MEDAN — Riuh mesin truk di Jalan Lintas Sumatera, Sei Balai, mendadak senyap pada Minggu (17/5) malam. Di bawah temaram lampu jalanan, sebuah operasi penyergapan presisi berlangsung cepat. Bukan drama baku tembak, melainkan ketajaman intelijen gabungan yang berhasil memutus salah satu urat nadi penyelundupan barang bekas ilegal di Sumatera Utara.
Aparat gabungan yang terdiri dari Den Intel Komando Daerah TNI AL (Kodaeral) I Belawan, Bea Cukai, BAIS TNI, dan Den Intel Kodam I Bukit Barisan membuktikan bahwa sinergi lintas sektoral bukan sekadar jargon di atas kertas. Hasilnya konkret: dua unit truk pengangkut 110 koli ballpress pakaian bekas ilegal senilai Rp770 juta berhasil diamankan.
Mengendus Jejak di Jalur Tikus
Operasi ini bermula dari informasi intelijen yang matang. Memanfaatkan kelengahan petugas di hari libur, para pelaku mencoba menyelundupkan komoditas yang jelas-jelas dilarang oleh negara. Namun, pergerakan mereka sudah masuk dalam radar.
Saat dihadang, dua sopir dan seorang kernet truk tak berkutik. Di balik terpal kendaraan mereka, bertumpuk-tumpuk kain bajakan yang masuk tanpa dokumen kepabeanan sah—sebuah pelanggaran nyata terhadap Pasal 102 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Kepabeanan.
Catatan Hukum & Nilai Sitaan:
- Total Barang Bukti: 110 koli pakaian bekas ilegal (ballpress).
- Estimasi Kerugian Negara/Nilai Barang: Rp770.000.000,-.
- Status Pelaku: 2 sopir dan 1 kernet diamankan untuk penyidikan mendalam.
- Lokasi Pelimpahan: Tempat Penimbunan Pabean (TPP) Kanwil DJBC Sumatera Utara, Belawan.
Sisi Humanis: Menjaga Nafas Industri Lokal dan Kedaulatan Ekonomi
Di balik angka sitaan yang mencapai ratusan juta rupiah, ada isu yang jauh lebih besar dan menyentuh hajat hidup orang banyak. Ballpress ilegal bukan sekadar urusan baju bekas murah; ini adalah “hama” yang perlahan membunuh industri tekstil dalam negeri, UMKM lokal, dan jutaan buruh jahit yang menggantungkan hidup dari benang lokal.
Dengan menggagalkan penyelundupan ini, aparat gabungan tidak hanya menegakkan hukum, tetapi juga sedang melindungi keringat para perajin lokal agar produk mereka tetap memiliki ruang untuk bernafas di pasar sendiri.
Visi Tegas dari Pimpinan Tertinggi
Keberhasilan operasi ini merupakan pengejawantahan langsung dari instruksi Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal), Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali. Dalam berbagai kesempatan, Kasal selalu menekankan bahwa TNI AL tidak boleh lengah dan harus terus memperkuat koordinasi lintas sektoral.
”Kita tidak bisa berjalan sendiri. Jaga keamanan wilayah, tindak tegas segala bentuk pelanggaran hukum yang merugikan negara,” demikian garis tegas yang selalu ditekankan jajaran pimpinan TNI AL.
Kini, malam di Lintas Sumatera mungkin telah kembali tenang. Namun, pesan yang dikirimkan dari operasi Sei Balai ini sangat nyaring dan jelas bagi para penyelundup: Ruang gerak Anda sudah habis. (aga/fs)







Komentar