oleh

Sidang Impor Baja ‘Geger’, Saksi Cabut BAP Merasa Ditekan saat Diperiksa Penyidik Jaksa

POSKOTA.CO – Sidang kasus impor baja Kementerian Perdagangan dibuat heboh dan mencuri perhatian para majelis hakim lantaran keterangan saksi Johanes yang menyatakan hampir semua keterangan di Berita Acara Pemeriksaan (BAP) tidak benar dan dirinya ditekan serta diancam saat pemeriksaan oleh jaksa penyidik.

Dalam kesaksian di persidangan, Yohanes Ari Bardono mengungkapkan penyidik selalu berkata. “Kamu masih punya anak kan, pengen pulangkan. Terus ada beberapa penyidik datang bertiga, berempat. Saya tidak membacanya lagi karena penyidik bilang cepat diparaf,” ungkap saksi Yohanes dalam persidangan Senin petang 12 Desember 2022 di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat.

Oleh karenanya, saksi Yohanes menambahkan bahwa apa yang tertuang dalam BAP itu bukanlah keterangan asli dirinya, sebab dia langsung disodorkan agar cepat langsung menandatangani BAP.

Atas keterangan saksi Yohanes membuat semua pengunjung sidang tersontak kaget, begitu halnya para terdakwa, penasehat hukum maupun Jaksa Penuntut Umum itu sendiri.

Namun salah satu JPU menolak bila BAP saksi Yohanes di cabut dengan alasan sudah ditandatangani oleh saksi. “Mohon ijin yang mulia. Kami keberatan atas pencabutan keterangan saksi ini, karena BAP sudah ditandatangani,” ucap salah satu Jaksa.

Namun Ketua Majelis Hakim, Sri Hartati, spontan justru meminta agar dalam persidangan berikutnya menghadirkan penyidik yang memeriksa Johanes.

“Nanti saudara buktikan di sini, Tadikan saksi mengatakan ada paksaaan. Buktikan paksaan di sini (ruang sidang). Siapa penyidikinya, di sini Pola Martua. coba bawa ke sini kasi intelnya nanti dibuktikan dalam persidangan berikutnya,” jawab Sri Hartati, Ketua Majelis menanggapi permohonan JPU tersebut.

Sebelumnya, salah satu penasehat hukum terdakwa menanyakan perihal ucapan saksi yang sempat memberikan keterangan atas pertanyaan JPU bahwa keterangan di BAP bukannya keterangan sesungguhnya meskipun BAP itu benar ada.

“Saudara saksi Johanes. di BAP nomor 21 tanggal 24 mei 2022 saudara jelaskan bahwa untuk mulai kapan mengenal taufik saya lupa. Namun dikarenakan taufik sering datang di kantor direktorat impor lantai 3 gedung dua pada kementerian perdagangan, dari sinilah saya bisa mengenal Taufik. Dan Taufik datang ke kantor Direktorat Impor untuk bertemu Tahan Banurea, namun untuk apa pertemuan tersebut saya tidak mengetahuinya. Taufik tersebut adalah anak buah Budi Hartono Linardi yaitu seorang importir. Apakah ini benar keterangan saudara,” tanya penasehata hukum.

Yohanes menjawab itu tidak benar. “Saat itu saya dibawah tekanan Pak. Saya tidak kenal dengan Taufik dan tidak pernah melihat Pak Taufik bertemu dengan Pak Tahan Banurea,” terang Yohanes.

Saksi Yohanes juga mengatakan dirinya tidak tau benar terdakwa Budi Hartono Linardi memberikan uang atau sesuatu kepada Andreansyah (kasubdit) atau terdakwa Tahan Banurea atau kepada yang lainnya, karena dirinya tidak pernah melihatnya ataupun mendengar.

Kendati demikian, saksi Yohanes membenarkan bahwa dirinya kenal dengan terdakwa Budi Hartono karena pernah datang ke gedung kementerian pPerdagangan dan sempat memberikan kopi. Bahkan dirinya pernah menawarkan agar terdakwa membeli sapi Qurban yang ditawarkan saksi namun terdakwa tidak jadi membali.

TANGGAPAN TERDAKWA

Terdakwa Taufiq, menanggapi keterangan Yohanes yang ada dalam BAP di nomor 21 tanggal 23 dan 24 Mei 2022. “Saya ingin menanggapi keterangan BAP Yohanes  nomor 21 tanggal 23 dan 24 bulan lima. “Saya tidak pernah ketemu Johanes dan tidak pernah ketemu ataupun mengenal sama sekali dengan Tahan Banurea,” ujar Taufik.

KETERANGAN SAKSI

Sementara itu, pengacara Tahan Banurea yakni Gunawan, Nila Paramita dan Kartika secara bergantian menanyakan para saksi apakah mereka melihat atau mendengar bahwa terdakwa Budi Hartono dan terdakwa Taufiq memberikan sesuatu atau uang kepada terdakwa Tahan Banurea, serta sejauh mana peran terdakwa sebagai Kasubag apakah bisa membuat rekomondasi atau hanya sekedar paraf dalam hal surat menyurat.

Semua saksi yang disebutkan penasehat hukum menjawab mereka tidak pernah melihat ataupun mendengar bahwa terdakwa Budi Hartono dan Taufiq memberikan uang kepada terdakwa Tahan Banurea. Begitu juga peran terdakwa Tahan Banurea hanya sebatas memparaf surat yang masuk tidak bisa memberikan rekomondasi, sedangkan surat keluar bukan lagi kewenangan Kasubag Tata Usaha.

Sedangkan saksi-saksi yang dihadirkan dalam sidang tersebut yakni Moga Simatupang (Direktur Impor Dirjen Daglu), Arie Rahmatika (Analis Perdagangan Ahli pada Direktorat Impor), Dwi Wahyono (Analis Perdagangan Ahli pada Direktorat Impor), Rully Syah Rizal (Analis Perdagangan Ahli Madya para Direktorat Impor).

Hira Nur Syahadah (Sekretaris Direktur Impor Dirjen Daglu), Rudi Dewanto (Honorer di Bagian TU Direktorat Impor Kemendag), Yohanes Ari Bardono (Honorer di Bagian TU Kemendag), Fikri Maulana (Mantan Honorer bagian Surat Keluar TU Direktorat Impor),H. Rochayat (Staf TU Administrasi Umum pada Direktorat Impor), Achmad Chotib (Pengembang Layanan Sistem Inatrade).(d)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *