Gunung es itu telah cair
Meleleh mengalirkan air bening dan sejuk
Membasahi apa yang dilalui
Walau aliran arusnya harus meliuk untuk membuatnya basah

POSKOTA.CO – Lega adalah sebuah rasa, senyum adalah akhirnya dan air mata disini titik awal bahagia. Meja makan di sebuah rumah tua yang asri di Jalan Gamelan Lor itu berubah menjadi sebuah pesta suka cita. Tak sia-sia Mbok Wongso memasak Gudeg komplit untuk momongan yang sangat dikasihinya. Ditariknya sudut bawah kain kebayanya ke arah matanya, Mbok Wongso ikut memgelap air bening yang mengalir.
” Terimakasih Eyang, maaf dan perdamaian akan Diana kabarkan kepada mama dan Papa Hary”
” Kalau perlu perkawinan ditunda agar mama dan Papa bisa sowan eyang terlebih dahulu.”
” Mama dan papamu juga harus nyekar ke kuburan eyang kakung woek. Biar dari atas sana eyang kakungmu memberi restu dan ikut bahagia”
” Iya eyang, semoga Ajeng dan Asih juga bisa ikut ke Yogya. Pasti adik-adik senang bisa melihat eyangku yang ayu”
” Tante ikut bahagia, selama ini diam dan tidak bisa berbuat banyak. Diana kamu juru damai yang dikirim Gusti Allah rupa-rupanya”
” Rumah ini pasti akan hangat kembali, sekian lama aku dan ibu hidup dalam dingin dan sepi”
Mbok Wonso yang menyaksikan Diana tumbuh besar dan menyaksikan derita yang dialaminya, tak tahan untuk diam. Akhirnya Iapun angkat bicara walau sambil nangis! Tangis wanita sederhana tapi kaya cinta.
” Gusti Allah memang maha adil dan Maha baik woek. Sekarang kamu bisa tersenyum lega. Simbok ikut seneng, sekarang kamu sudah tidak kelaparan, kepanasan dan kedinginan”
” Dulu simbok sering nangis sembunyi-sembunyi kalau kamu datang ke rumah. Kamu datang kepada simbok dengan sebuah keluhan lapar atau sakit. Simbok sering enggak tega melihat kamu cah ayu”
” Makasih ya Mbok, Simboklah yang membuat Diana kuat menjalani hidup dan yang menyelamatkan Diana. Jadi apa aku mbok, kalau tidak dibawa pulang ke rumah simbok”
Eyang Praja, Mbak Dewi, Diana dan Mbok Wongso kembali ke tempat duduk masing-masing setelah acara sarapan terhenti sesaat. Setelah acara saling berpelukan usai, mereka meneruskan sarapan dengan riang. Diana menambah nasi lagi dan opor ayam. Gudeg bikinan Mbok Wongso pagi ini rasanya sangat nikmat di lidahnya. ” Eyang, siang-siangan Diana boleh main ke Rumah teman enggak?”
(Bersambung – WITA LEXIA )







Komentar