Cinta pertama terpenggal
Kala itu ia harus temui cinta lain
Cinta yang sejak kecil hanya angan
Cinta yang membuat malam-malamnya dingin
Adakah cintaku memaafkan cintaku?

POSKOTA.CO – Eyang Praja memberi ijin kepada Diana pergi ke rumah temannya dengan catatan.. Diana harus istirahat terlebih dahulu. Perjalanan dengan kereta api sebuah perkalanan yang cukup melelahkan. Lebih dari 10 jam Diana menempuh perjalanan dari Jakarta ke Yogyakarta. Eyang Praja khawatir cucunya yang cantik ini kelelahan dan jatuh sakit.
” Woek jaga kesehatan ya, main ke rumah temannya jangan sampai malem. Usahakan makan malam kamu sudah pulang ke rumah”
Pesan juga ditujukan kepada Mbak Dewi agar memberi tahu kakaknya Albertus Purnajaya atau yang biasa dipanggil Mas Pur. Eyang ingin keluarganya berkumpul sewaktu Mbak Retno dan Pak Haryadi ke Yogya. Sudah sekian lama kakak beradik ini tidak pernah kumpul, entah berapa musim penghujan mereka tidak pernah bertemu.
Mbok Wongso juga menjadi pemikiran Eyang Praja. Wanita tua ini hidup sendirian sepanjang hidupnya di sebuah rumah yang sangat sederhana atau layak disebut gubug .Ingin sekali Eyang Praja mengajak Simbok Wongso tinggal di rumahnya. Rumahnya cukup besar, banyak kamar tidurnya namun tanpa penghuni alias kosong.
Rumah Eyang Praja adalah sebuah rumah yang oleh orang Yogya disebut Ndalem. Bentuk bangunan khas jawa dan rumah ini turun temurun telah didiami kaum priyayi. Rumah berarsitektur gaya joglo dengan pohon sawo kecik adalah salah satu ciri rumah kaum priyayi pada jaman dahulu.
” Mbok rumah ini terlalu besar untuk kami tinggali berdua. Kalau simbok mau, tinggalah disini. Siapa tahu Diana tahun depan Kuliah di Yogya.”
” Simbok sudah seperti ibu bagi cucuku, simbok bisa terus momong Diana kalau mau.”
Mbok Wongso terkejut dan merasa terhormat dengan tawaran Eyang Praja. Tidak menyangka, di hari tuanya ia bisa dan boleh menghabiskan sisa hidupnya di sebuah Ndalem yang sangat mewah untuknya.
” Terimakasih ndoro putri, ini sebuah anugerah bagi simbok. Saya bahagia boleh meneruskan momong Diana”
Setelah sarapan dan perbincangan di meja makan yang cukuo panjang rampung, Diana mandi keramas dan istirahat di kamar tidur. Sejenak ia memang tertidur karena lelah yang mendera. Rencananya pergi ke rumah Mas Bayu sudah bulat.
Apapun yang terjadi ia siap menghadapi. Yang terpenting bagi Diana adalah, ia ingin menjelaskan tentang pintu yang ia kunci lalu ia patahkan kuncinya.
Mengurai atau menjelaskan sebuah persoalan hal penting untuk Diana. Agar ia tidak hidup dengan ganjalan-ganjalan. Diana merasa bersikap tidak adil kepada Mas Bayu ketika ia begitu saja pergi tanpa pamit meninggalkan Yogya dengan cinta terpatah!
(Bersambung)







Komentar