DANDIM DAN KAPOLRES NGETRIL BERSAMA

POSKOTA.CO – Puluhan Bikers Kodim 0809/Kediri dan Polresta Kediri, beruji nyali menyusuri jalanan lereng gunung wilis, yang terletak di Kecamatan Grogol. Dandim

PURNAMA PRAMBANAN ke- 80

Pulang bersama rembang petang Semua sudah aku kabarkan Semua sudah aku jelaskan Itu tujuanku temuinya POSKOTA.CO – Mengetahui sebuah cinta, merasa diri

PURNAMA PRAMBANAN ke- 79

Ini cinta yang sama namun berbeda Bayu telah membuat dua wanita ini saling bercerita. Mereka saling menggegam dan menitikkan air bening dari

PURNAMA PRAMBANAN ke- 78

Semua tergambar kembali Setiap sudut di rumah itu adalah kenangan Ciuman-ciuman itu hadir di pelupuk Diana bergetar dan berdebar POSKOTA.CO – Tante

PURNAMA PRAMBANAN 77

Lelah membuat nyenyak raga Melayang terbang dalam terang siang Cinta yang sengaja dipatahkan Meminta maaf adalah tujuan Bukan mimpi merenda cinta dalam

PURNAMA PRAMBANAN ke- 76

Cinta pertama terpenggal Kala itu ia harus temui cinta lain Cinta yang sejak kecil hanya angan Cinta yang membuat malam-malamnya dingin Adakah

PURNAMA PRAMBANAN ke- 75

Gunung es itu telah cair Meleleh mengalirkan air bening dan sejuk Membasahi apa yang dilalui Walau aliran arusnya harus meliuk untuk membuatnya

PURNAMA PRAMBANAN ke- 74

Apapun jalannya Semua punya tujuan sama Hijau biru merah ungu adalah warna Indah terangkai di langit POSKOTA.CO – Sesekali sendok dan garpu

PURNAMA PRAMBANAN ke- 73

Pelukan hangat Wajah ayu di atas kulit keriput dengan rambut memutih yang digelung. Kain batik dan kebaya klasik POSKOTA.CO – Eyang Praja

PURNAMA PRAMBANAN ke- 72

Diana tak bisa ingkar Dada itu bergetar Kenangan indah itu muncul Tanpa ia bisa membendung POSKOTA.CO – Bapak tua pengemudi becak yang

PURNAMA PRAMBANAN ke- 71

Ada irama yang berbeda Lebih lamban namun laras Kesederhanaan dalam setiap wajah Senyum dan sapa di setiap sudut Duduk bersila dengan teh

PURMAMA PRAMBANAN ke-70

Roda-roda besi terus berputar Berderit keras memecah pagi Lajunya terasa melambat Masih gelap dan samar di luar Cinta terpaksa dilupa Seribu alasan

PURNAMA PRAMBANAN ke-69

Ketika harga diri dihempas Luka lara rasa itu pedih Kala itu bukan ingin menangis Tapi marah bukan sebuah kesombongan POSKOTA.CO – Diana

PURNAMA PRAMBANAN ke- 68

Pikiran melayang silam Berapa musim itu berlalu Pergi membawa bilur-bilur Tuk mencari sarang hangat Temui rahim yang simpan dirinya Susu yang ia

PURNAMA PRAMBANAN ke -67

Mencoba memperbaiki Belajar untuk menjadi lebih baik Berusaha adil walau itu tak mungkin Langkahkan kaki lurus ke depan POSKOTA.CO – Sepulang berlibur

PURNAMA PRAMBANAN ke-66

Telah tergambar Di masing-masing hati Taman bunga nan wangi Mekar bersemi kala pagi Mengajak senyum menghias bibir POSKOTA.CO – Setelah puas bermain

PURNAMA PRAMBANAN ke- 65

Angin bertiup membawa nada Melodi lembut menyusupi hati Judul tembang itu enak terdengar di telinga POSKOTA.CO – Diana dan adik- adiknya memeluk

PURNAMA PRAMBANAN ke- 64

Diana melihat dari kejauhan Keluarganya berkumpul Keluarganya bermain pasir dan air Mereka basah tetapi tidak kedinginan POSKOTA.CO – Diana berjalan perlahan ke

PURNAMA PRAMBANAN ke- 63

Pasir dan ombak sarang hangat Cengkrama dan tawa disana Mentari menjadi saksi bahagia Burung elang terbang tinggi di angkasa POSKOTA.CO – Diana

PURNAMA PRAMBANAN ke- 62

Hangatnya seperti sinar mentari Menjalari sudut-sudut ruang hati Ruang Dingin dan gelap itu Kini menjadi hangat dan terang POSKOTA.CO – Tepukan mamanya

PURNAMA PRAMBANAM ke- 61

Matahari tak pernah ingkar janji Dia datang temui dan mencumbui hari Lembut hangat garang lalu mengalah pergi Dia pergi untuk esok datang

PURNAMA PRAMBANAN ke- 60

Malam semakin pekat Laut dan gelap menyatu Air tumpah dari langit menyentuh pasir dalam irama Dan ngin kencang menyelaskan malam Nafas nafas

PURNAMA PRAMBANAN ke-59

Langit sudah berwarna jingga Malam sebentar lagi menyapa Semilir angin mengayun lirih daun nyiur Ombak menyentuh bibir pantai dalam setia dan cinta

PURNAMA PRAMBANAN ke- 58

POSKOTA.CO – Kecipak ombak bergulung nuju tepi Hangatnya pantai dan bau pasir yang khas Birunya lagit kala wajah tengadah Cakrawala adalah batas