oleh

Waspadalah dan Ingat terhadap Kematian

ALLAH Subhanahu Wataala telah berfirman, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS.Ali Imran, 185). “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. an-Nisa, 87). “Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula).” (QS. az-Zumar, 30).

Ketahuilah, bahwa memperbanyak mengingat kematian adalah perkara yang dituntut dan sangat dianjurkan oleh agama, karena yang demikian itu banyak mengandung faedah dan manfaat. Di antaranya, memendekan harapan, zuhud di dunia, puas (qanaah) dengan yang sedikit, cinta kepada akhirat dan memperbanyak bekal. Kematian bukanlah sesuatu yang menyebabkan seseorang menjadi malas, putus asa, dan meninggalkan pekerjaan. Karena mati adalah fase perpindahan dari alam dunia ke alam akhirat. Hikmah yang terkandung di dalam hadits-hadits dan riwayat-riwayat mendorong kita untuk banyak mengingat kematian adalah supaya kita memanfaatkan sebesar-besarnya kesempatan hidup ini di jalam Allah.

Dengan demikian, kita akan beramal semata-mata karena Allah, dan melakukannya dengan penuh kesungguhan. Manakala bangun di tengah malam, Rasulullah Saw. juga sering menyeru, “Telah datang maut dengan segala kehebatannya. Telah tiba masa sangkakala, yang di ikuti pula dengan janji kebangkitan.” Tatkala Rasulullah Saw. ditanya tentang siapakah orang yang pintar di antara manusia, beliau menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang memperbanyak mengingat kematian, dan senantiasa siap untuk menerima kematian. Mereka itulah orang-orang yang pintar. Mereka telah kembali ke Rahmatullah dengan membawa kemuliaan dunia dan kesejahteraan akhirat.”

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Orang yang paling zuhud adalah orang yang selalu mengingat kuburan (mati) dan kebinasaan serta meninggalkan perhiasan dunia yang mewah karena memilih pahala (kehidupan akhirat) yang abadi daripada perhiasan dunia yang pasti binasa. Juga tidak menganggap bahwa hari esok adalah harinya, dan ia menganggap (berkeyakinan) bahwa dirinya pasti mati.” (HR. Baihaqi melalui adh-Dhahhaq secara mursal).

Barang siapa yang selalu mengingat mati-kematian dan kefanaan, serta meninggalkan kehidupan duniawi yang mewah karena lebih memilih pahala akhirat, dan ia menganggap dirinya besok pasti mati, maka ia adalah orang yang paling ber-zuhud.

“Setiap yang bernyawa, pasti akan menemui kematian.” Kematian kita bukanlah perkara biasa dan juga bukan akhir segalanya bagi kita. Benar bahwa kematian adalah kepergian jasad dari alam dunia. Namun, pada saat yang sama, kematian merupakan faktor penting yang mendorong seseorang melakukan amal dan kebajikan dengan segera di dunia ini.

Jika kita tahu bahwa kita akan mati pada saat yang telah ditentukan, maka tentu akan terpangpang dihadapan kita sebuah tantangan: Bagaimana menjadikan kesempatan yang ada ini sebagai kesempatan emas untuk beramal di jalan Allah hingga kelak menjadi bekal yang menyelamatkan di alam akhirat. Jika kita tidak memanfaatkan dunia ini untuk memperbaiki akhirat kita, jika kita tidak menjadikan dunia sebagai ladang bagi akhirat kita, maka kita akan ditertawakan oleh dunia. Kita akan merugi dan menyesal jika tidak melakukan amal-amal shaleh, yang salah satunya adalah berhubungan baik dengan saudara-saudara seagama dan dengan sesama manusia.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Perbaikilah urusan dunia kalian dan beramallah untuk akhirat kalian seakan-akan kalian akan mati besok.” (HR. ad-Dailami melalui Anas r.a.).

Perintah untuk memperbaiki urusan duniawi dalam hadits ini ialah agar yang halal dapat dijadikan bekal untuk kehidupan di hari kemudian. Dalam hal ini Allah Swt. berfirman, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan), dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.” (QS. Al-Qashash, 28:77).

Dalam hadits yang lain Nabi Shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu hidup untuk selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan kamu mati besok.” (HR. Ibnu Asakir).

Makna hadits ini merupakan tamsil yang menggambarkan kehidupan duniawi dan kehidupan ukhrawi, yakni bagaimana seseorang menjalani kedua kehidupan tersebut. Pengertian tamsil ini tersirat melalui lafaz Ka-annaka yang dalam ilmu Balaghah dinamakan sebagai sarana Tasybih (sarana untuk menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lainnya). Mengingat hal yang diserupakan merupakan suatu hal yang mustahil, karena tiada seorang manusia pun yang hidup untuk selama lamanya, maka di pakailah Ka-anna yang artinya: seakan-akan kamu benar-benar akan hidup selamanya.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Sebaik-baik orang di antara kalian adalah orang yang tidak meninggalkan urusan akhiratnya demi urusan duniawinya, dan pula tidak meninggalkan perkara duniawinya demi perkara akhiratnya, dan tidak mau menjadi beban bagi orang lain.” (HR. al-Khathib melalui Anas r.a.)

Demikian pula masalah mati besok, hal ini merupakan suatu yang mustahil, karena sesungguhnya tiada seorang pun yang mengetahui di mana dan kapan kita akan mati. Masalah mati hanya diketahui oleh Allah. Allah Swt. telah berfirman, “Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.” (QS. Luqman, 34).

Berdasarkan uraian di atas maka makna lahiriyah hadits ini menjadi seperti, “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau masih punya banyak waktu untuk mendapatkannya; dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau tidak punya waktu lagi untuk menangguhkannya. Ungkapan ini dimaksudkan untuk mengingatkan manusia yang sering melalaikan tujuan hidupnya karena kesibukannya dalam mengumpulkan harta duniawi dan bermegah-megahan, sebagaimana diingatkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya, “Bermegah-megahan telah melalaikan kalian, sampai kalian masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui (akibat perbuatan kalian itu).” (QS. At-Takaatsur, 102: 1-3)

Jadikanlah kehidupan di dunia ini sebagai sarana untuk mencapai kebahagiaan yang abadi di akhirat karena sesungguhnya kehidupan di akhirat itu merupakan kehidupan yang hakiki.

“Hari ini adalah saat untuk beramal dan bukan saat untuk dihisab, dan besok adalah saat untuk dihisab dan bukan saat untuk beramal.” Kalau demikian keadaannya, maka mulai sekarang marilah kita perbaiki hubungan kita dengan Allah SWT. Mari kita perbaiki urusan akhirat kita, dengan menjadikan dunia sebagai ladang bagi akhirat kita. Memperbaiki hubungan dengan sesama saudara dan sesama manusia adalah bagian terbesar dari memperbaiki urusan dunia, yang berarti memperbaiki juga urusan akhirat. Wallahu A’lam bish Shawab.

Drs.H. Karsidi Diningrat M.Ag

* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung.
* Anggota PB Al Washliyah Jakarta.
* Mantan Ketua PW Al Washliyah Jawa Barat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *