oleh

Ternyata Angka Kematian Akibat Gagal Jantung Lebih Tinggi Dibanding Kanker

POSKOTA.CO – Gagal jantung menjadi salah satu masalah kesehatan yang sangat serius di Indonesia. Diperkirakan sekitar 4 sampai 5 persen dari total jumlah penduduk Indonesia mengidap penyakit ini.

Tetapi umumnya masyarakat kurang memahami penyakit gagal jantung. “Orang awam lebih mengenal jantung coroner, jantung kelainan bawaan, genetic dan lainnya. Padahal gagal jantung merupakan komplikasi akhir dari semua jenis penyakit jantung,” kata dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Siloam Hospitals Kebon Jeruk dr. Leonardo Paskah Suciadi, Sp.JP, FIHA pada temu media bertema Pelayanan Terpadu Klinik Gagal Jantung Siloam Hospitals Kebon Jeruk, Sabtu (8/5/2021).

Menurutnya penyakit gagal jantung atau payah jantung lebih memprihatinkan. Sebab angka kematiannya lebih tinggi dibanding penyakit kanker pada umumnya kecuali kanker ovarium, paru dan pancreas. “Berdasarkan data penelitian kami di Siloam Heart Institute dalam kurun waktu 2019 – 2020, sekitar 3% pasien gagal jantung meninggal selama perawatan di rumah sakit dan sekitar 22.5% pasien lainnya meninggal dalam waktu 6 bulan setelah pulang rawat. Usia harapan hidup pasien gagal jantung lanjut sangat rendah, bahkan lebih buruk dari usia harapan hidup sebagian besar pasien kanker pada umumnya,” lanjut dr Leonardo.

Gagal jantung merupakan gangguan pada otot jantung yang menyebabkan ketidakmampuan jantung untuk memompa darah secara optimal ke seluruh tubuh. Kondisi ini mengakibatkan tidak tercukupinya kebutuhan berbagai organ tubuh akan suplai darah.

Karena itu seseorang yang terkena penyakit gagal jantung mengeluhkan gejala-gejala seperti sesak napas, napas tersengal-sengal dan mudah lelah saat beraktivitas, bengkak kedua tungkai, dada berdebar, serta perut begah dan membesar yang disertai mual, menurunnya nafsu makan dan berat badan.

Beberapa faktor yang dapat memicu risiko gagal jantung yang harus diwaspadai, antara lain riwayat penyakit jantung koroner atau serangan jantung sebelumnya, hipertensi, penyakit kencing manis atau diabetes, obesitas, kelainan katup jantung, penyakit paru kronik, pecandu alkohol, riwayat keluarga dengan bengkak jantung, serta usia lanjut. Semakin banyak faktor risiko di atas yang dimiliki seseorang, semakin besar risiko untuk menderita gagal jantung.

Karena sifatnya yang menahun dan progresif seiring waktu, penyakit gagal jantung membutuhkan identifikasi segera dan penanganan tepat sejak awal untuk mencapai hasil optimal. Pengobatan gagal jantung sangatlah kompleks dan membutuhkan waktu yang cukup panjang. Oleh karenanya, komunikasi yang baik antara pihak medis dengan pasien dan keluarga pasien sangat penting untuk dibangun sejak awal.

“Pasien dan keluarga pasien harus mendapatkan edukasi dan informasi yang cukup terkait penyakit serius ini, serta memahami rencana terapi jangka panjang. Selain itu, pelayanan multidisiplin subspesialisasi diperlukan pada kasus gagal jantung lanjut karena kompleksitas kasus menuntut pelayanan terapi secara komprehensif, intensif, agresif, dan inovatif,” ujar dr. Paskah.

Berangkat dari kebutuhan akan pelayanan khusus bagi pasien gagal jantung, Siloam Hospitals Kebon Jeruk secara resmi membuka Klinik Gagal Jantung pada 8 Mei 2021. Klinik yang dijalankan oleh tim khusus yang berdedikasi di bidang gagal jantung ini merupakan perluasan dari pelayanan prima poli jantung dan pembuluh darah Siloam Heart Institute (SHI). Tim Klinik Gagal Jantung siap memberikan memberikan informasi penting, edukasi, konsultasi, dan telemonitoring secara efektif dan profesional kepada pasien dan keluarga pasein. Dengan adanya layanan khusus ini, Siloam Hospitals Kebon Jeruk akan memberikan pendampingan lebih optimal dan terpadu untuk kebutuhan terapi pasien gagal jantung. (fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *