oleh

PURNAMA PRAMBANAN ke- 74

Apapun jalannya
Semua punya tujuan sama
Hijau biru merah ungu adalah warna
Indah terangkai di langit

prambanan 70POSKOTA.CO – Sesekali sendok dan garpu Eyang Praja terhenti, ia pandangi cucunya bicara dan bercerita. Demikian pula Mbak Dewi dan Mbok Wongso. Bagaimana anak semuda ini bicara tentang kebijaksanaan, bicara tentang mengampuni dan bicara tentang berdamai. Diana bukan sekedar bicara, ia sudah menjalani apa yang dia katakan.

Bahasa yang sudah seragam tentang Mbak Retno membuat perbincangan pagi itu menjadi lebih mudah. Dahulu cerita tentang Mbak Retno mereka simpan dan memilih membiarkan Diana mengetahui sendiri. Mereka tidak tega melukai Diana yang begitu merindukan pelukan hangat seorang mama.

” Biarlah mama mengikuti sebuah jalan yang sama dengan Papa Hari. Yang penting Mama berjalan di jalan yang lurus”

” Diana sudah melihat dengan mata kepala sendiri Eyang, Mama ku berjalan di jalan yang berliku dan dia tersesat di sana”

” Selama ini malam-malamnya adalah malam maksiat dan ternyata itu karna sebuah amarah. Mamaku marah atas sebuah rasa ketidakadilan yang ada dalam hidupnya”

” Setelah aku belajar memahami mamaku dan bukan minta dipahami, Diana mulai belajar dan berproses dengan meletakkan damai di hati eyang”

Getar damai, kasih dan hangat yang Diana buat membuat seisi rumahnya tergetar berujung pada terurainya benang kusut hidup menjadi benang lurus yang siap digunakan dalam menapaki hidup dan kehidupan. Tidak ada yang perlu merasa malu atau dipermalukan.

Jika ada seorang manusia ingin berubah, jika ada manusia ingin maju, jika ada manusia ingin bertobat, kenapa harus malu?
” Kita harus mendukung mamaku untuk menjadi lebih baik. Tidak menghakimi apa lagi mengolok jalan yang telah ia pilih”

” Eyang ikhlas jika demikian woek. Eyang merestui karema restu itu hak seorang anak. Hanya eyang punya satu syarat, mamamu dan papamu suruh sowan eyang sebelum menikah!”

Betapa bahagia hati Diana, serasa ada air sejuk dengan kembajg setaman mengguyur tubuh, hati dan pikirnya. Kembang setaman yang menebar mewangi di seluruh penjuru mata angin. Diana melompat dari kursinya dan memeluk Eyang Praja, mbak Dewi dan Mbok Wongso. Tangis meledak di meja makan!
” ini tangis bahagia kita semua eyang”
( bersambung BY. wita lexia )

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *