oleh

Rekomendasi Amdal Lalin Diabaikan Terdakwa Fikri Salim

POSKOTA.CO – Biaya konsultan membuat Analisis Dampak Lingkungan Lalu Lintas (Amdal Lalin) dibayar kontan dalam dua kali pembayaran sebesar Rp200 juta. Amdal dibutuhkan untuk pembangunan Hotel Famili di Jalan KH Abdullah bin Nuh No 2 Cilendek, Bogor Barat, Kota Bogor.

“Jadi staf saya dihubungi Bu Rina Yuliana, minta dibuatkan Amdal Lalin. Lalu saya ajukan penawaran Rp250 juta, ditawar dan deal Rp200 juta,” kata Dirut CV Parama Prima Consult Adi Imron Rosadi saat menjadi saksi pada sidang lanjutan kasus pemalsuan surat dan penipuan dengan terdakwa Fikri Salim (FS) dan Rina Yuliana (RY) di Pengadilan Negeri (PN) Bogor, Jumat (15/1/2021).

Selain saksi Adi, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan saksi lain, yakni Khairul Salim, sopir proyek yang dikepalai FS. Dua orang saksi ini mengikuti sidang secara virtual.

Sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Arya Putra Negara Kutawaringin mencecar saksi Adi terkait hubungannya dengan kedua terdakwa. Saat ditanya, saksi mengajukan penawaran Amdal Lalin untuk hotel atau rumah sakit, saksi Adi tegas menjawab untuk hotel.

“Dari dokumen yang diberikan bu Rina dalam bentuk flasdisk, tertera jelas untuk hotel famili beralamat di Jalan KH Abdullah bin Nuh, Bogor Barat,” tegas Adi.

Dalam dokumen pengajuan itu, tambah Adi, tertera nama Lucky Azizah sebagai pemohon pengajuan Amdal Lalin. Rina yang diketahuinya adalah orang yang mengurus perizinan untuk Hotel Famili.

“Kalau terdakwa Fikri Salim saya tidak mengenalnya. Fikri Salim saya tau, dia pengembangnya. Kalau dengan Bu Rina saya mengenal melalui staf saya pada tahun 2017,” jawab Adi.

Sementara itu, kuasa hukum Rina Yuliana menanyakan kepada saksi, mengapa saksi dipakai sebagai konsultan Amdal Lalin Hotel Famili. Saksi Adi menjawab tidak mengetahui alasannya.

“Siapa yang menyuruh Bu Rina memakai jasa konsultan saya, saya tidak tahu. Tapi
semua pekerjaan sudah selesai. Kami serahkan pada instansi terkait, lalu muncul rekomendasi BPTJ agar melengkapi syarat yang kurang. Tapi sejak Maret 2019, kami tidak bisa menemui Rina dan Fikri Salim sebagai pengembang, kami minta syarat kesanggupan menyelesaikan rekomendasinya,” jelas Adi.

Sementara saksi Khairul menyebutkan, saksi sebagai sopir proyek sering diminta mengantarkan Fikri Salim dan Rina Yuliana ke sejumlah tempat. Khairul mengaku sering melihat Fikri Salim dan Rina Yuliana bertemu. Terkadang keduanya berangkat satu mobil yang dia sopiri. Terkadang, dirinya diminta menjemput Rina Yuliana.

“Jadi saya hanya menjalankan apa yang disuruh Pak Fikri, saya juga pernah diminta ambil uang di Klinik Sudirman dan diserahkan ke Pak Fikri,” ungkap Khairul.

Saat ditanya hakim ke mana lagi saksi pernah mengantar, Khairul menjawab ke Jakarta Utara untuk membeli diesel bekas dan ke Parung Bogor untuk membeli pipa bekas dan diantar ke proyek pembangunan RS Graha Medika, di Jalan KH Abdullah bin Nuh, Bogor.

“Lokasi proyeknya di daerah Yasmin Bogor, saya yang antar diesel dan pipa bekas tersebut ke sana,” jawab Khairul.

Ketika hakim menanyakan saksi barang yang dibeli itu untuk hotel atau rumah sakit. Khairul menjawab untuk rumah sakit.

Baik Fikri Salim dan Rina Yuliana saat ditanya apakah keberatan dengan kesaksian kedua saksi yang dihadirkan JPU. Terdakwa Fikri Salim menjawab, untuk saksi Adi Imron tidak ada keberatan, sebaliknya keterangan saksi Khairul keberatan.

Sementara terdakwa Rina Yuliana mengatakan, tidak ada keberatan atas pernyataan kedua saksi tersebut. Sidang akan dilanjutkan pada Senin (19/1/2021) dengan agenda pemeriksaan terdakwa. (omi)

 

 15 total views

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *