oleh

Dr. Rudyono Minta Wisudawan UTA 45 Jakarta Selalu Berbakti Kepada Orang Tua

JAKARTA – Perguruan tinggi tertua nomor tiga di Indonesia, Universitas  17 Agustus 1945 (UTA 45) Jakarta mewisuda 247 sarjana berbagai fakultas dan jurusan, magister serta doktor di Klub Kelapa Gading, Jakarta Utara, kemarin.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Perguruan Tinggi 17 Agustus 1945  Jakarta, Dr Rudyono Darsono SH MH mengemukakan, para wisudawan agar selalu mengingat peran dan jasa orang tua setelah lulus kuliah.

“Orang tua dan keluarga turut berjuang hingga mengantarkan  kita sampai wisuda. Ayah dan ibu bekerja keras agar bisa membiayai kuliah anaknya. Kini, setelah wisuda selayaknyalah ingat semua jerih payah itu, berbaktilah kepada orang tua yang telah  bekerja keras tersebut,” pesan Rudyono Darsono pada sambutannya di hadapan ratusan wisudawan.

Hadir dalam wisuda yang berlangsung meriah namun khikmad itu  Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah III Dr Henri Togar Hasiholan Tambunan SE MA, Wakil Rektor III Michael Matthew BSc MH, Dubes Timor Leste HE Roberto Sarmento D’ Oliviera Suares, Dr Sihar Tambun SE MSi Ak, Ketua Pelaksana Wisuda Dr Wagiman SFil SH MH, dan para guru besar serta dosen UTA 45 Jakarta.

Rudyono Darsono mengatakan sistem pendidikan kita saat ini masih memiliki beberapa kelemahan. Namun dia berharap alumni UTA 45 Jakarta bisa tetap tampil beda, menjadi generasi milenial yang dapat mengambil peran penting menuju Indonesia Emas tahun 2045.

“Sadar atau tidak bahwa saat ini sistem pendidikan kita telah dirusak demokrasi. Namun alumni-alumni UTA 45 saya harapkan jangan mau dibelenggu oleh sistem yang rusak tersebut,” ujarnya.

Sesuai tema wisuda UTA 45 2025 berbunyi Unggul, Berkarakter dan Berintegritas,  maka wisudawan/ti UTA 45 Jakarta dituntut siap bersaing dengan segala kemampuan, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, nasionalisme, patriotisme, kejujuran dan profesionalisme agar menjadi manusia yang bermanfaat.

Sistem pendidikan yang baik, lanjut dia, berfokus pada pengembangan potensi secara menyeluruh (holistik) melalui pembelajaran yang dipersonalisasi, lingkungan yang aman dan mendukung, serta relevan dengan kebutuhan masa depan. Sistem ini menciptakan pemerataan akses, mutu tinggi, efisiensi, dan relevansi dengan tuntutan zaman, seperti melalui peningkatan profesionalisme pengajar dan pemanfaatan teknologi.

Berkat gembelangan pengajar yang handal itu pula, Alfina Nabila meraih predikat mahasiswa terbaik UTA 45 dengan IP 3,98. UTA 45 Jakarta yang berdiri sejak tahun 1952 terus mengupayakan hal itu dengan meningkatkan kompetensi pengajar melalui pelatihan dan sertifikasi serta  memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan mengurangi kesenjangan akses pendidikan. “Wisuda ini bukan akhir, melainkan titik awal perjalanan karier ke depan,” pungkas Rudyono.

Rektor UTA 45 Jakarta, Prof apt Diana Laila R, MFarm, PhD menambahkan, wisudawan/ti UTA 45 Jakarta  dituntut pula membawa dan menjaga nama baik UTA 45 dalam memasuki Indonesia Emas 2045.

“Kalian harus terus belajar dan beradaptasi. Uang kuliah yang dikeluarkan orangtua selama ini sifatnya DP dari mereka untuk beli tiket maju, yang nantinya akan dikembalikan lagi kepada orangtua. Dalam upaya meraih sukses tidak ada kata-kata menyerah, hanya lelah saja dan beristirahat sejenak guna beranjak maju lagi,” kata Diana Laila mengingatkan.

Sang Rektor berharap dan menginginkan almamater hanya mendengar berita baik-baik saja dari alumninya. “Jadikan wisuda ini awal yang indah. Terutama mengingat pencapaiannya yang tidak mudah. Kalau sampai hari ini tidak selesai dan putus kuliah, tentu bukan sesuatu hal yang bisa dilewatkan hanya dengan tangis. Raihlah masa depan dengan terus belajar dan belajar,” ujar Diana.

Dalam kesempatan itu, Rudyono Darsono dan Diana Laila R mewisuda tersendiri Dr Muhammad Ikhwan (almarhum) dengan diwakili istrinya Hj Siti Hasanah. Siti memuji UTA 45 yang menjunjung tinggi kemanusiaan. Dia berjanji bakal mendaftarkan di UTA 45 sebagai mahasiswa S2.

Ketua Yayasan UTA 45 Jakarta Bambang Sulistomo MSi menambahkan, untuk menyelesaikan perkuliahan boleh jadi ada yang terpaksa pinjam online (pinjol). Hal-hal semacam bisa terjadi karena tri dharma perguruan tinggi kita tertinggal sedemikian jauh. “Banyak generasi muda yang tidak bisa kuliah karena tiada biaya,” ungkapnya.
Dia mengkritik kata-kata yang menyebutkan rakyat Indonesia kini berdaulat. “Dimananya berdaulat, buktinya buaya kuliah mahal,” kritiknya.

Meski biaya kuliah mahal, Bambang Sulistomo berpesan kepada para wisudawan agar menghindar jadi koruptor jika kelak berhasil menjadi pejabat, abdi negara atau pengusaha. “Saya sangat tidak menginginkan alumni UTA 45 Jakarta menjadi koruptor,” tegasnya. (aga/mk)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *