oleh

Pesan Bung Karno Jas Merah, Gatot Nurmantyo Ajak Nonton Film G30S/PKI

-Nasional-68 views

POSKOTA.CO –  Trauma dengan suasana batin yang dirasakan generasi pendahulu akibat kekejaman Gerakan 30 September (G30S) Partai Komunis Indonesia (PKI), bagi Gatot Nurmantyo, perlu dihadirkan terus berupa film G30S/PKI setiap bulan September.

“Film G30S/PKI tentang kekejaman pembantaian ke-7 jenderal yang dimasukkan sumur Lubang Buaya di Jakarta Timur menjadi bukti. Dan, kita wajib selalu ingat pesan  dan wejangan bapak bangsa Presiden Soekarno bahwa JAngan Sekali-kali MElupakan sejaRAH atau JAS MERAH,” ujar Presidium Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) itu kepada media, Jumat (25/9/2020).

Dijelaskannya, saat menjadi panglima TNI periode 2015-2017 mengaku telah melihat itu semuanya (kebangkitan PKI) serupa Peristiwa Madiun 1948  dan Peristiwa Lubang Buaya 1965. “Maka saya perintahkan jajaran saya untuk menonton film G30S/PKI,” ujar Gatot dalam video yang dikutip Tempo dan diunggah oleh akun Youtube milik Harsubeno Point pada 21 September 2020.

Di antara tanda-tanda dimaksud Gatot Nurmantyo berupa adu domba antar-anak bangsa, perundungan terhadap ulama dan ustadz, serta perubahan Konstitusi UUD 1945 hingga RUU Haluan Ideologi Pancasila juga usulan baru RUU Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) adalah upaya merendahkan, meremehkan, menyelewengkan, dan menyalahgunakan Pancasila.

SURAT TERBUKA KAMI
Bersamaan itu beredar Surat Terbuka tertanggal 22 September 2020 dari Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) ditujukan kepada Presiden RI, Joko Widodo, yang ditandatangani Presidium seperti Gatot Nurmantyo, Rochmat Wahab dan  Din Syamsudin.

Isi surat terbuka itu di antaranya berharap Presiden Jokowi bersama seluruh rakyat Indonesia ikut merasakan suasana batin keprihatinan & trauma peristiwa makar oleh Partai Komunis Indonesia pada Peristiwa Madiun 1948 & Peristiwa Lubang Buaya 1965.”Kala itu Kaum Komunis membunuhi para ulama, santri, & rakyat tidak berdosa, hanya karena mereka tidak bersetuju dengan ideologi komunisme,” ujar tokoh cendekian Din Syamsudin.

Beberapa waktu terakhir ini, lanjut surat itu, KAMI dan banyak rakyat Indonesia merasa prihatin dan membangkitkan trauma dengan adanya gejala dan gelagat kebangkitan neo komunisme dan PKI Gaya Baru. Sebagian mereka memutarbalikkan sejarah menyalahkan umat Islam, padahal fakta sejarah mengungkap bahwa Kaum Komunis-lah yang mengawali membantai para ulama dan santri, menyerang pelatihan Pelajar Islam Indonesia (PII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), GP Ansor, dan aksi-aksi sepihak PKI terhadap para petani. Mereka juga tidak  ingin mengingkari fakta sejarah bahwa Kaum Komunislah yang membantai para Jenderal TNI. (dk)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *