oleh

Pemerintah Butuh Kolaborasi untuk Wujudkan Kualitas Kesehatan Masyarakat Indonesia

 

JAKARTA – Plt Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kementerian Koordinator  Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Budiono Subambang menyampaikan, pemerintah terus berupaya mewujudkan masyarakat Indonesia yang sehat secara menyeluruh.

Budiono Subambang menyampaikan, ada beberapa aspek kesehatan yang saat ini menjadi fokus pemerintah untuk mewujudkan pembangunan kesehatan secara menyeluruh. “Yaitu penanganan stunting, kabupaten/kota sehat, peningkatan pelayanan kesehatan, penanganan tuberkulosis, dan imunisasi dasar lengkap,” katanya di Jakarta, Rabu (22/5).

Pertama, untuk penanganan stunting, Budiono menyampaikan bahwa pemerintah terus berkomitmen untuk mempercepat penurunan stunting dan mencapai target 14 persen di tahun 2024. “Karenanya, emerintah terus mengebut penanganan stunting serta menggencarkan intervensi sensitif dan spesifik,” tandasnya.

Selain itu juga penguatan koordinasi dalam penanganan stunting serta penguatan data juga dilakukan. “Termasuk juga menekankan pentingnya pemeriksaan kesehatan untuk ibu hamil dan melakukan penimbangan dan pengukuran bayi,” ujar Budiono dalam kegiatan Deputy Meet The Press, di Ruang Media Center Kemenko PMK.

Kedua, pelaksanaan kabupaten/kota sehat. “Kabupaten dan kota sehat sangat erat kaitannya dengan pembangunan manusia yang menentukan sehatnya SDM di daerah. Utamanya, dalam siklus pembangunan manusia aspek-aspek penanganan kesehatan seperti penanganan stunting, kesehatan ibu, anak, remaja, dan lansia menjadi kunci penting dalam pembangunan manusia,” paparnya.

Ketiga, peningkatan pelayanan kesehatan. Pemenuhan alat kesehatan dibagi menjadi 3 kegiatan, yaitu: Strengthening of Primary Healthcare in Indonesia, di tingkat primer (puskesmas, pustu dan posyandu), Strengthening Indonesia’s Health Care Refferal Network, di tingkat rujukan (rumah sakit), Indonesia – Public Health Laboratory System Strenghtening, di laboratorium kesehatan masyarakat (labkesmas).

Keempat, penanganan tuberkulosis, pemerintah terus berupaya untuk menurunkan kasus TB di Indonesia dengan mendorong keterlibatan seluruh stakeholders mitra pentaheliks dan menyediakan pedoman kepada mitra untuk berkontribusi dalam penanggulangan TBC sesuai Buku Pedoman Kemitraan Percepatan Penanggulangan Tuberkulosis dan Buku Aksi PROTEKSI (Program Terpadu Kemitraan Penanggulangan Tuberkulosis). Dengan keterlibatan multisektor diharapkan akan dapat mempercepat penurunan insiden TBC.

Kelima, imunisasi dasar lengkap. Budiono menjelaskan, upaya untuk meningkatkan cakupan imunisasi dasar lengkap adalah untuk mencegah kesakitan, kematian dan kecacatan permanen akibat penyakit pada anak indonesia. Cakupan imunisasi dasar lengkap yang rendah dan tidak merata, menjadikan banyak daerah di Indonesia berisiko terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I), termasuk penyakit Poliomyelitis.

Pada awal tahun 2024 telah dilaporkan kasus Poliomyelitis di Kab. Sampang, Kab. Pamekasan, Kab. Klaten, Kab. Sleman, untuk menanggulangi telah dilakukan Sub PIN pada tgl 15-22 Januari dan 19-25 Februari 2024. Namun kemudian dilaporkan kembali kasus Poliomyelitis di Kab. Asmat, Kab. Mimika, Kab. Nduga, sehingga akan dilakukan PIN Polio di enam Provinsi Papua pada tanggal 27 Mei 2024 untuk mencegah penularan polio pada anak di wilayah tanah Papua. (din/jo)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *