oleh

Dari Langit Menjaga Bumi: Cara Prajurit Halim Menyemai Napas Kehidupan untuk Jakarta

JAKARTA — Di sela deru pesawat terbang yang membelah langit, ada keheningan yang teduh di tanah Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis pagi (11/6/2026). Hari ini, tangan-tangan kokoh yang biasa menjaga kedaulatan udara Indonesia memilih untuk menyentuh tanah, menggali lubang, dan memeluk bumi.

​Sebanyak 1.300 bibit pohon baru saja berselimut tanah Halim. Bukan sekadar seremoni berfoto, aksi nyata dalam Gerakan Indonesia ASRI ini adalah cara para prajurit TNI AU menitipkan napas kehidupan yang lebih segar bagi ibu kota yang kian berdebu.

​Bagi Komandan Lanud Halim Perdanakusuma, Marsma TNI Ali Gusman, S.T., M.M., setiap pohon yang ditanam adalah sebuah janji kesetiaan kepada tanah air. ​”Kita tidak sedang menanam kayu, kita sedang menanam masa depan,” ujar Marsma TNI Ali Gusman. “Melalui program ini, kita ingin memberi kontribusi nyata yang langsung dirasakan bumi. Ini warisan agar anak-cucu kita nanti masih bisa menghirup udara yang sehat.”

​Gerakan ini terasa membumi karena melibatkan seluruh elemen. Jajaran baret biru melebur bersama, bahu-bahu kokoh para prajurit bersanding dengan sentuhan lembut ibu-ibu PIA Ardhya Garini yang dipimpin Ny. Isna Ali Gusman dan Ny. Desy Putu Setia Darma.

Kehadiran Manajer Persemaian Rumpin, Enjen Jaenal, S.Hut., dan Wakil Komandan Grup 1 Angkut, Kolonel Pnb Wisnu Aji Prabowo, mempertegas bahwa misi ini digarap dengan hati dan ilmu.

​Angka 1.300 ini baru ketukan awal dari sebuah simfoni besar. Lanud Halim telah membulatkan tekad untuk menghijaukan lahan-lahan kosongnya hingga 20.000 pohon secara bertahap.

Nasionalisme yang Tumbuh dari Akar

Jurnalisme modern mengajarkan kita bahwa menjaga bangsa tak selalu lewat senjata. Hari ini, prajurit Lanud Halim Perdanakusuma mengingatkan kita semua, mencintai Indonesia berarti juga merawat tanah tempat kita berpijak.
​Saat senja jatuh di Halim, 1.300 bibit itu mulai mengakar. Kelak, mereka akan tumbuh besar, menyaring polusi, menahan air, dan menjadi payung hijau bagi Jakarta. Dari ujung landasan pacu, sebuah pesan sejuk dikirimkan ke seluruh negeri—bahwa Indonesia yang asri, harus dimulai dari kepedulian hari ini. (*/aga)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *