oleh

Saksi Disuruh Terdakwa Fikri Salim Palsukan Tanda Tangan Pemilik PT JMC

POSKOTA.CO – Fakta baru terungkap dalam sidang kasus penggelapan dana puluhan miliar milik PT Jakarta Medica Center (JMC) dengan terdakwa Fikri Salim. Sidang itu digelar di Ruang Sidang Kusumah Atmadja Pengadilan Negeri (PN) Kelas IA Cibinong, Kabupaten Bogor, Senin (18/1/2021).

Fakta baru itu diungkapkan saksi Soni yang juga berstatus tahanan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cibinong. Soni mengaku diminta oleh terdakwa Fikri Salim untuk memalsukan tanda tangan Prof Lucky Azizah selaku pihak pemilik PT JMC untuk pengurusan izin hotel di kawasan Cisarua Puncak Bogor dan rumah sakit di Kecamatan Cibinong.

Dalam keterangannya, saksi Soni Priadi mengaku, jika dirinya ikut andil dalam persoalan kasus ini. Pihaknya yang diawali dipekerjakan secara sepihak oleh terdakwa Fikri Salim sebagai pekerja freelance.

Di mana dalam pengurusan izin hotel di Cisarua, Soni diminta untuk memalsukan tanda tangan atas akta pendirian hingga pengambilan sertifikat di notaris tanpa adanya surat kuasa dari pemilik asli. “Itu semua atas permintaan Fikri Salim,” kata Soni di persidangan.

Sementara saksi lainnya yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) adalah Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bertugas di Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Bogor, Adi Mariadi. Kata saksi terkait kasus ini pihaknya sejak 2018 lalu diminta untuk membantu terdakwa Fikri Salim dalam pengurusan izin Analisis Dampak Lalu Lintas (Andal Lalin) Hotel di Cisarua dan rumah sakit di Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor.

Dalam pengurusan kedua lokasi itu, saksi Adi mengaku, dirinya menerima uang dari terdakwa Fikri Salim sebesar Rp50 juta. “Saya mengenal Fikri Salim sejak 2017 sebagai kontraktor. Kami kenal saat makan siang di Dinas PUPR Kabupaten Bogor. Pada 2018 saya dimintai tolong untuk mengurus izin Andal Lalin Hotel di Cisarua dan rumah sakit di Cibungbulang,” ungkapnya.

Saksi Adi merinci, dari total nominal Rp50 juta yang diterima dirinya dari Fikri Salim dibagi menjadi dua pengurusan. Rp30 juta dianggarkan untuk mencari konsultan yang diberikan pada Maret 2018, selanjutnya Rp20 juta diperuntukkan dalam pengurusan izin Andal Lalin RS di Cibungbulang.

Uang itu diterima saksi dari terdakwa Fikri Salim pada tahun 2019 silam. “Untuk Andal Lalin belum selesai karena terkendala berkas yang kurang lengkap Pak Hakim,” ujarnya.

Dalam kasus ini, Fikri Salim didakwa melakukan penggelapan sekaligus pidana Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Motifnya dengan cara melakukan klaim bon dan kuitansi palsu melalui Syamsudin yang menjadi direktur keuangan di PT Jakarta Medika.

Dana hasil kejahatan itu ditransfer ke rekening Syamsudin sebesar Rp165 juta, ke rekening Zainudin sebesar Rp50 juta dan ke rekening Rina Yuliana Rp361 juta. Total dana yang digelapkan terdakwa Fikri Salim mencapai Rp577 juta.

Kasus penggelapan ini menurut JPU Anita terjadi pada tahun 2019 saat PT Jakarta Medika merencanakan pembangunan rumah sakit di Cisarua Kabupaten Bogor. Saat itu terdakwa menaikkan harga barang keperluan untuk pembangunan gedung tersebut.

Selain itu, pengurusan izin yang sebelumnya untuk pembangunan rumah sakit belakangan berubah menjadi izin hotel. Akibatnya rencana pembangunan rumah sakit menjadi terbengkalai. (omi)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *