oleh

Deklarasi KAMI di Jambi Dibubarin Polisi, Din: Semakin Besar Halangan Kian Memacu Semangat Juang

POSKOTA.CO- Meski sejumlah petingginya di­tangkap Polisi, Koalisi Aksi Me­nyelamatkan Indonesia (KAMI) ter­nyata masih hidup. Kemarin, organisasi besutan Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo dan Din Syamsuddin itu menggelar deklarasi di Jambi. Tapi sayangnya, KAMI langsung dibikin “mati”. Acaranya dibubarin Polisi karena tak punya izin.

Deklarasi digelar di Sekretariat KAMI, di kawasan Simpang Pulai Jambi. Ada sekitar 30 orang yang mengikuti acara tersebut. Acara dijadwalkan berlangsung dua jam, dari pukul 14.00 WIB­16.00 WIB. Para petinggi KAMI; Din Syamsuddin dan Rochmat Wahab menghadiri acara ini secara virtual.

Ini deklarasi pertama KAMI usai beberapa petingginya, di antaranya Syahganda Nainggolan, Jumhur Hidayat, dan Anton Permana, ditangkap polisi atas tuduhan penyebaran berita bohong alias hoaks dan ujaran kebencian.

Acara deklarasi masih berjalan lancar ketika Din Syamsuddin menyampaikan sambutan. Namun, ketika giliran Rochmat Wahab menyampaikan sambutan, aparat kepolisian tiba-­tiba datang.

Petugas korps baju cokelat yang be­rada di pintu ruangan deklarasi disambut Presidium KAMI Jambi, Amrizal Ali Munir dan beberapa anggota KAMI. Dalam situasi itu, Rochmat Wahab tetap berbicara memberikan sambutan. Suaranya sempat tumpang tindih dengan suara peserta. Pekik ‘Merdeka’ beberapa kali terdengar.

Sementara Amrizal berupaya menjelaskan kepada kepolisian. Dia bernegosiasi, agar acara deklarasi tetap dilanjutkan. Setelah berdiskusi cukup alot, aparat kepolisian tetap meminta para aktivis KAMI membubarkan diri.

Usai pidato Rochmat Wahab, sebenarnya diagendakan pidato kebang­saan Presidium KAMI, Jenderal (purn) Gatot Nurmantyo. Gatot sudah online di aplikasi Zoom. Namun, karena dibubarkan, Gatot pun batal memberikan sambutannya.

“Gatot baru telepon Presidium Jambi dan kami menyepakati untuk menghentikan acara deklarasi, Kami tinggal potong tumpeng saja,” ujar Admin ruang Zoom Deklarasi KAMI di Jambi, Muhammad Usman, sambil memegang handphone yang digunakan untuk siaran langsung melalui Zoom.

Polisi akhirnya hanya mengizinkan panitia melangsungkan sesi terakhir dalam deklarasi itu, yaitu pemotongan tumpeng. Amrizal bersama anggota KAMI lainnya kemudian melontarkan takbir tiga kali sebelum akhirnya memotong tumpeng.

Apa tanggapan petinggi KAMI? Din Syamsuddin mengatakan, semakin besar halangan dan ancaman terhadap KAMI, justru akan semakin memacu semangat rekan­-rekannya berjuang bagi bangsa “Saya sering katakan, perjuangan ini dalam istilah bahasa Inggris, we are on the point of no return, perjuangan tidak ada titik kembali,” ujar Din.

Deklarasi KAMI di Jambi yang tetap berjalan dengan terbatas usai diminta bubar polisi, kata Din, menjadi bukti semangat pejuang-pejuang KAMI tidak kendur. “Ancaman, halangan, hambatan tidaklah kendurkan semangat kita untuk berjuang,” tegas dia.

Menanggapi hal ini, Pengamat Politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio menyarankan, KAMI untuk menahan diri. “KAMI juga harus bisa lihat situasi. Semua harus dipenuhi, izin harus dipenuhi, protokol kesehatan juga. Tahan diri kalau menang tak dapat izin, deklarasi bisa lewat online,” ujarnya kepada pers.

Pendiri lembaga survei KedaiKOPI ini juga menyarankan aparat kepolisian agar tak terus membubarkan acara KAMI. “KAMI malah nanti makin sehat karena itu jadi kaya vitamin buat mereka,” imbuhnya.

Warganet pun menyebut, KAMI masih hidup, tapi langsung mati. “Wah, KAMI masih hidup, tapi langsung “mati”, deklarasinya di Jambi dibubarkan, duh,” cuit @fathurdoaibu. Akun @DoktrinWabah juga meledek Gatot. “Sepertinya profesi pak Gatot benar benar Gatot, gagal total, dan sebaiknya tidak diberi ruang gerak pada kelompok merusak Indonesia,” kicau dia. (**/ale/sir)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *