oleh

PURNAMA PRAMBANAN ke- 73

Pelukan hangat
Wajah ayu di atas kulit keriput dengan rambut memutih yang digelung.
Kain batik dan kebaya klasik

ILUSTRASI
ILUSTRASI

POSKOTA.CO – Eyang Praja dan Diana sama-sama mengusap air bening yang keluar dari sudut mata masing-masing. Mbak Dewi menyaksikan adegan di depan matanya tak kalah haru. Bahasa dalam pikir mereka sekarang sama tentang Mbak Retno. Bahasa yang dahulu tanpa kata tanpa wicara, semua diam dan membiarkan.

” Diana lapar Yang, sarapan dulu yuk. Mandinya nanti saja setelah makan”
” Iya woek, eyang dan tantemu juga lapar. Eyang sudah siapkan gudeg komplit bikinan Mbok Wongso”
” Hah, ada Mbok Wongso? Mana Mbok Wongso Yang?
” Iya woek, simbok kesayanganmu ada di dapur. Sedang nyiapin sarapan, aengaja eyang panggil agar bisa bertemu dengan kamu”
” Diana kangen simbok….”

Setelah meletakkan tas tangannya, Diana lari ke arah dapur mencari Mbok Wongso. Pertemuan yang mengharukan tentu saja. Diana memanggil Mbok Wongso dengan setengah berteriak. Simbok yang ikut andil membuka jalan kehidupannya yang baru. Atas jasa Mbok Wongsolah Diana bisa bertemu mamanya dan juga eyangnya.

” Simbok…dimana mbok? Diana kangen simbok”
Mbok Wongso meletakkan irus/ sendok sayur yang sedang dia pegang. Ia akan menyendok gudeg dan akan meletakkan ke meja makan ketika mendengar suara momongannya. Mbok Wongso menoleh ke arah suara panggilan dan menghambur menyambut rengkuhan Diana.
” Diana kangen mbok”
” Simbok juga kangen”

Keberadaan Mbok Wongso di rumah Eyang Praja merupakan kejutan untuk Diana yang dipersiapkan oleh eyang dan tantenya. Mereka tak ingin merenggut cinta Mbok Wongso kepada momongannya. Bertahun-tahun cinta sederhana Mbok Wongso terjalin indah untuk Diana.

Pagi begitu indah dan cerah, cicit burung di pohon sawo kecik mengiring sarapan dengan menu gudeg komplit. Ada sambal goreng krecek yang pedas, gudeg nangka yang manis, opor ayam kampung yang gurih dan telur pindang yang berwarna merah kehitaman yang gempi/ legit.

Matahari pagi yang hangat masuk hingga ke meja makan melalui jendela besar serta kokoh yang terbuat dari kayu jati tua. Meja makan bundar dari marmer sangat indah dan klasik, menambah lesat gudeg komplit di atasnya. Perabotan rumah Eyang Praja serba antik dan terawat dengan baik.
” Eyang mama mau menikah resmi dengan Papa Harry”
(Bersambung By : Wita Lexia )

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *