Bung Karno menginisiasi Konferensi Dokter Anak Asia-Afrika. Forum internasional itu digagas untuk membahas berbagai pendekatan ilmiah dalam menciptakan generasi muda yang sehat, cerdas, dan mampu menjadi kekuatan bangsa di masa depan.
Hasto menuturkan, Bung Karno memahami bahwa kecerdasan anak sangat berkaitan dengan kualitas gizi yang diterima sejak usia dini. Karena itu, hasil pemikiran dari Konferensi Dokter Anak Asia-Afrika diarahkan pada upaya pemenuhan kebutuhan pangan bergizi bagi masyarakat.
Dari kesadaran akan pentingnya gizi dan kekayaan pangan lokal, Bung Karno kemudian menggagas lahirnya buku Mustika Rasa. Hasto menegaskan bahwa buku tersebut bukan sekadar kumpulan resep masakan, melainkan dokumen strategis yang merekam kekayaan kuliner Nusantara sebagai bagian dari kedaulatan pangan nasional.
Buku setebal lebih dari seribu halaman itu memuat berbagai bahan pangan lokal seperti jagung, petai, cabai, kacang-kacangan, tempe, dan tahu. Menurut Hasto, seluruh resep yang dihimpun dalam Mustika Rasa dirancang untuk mendukung pemenuhan gizi masyarakat dengan memanfaatkan sumber daya pangan dalam negeri.
Melalui Konferensi Dokter Anak Asia-Afrika dan buku Mustika Rasa, Bung Karno ingin menanamkan pentingnya kemandirian pangan. Hasto mengatakan Bung Karno secara tegas menolak ketergantungan terhadap pangan impor karena dapat melemahkan kedaulatan politik dan ekonomi bangsa.
Hasto juga menyoroti masih tingginya impor pangan Indonesia saat ini. Ia mengingatkan pesan Bung Karno bahwa rakyat Indonesia tidak boleh bergantung pada pangan dari luar negeri. Acara tersebut turut dihadiri Anggota DPR RI Puti Guntur Soekarno, Romy Soekarno, Once Mekel, Sofyan Tan, Ketua Yayasan Pendidikan Soekarno Muhammad Marhaendra Putra, serta civitas akademika UBK. (din)








Komentar