JAKARTA — Di balik dinding-dinding kokoh Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia, sebuah keputusan besar baru saja diketuk. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo resmi menunjuk Brigjen Pol. Tubagus Ami Prindani, S.I.K., M.Si., sebagai Wakil Kepala Densus 88 Antiteror (Wakadensus 88) Polri.
Langkah strategis pada Mei 2026 ini seketika menjadi buah bibir dan magnet perhatian publik. Bukan sekadar karena posisi tersebut sempat lowong, melainkan karena sosok yang dipilih adalah penembak jitu dalam dunia intelijen yang tumbuh dari filosofi kedamaian.
Tubagus Ami Prindani bukan sekadar deretan pangkat dan tanda jasa. Ia adalah narasi tentang ketekunan, ketajaman, kepribadian rendah hati dan sisi humanis yang jarang terekspos dari ketatnya dunia penanggulangan terorisme di Indonesia.
Pemuda Desember yang Menjaga Indonesia
Lahir pada 21 Desember 1974, Ami—sapaan akrabnya—tumbuh menjadi pemuda yang menyerahkan garis takdirnya pada pengabdian negara. Menempuh pendidikan di Akademi Kepolisian (Akpol) dan lulus pada tahun 1997, ia tergabung dalam Angkatan Wira Pratama, sebuah batalyon elite yang kini mulai mendominasi tampuk kepemimpinan tinggi Polri.
Perjalanan karier pria berusia 51 tahun ini adalah cetak biru dari sebuah proses yang matang. Di Densus 88, ia tidak melompat ke puncak secara instan. Ami adalah perwira lapangan yang merangkak dari bawah. Ia pernah memegang komando sebagai Kepala Satuan Tugas Wilayah (Kasatgaswil) DKI Jakarta—sebuah posisi panas yang menuntut kewaspadaan 24 jam penuh demi menjaga jantung ibu kota dari segala ancaman infiltrasi ideologi radikal.
Dari sana, jalurnya kian tak terbendung. Pada tahun 2021, ia dikukuhkan sebagai PS. Direktur Pencegahan (Dircegah) Densus 88 AT Polri. Keberhasilannya dalam merajut program pencegahan membuat pangkat bintang satu resmi bertengger di pundaknya pada September 2022 lewat Surat Telegram STR/722/IX/KEP/2022.
”Mencegah Bom Sebelum Terbakar”: Sisi Humanis Sang Jenderal
Jika banyak orang membayangkan Densus 88 hanya lekat dengan rompi antipeluru, senjata laras panjang, dan pendobrakan pintu, maka Brigjen Tubagus Ami membawa warna yang berbeda. Saat menjabat sebagai Direktur Pencegahan, ia adalah arsitek di balik layar yang mengedepankan pendekatan soft approach.
Bagi Ami, medan pertempuran sejati melawan terorisme bukanlah di lapangan terbuka, melainkan di dalam isi kepala manusia.
“Terorisme adalah kejahatan transnasional. Menyelamatkan satu nyawa dari paparan ideologi ekstrem melalui edukasi dan kerja sama, jauh lebih mulia daripada harus melumpuhkan mereka ketika bom sudah di tangan,” menjadi prinsip yang kerap menggema dalam arahannya. Ia percaya pada dialog, pada sentuhan kemanusiaan, dan pada proses deradikalisasi yang memanusiakan manusia.
Namun, jangan ragukan ketajamannya. Pada Februari 2024, ia digeser menjadi Direktur Intelijen (Dirintel) Densus 88 AT Polri. Di posisi ini, kemampuan Ami diuji untuk membaca pola-pola senyap, mengurai benang kusut jaringan radikal internasional, dan menghentikan ancaman bahkan sebelum rencana itu sempat ditulis di atas kertas.
Gelombang Emas Angkatan 1997
Promosi Ami sebagai orang nomor dua di Densus 88 juga menegaskan posisi tawar letting Akpol 1997 yang kian bersinar. Di angkatannya, Ami berjalan beriringan dengan figur-figur hebat. Salah satunya adalah Irjen Pol. Mahmud Nazly Harahap, sahabat satu letting-nya yang kini melesat menjadi meteor angkatan dengan pangkat bintang dua di Badan Intelijen Negara (BIN).
Hingga medio 2026, fajar keberuntungan terus menaungi alumni Wira Pratama. Sebanyak tujuh perwira terbaiknya kini telah sukses ‘pecah bintang’. Selain Ami dan Mahmud Nazly, ada nama Brigjen Pol. Arif Budiman—perwira berpengalaman reserse yang pernah mengawal Wakil Presiden Jusuf Kalla sebagai ajudan—serta Brigjen Pol. Fadillah Zulkarnaen, Brigjen Pol. Djoni Djuhana, Brigjen Pol. Chris Reinhard Pusung, dan Brigjen Pol. Donny Adityawarman.
Menatap Masa Depan Penanggulangan Teror
Kini, lembaran baru telah dibuka. Berdasarkan Surat Telegram mutasi Polri tertanggal 7 Mei 2026, Brigjen Pol. Tubagus Ami Prindani resmi menduduki kursi Wakadensus 88 AT Polri. Pengamat kepolisian menyebut duet kepemimpinan di Densus 88 saat ini sebagai kombinasi paling ideal yang pernah dimiliki Polri: perpaduan antara intelijen taktis yang agresif dan pencegahan yang humanis.
Tantangan di depan mata tidaklah ringan. Di era digital, sel-sel teror tidak lagi hanya bergerak di hutan atau rumah kontrakan tersembunyi, melainkan bermutasi melalui algoritma media sosial dan pendanaan mata uang kripto.
Namun, bagi seorang Tubagus Ami Prindani, tugas baru ini adalah panggilan jiwa. Dengan ketajaman intelijen di otak dan prinsip kemanusiaan di dada, Sang Pemburu dalam Senyap ini siap membawa Densus 88 terbang lebih tinggi—menjaga agar langit Indonesia tetap damai, dan memastikan setiap anak bangsa bisa tidur dengan nyenyak tanpa rasa takut. (aga/fs)







Komentar