oleh

Terdakwa TPPU Rina Yuliana Divonis 12 Tahun Penjara, Denda Rp5 Miliar

POSKOTA.CO – Terdakwa Rina Yuliana divonis 12 tahun penjara dan denda Rp5 miliar atau subsider tiga bulan dalam kasus Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dan penggelapan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Cibinong Kelas IA Kabupaten Bogor, Jumat (19/2/2021).

Vonis ini lebih ringan tiga tahun dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) selama 15 tahun penjara dan denda Rp5 miliar atau subsider enam bulan kurungan.

“Terdakwa Rina Yuliana terbukti turut serta melakukan tindak pidana penggelapan yang merugikan hak lain. Atas dasar itu, majelis hakim PN Cibinong menghukum terdakwa 12 tahun penjara ditambah denda Rp5 miliar. Apabila denda tidak dibayar maka tambahan hukuman selama enam bulan kurungan,” kata Ketua Majelis Hakim Irfanudin saat membacakan putusan di Ruang Sidang Kusuma Atmadja PN Cibinong Kelas IA Kabupaten Bogor.

Menurut majelis hakim, terdakwa Rina Yuliana terbukti menerima uang Rp361 juta dari terdakwa utama Fikri Salim yang bersumber dari uang milik PT JMC. Dalih mengurus perizinan berupa bangunan ruko atau hotel di Kampung Sukamulya RT 01 RW 01 Desa Kopo, Kecamatan Cisarua Kabupaten Bogor, namun hingga kini tak kunjung selesai.

Setelah membacakan putusan yang berlangsung selama tiga jam, majelis hakim memberi kesempatan kepada penasihat hukum dan terdakwa untuk pikir-pikir atau menerima putusan atau mau mengajukan banding selama tujuh hari setelah putusan dibacakan.

Dalam sidang ini, semula terdakwa utama dalam kasus TPPU dan penggelapan ini Fikri Salim yang dituntut oleh JPU selama 18 tahun penjara dan denda Rp5 miliar dan subsider enam bulan kurungan itu, dijadwalkan divonis secara bersamaan dengan terpidana Rina Yuliana. Namun majelis hakim menunda dan dibuka kembali pada Senin, 22 Februari 2021.

Sebelum menutup sidang, Ketua Majelis Hakim Irfanudin menanyakan terdakwa Fikri Salim, apa masih ada keberatan. Tawaran itu dipakai Fikri Salim untuk melakukan upaya pembelaan tambahan yang diterima oleh majelis hakim.

Dalam kasus ini, Fikri Salim didakwa melakukan penggelapan sekaligus pidana Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Motifnya dia melakukan klaim bon dan kuintansi palsu melalui Syamsudin yang menjadi direktur keuangan di PT Jakarta Medika.

Dana hasil kejahatan ditranfers ke rekening Syamsudin sebesar Rp165 juta, ke rekening Zainudin sebesar Rp50 juta dan ke rekening Rina Yuliana Rp361 juta. Total dana yang digelapkan terdakwa Fikri Salim mencapai Rp577 juta.

Kasus penggelapan ini, menurut JPU Anita, terjadi pada tahun 2019 saat PT Jakarta Medika merencanakan pembangunan rumah sakit di Cisarua Kabupaten Bogor. Saat itu terdakwa menaikkan harga barang keperluan untuk pembangunan gedung tersebut.

Selain itu, pengurusan izin yang sebelumnya untuk keperluan izin rumah sakit belakangan berubah menjadi izin hotel. Akibatnya rencana pembangunan rumah sakit menjadi terbengkalai. (omi)

 

 41 total views

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *